
"Kehabisan mangsa lo?" bisik Vino yang berada di samping telinganya.
****
Rainald dan Naumi sudah masuk ke kamar, sedangkan Vino Naura dan Aldi, melangkah menuju ruang keluaga, Naura duduk di sofa, menyenderkan tubuhnya pada dada bidang milik suaminya, yang di balas dengan belaian lembut di kepalanya oleh lelaki itu.
Sedangkan Aldi, lelaki itu duduk lesehan di atas karpet, menatap sebal pada pasangan yang terus memamerkan kemesraannya, "cih, pindah ke kamar lo pada, mata lajang gue ternodai jir!" ujar lelaki itu.
"Aa gimana sama gadis yang waktu itu? tanya Naura dengan tangan yang terus memainkan kancing suaminya.
Aldi mendongak, menatap Naura, "oh dia baik kok," jawab lelaki itu datar.
"Sebenarnya hubungan Aa sama dia tuh gimana sih, A?" tanya Naura yang begitu kepo.
Vino mengusap kepala istrinya pelan, "udah Yang, jangan di tanyain mulu, lagi galau dianya. Mas kasih tau ya, gadis itu cuma kor-,"
"Diem deh lo!" ucap Aldi dengan cepat, seolah tidak membiarkan lelaki itu melanjutkan kalimatnya.
Naura mengangkat bahunya acuh, "bodo amat deh, biar nanti aja aku tanyain sama Mas Vino," gumam perempuan itu dalam hati.
"Mas, kok aku tiba-tiba pengen Nasi goreng ya?" ujar perempuan itu, dengan sorot mata yang terlihat memelas.
Vino menganga, "loh kamu kan baru aja makan, masa sekarang mau makan nasi goreng?" Vino menggeleng, belakangan ini, istrinya itu seolah tidak pernah merasa kenyang, terlihat dari tubuhnya yang terlihat semakin berisi.
"Yaudah, aku suruh bibi ya? buat bikin," lelaki itu langsung berdiri, namun Naura langsung menahan tangannya.
"Aku maunya nasi goreng yang di jual pake gerobak di depan, tadi aku lihat, kayaknya enak deh," ujar Naura dengan mata yang berbinar.
Vino mengangguk, dirinya langsung kembali mendudukan tubuhnya, di samping istrinya.
"Loh, kok malah duduk, ayo beliin Mas," perempuan itu terlihat merajuk.
Vino mengangkat salah satu ujung bibirnya, "biar Bang Al aja yang beliin, dia mau kok, iya kan Bang?" tanya Vino dengan mengedipkan sebelah matanya pada lelaki yang ada di hadapannya.
Aldi menatap tajam ke arah lelaki itu, "males gue!" kenapa bukan elo aja sonoh yang beli," ujar lelaki itu yang kembali memainkan game di ponselnya.
Vino berdecak, "oke gue deh yang beli, tapi gue gak janji ya kalau kartu as lo-,"
"Berisik lo, iya gue beliin, mana duitnya?" pinta lelaki itu dengan kesal.
Vino terkekeh, "pake duit lo dong, perhitungan banget lo sama calon ponakan."
Aldi mendelik menatap wajah Vino, lelaki itu langsung menyambar kunci motornya.
__ADS_1
"Setau gue, adik ipar tuh baik-baik, hormat, bukannya ngelunjak kaya elo!" gumam lelaki itu sambil keluar dari rumahnya.
Aldi menghentikan motornya, saat melihat seorang gadis yang sedang berdiri di depan gerbang.
Lelaki itu membunyikan klakson motornya, sehingga membuat gadis itu menoleh. Aldi membuka kaca helm motornya.
"Bang Al?" gumam gadis itu, sambil menatap ke arah Aldi.
Aldi tersenyum, "lagi apa kamu? tanya lelaki itu, yang kali ini menelan ludahnya dengan susah payah, karena melihat tampilan gadis itu yang begitu menggoda.
Aldi memalingkan wajahnya, pada mobil yang berhenti di sampingnya.
Kaca mobil itu terbuka, menampilkan sosok wanita yang kini tersenyum ke arah Aldi, "loh kok kalian malah ngobrol di luar?" wanita itu mengalihkan pandangannya pada Nakisya.
"Tadi Kisya antar Kak Doni keluar, terus pas mau masuk ada Bang Al lewat," jawab gadis itu dengan datar.
Widya merotasikan matanya saat mendengar nama lelaki itu, "oh Doni kesini? terus jam segini baru pulang?"
Nakisya mengangguk, dirinya langsung memutar tubuhnya, hendak kembali ke dalam rumah.
"Loh mau kemana kamu?" tanya Widya yang kini turun dari mobilnya, dan memberikan kunci mobil itu pada satpam rumahnya.
Nakisya kembali memutar tubuhnya menghadap Widya, "mau ke dalam, Bund," jawab gadis itu.
Widya melirik jam yang melingkar di tangannya, yang menunjukan angka 21.00, "Nak Aldi emang mau kemana? kok udah jam segini masih lewat kesini?"
Widya tersenyum, "yaudah kalau gitu, cari nasi gorengnya biar di antar Kisya aja, dia tau kok tempat nasi goreng yang enak di sekitaran sini," ujar wanita itu yang kini melirik putrinya.
"Bunda, ini kan udah malam," jawab gadis itu yang secara tidak langsung menolak perintahnya.
Widya mengusap tangan putrinya, "besok kan hari minggu, jadi gak papa lah, kamu anterin dulu Nak Aldinya, masa kamu gak kasian sih?" ujar wanita itu, sambil menatap Nakisya.
Aldi menyadari raut wajah Nakisya, "gak usah, Tante. Saya bisa sendiri kok, kasian Kisya nya, mungkin dia sudah ngantuk," jawab lelaki itu yang langsung di balas anggukan oleh Nakisya.
"Eh gapapa, Kisya juga mau kok, iyakan sayang?" wanita itu mencubit pinggang Nakisya.
"Aww," gadis itu langsung repleks mengusap pinggangnya, "yaudah ayo, tapi aku mau pakai celana panjang dulu," ketus gadis itu sambil melangkah pergi.
Aldi tersenyum, saat Nakisya sudah kembali dengan celana trening dan atasan kaos lengan pendek.
Aldi membuka jaket bomber yang di gunakannya, lelaki itu langsung memakaikanya pada tubuh Nakisya, "pakai ya, biar gak kedinginan."
Nakisya menunduk, melihat jaket lelaki itu, yang kini nampak kebesaran saat berada di tubuhnya.
__ADS_1
Gadis itu mendongak, menatap lelaki yang ternyata sedang menatapnya, kini pandangan keduanya saling bertemu. Aldi merasakan jantungnya yang terasa saling memburu.
"Ekhem, yaudah kalian cepat berangkat," wanita itu mengulum senyumnya, saat melihat keduanya mendadak salah tingkah.
Aldi menggaruk tengkuknya, tersenyum ke arah Widya, "iya Tante, maaf ya saya ajak Kisya dulu sebentar," ujar lelaki itu.
Widya mengangguk, "kalau mau lama juga gak papa kok, Bunda kasih ijin," setelah mengucapkan itu, Widya langsung melangkah menuju kedalam rumahnya.
"Sudah?" tanya Aldi pada gadis yang baru saja duduk di belakangnya.
Nakisya kembali memperbaiki posisi duduknya, "sudah," jawab gadis itu dengan cepat.
"Yaudah turun."
Nakisya mengerutkan keningnya, "maksudnya?"
Aldi terkekeh, "kan katanya udah."
Nakisya berdecak, "yaudah, aku gak jadi nganterin kalau gitu," ujar gadis itu hendak turun dari motor besar Aldi.
Dengan cepat Aldi menahan kedua tangan gadis itu, dan menariknya kedepan, "becanda atuh neng jangan marah, pegangan ya biar gak jatuh," perintah lelaki itu, yang membuat wajah Naiksya menjadi bersemu.
"Jangan nyuri-nyuri kesempatan deh, aku udah biasa kok di bonceng tanpa pegangan," ketus gadis itu yang langsung menarik tangannya.
****
Sementara di tempat lain, seorang lelaki sedang duduk sendiri, karena sang istri sudah lebih dulu meninggalkannya tidur.
Vino berdecak setelah membaca satu pesan yang masuk ke ponselnya, "halah modus aja tuh si bambang," gerutu lelaki itu yang langsung membalas pesannya.
Vino mengatakan, kalau Aldi gak usah jadi beli aja, soalnya Nauranya juga sudah tidur, dan tidak lagi menginginkan nasi goreng itu.
-
-
-
Rate + Like + Koment (tulis aja next, kalau bingung)
**Vote dong, nyang banyak ya๐๐
Biar makin semangat akunya๐๐๐
__ADS_1
Terima kasih๐๐
Salam... Semangat๐ค๐ค**