Tiba-tiba Hamil

Tiba-tiba Hamil
47


__ADS_3

Seorang pria yang sedang duduk di atas kursi roda terlihat sedang berbicara dengan seseorang melalui sambungan telephone, "hari ini, kamu sudah bisa menjalankan semua yang sudah saya perintahkan sama kamu. Kerjakan semuanya dengan cepat tanpa meninggalkan jejak sedikitpun!"


Setelah memerintah pada seseorang yang menjadi suruhannya, Rainald memutuskan panggilannya secara sepihak.


Sepasang tangannya yang sudah bisa berfungsi terlihat mengepal, dengan susah payah, pria itu mencoba berdiri. "Andre! kamu harus merasakan apa yang sudah aku alami," rahang Rainald mengeras saat mengingat kejadian 27tahun yang lalu, saat dirinya sudah memiliki seorang kekasih, dengan sengaja Andre merusak hubungan keduanya, dengan menghadirkan sosok Arya, yang membuat perempuan itu menjadi berpaling. Tidak hanya sampai disitu, setelah beberapa tahun kemudian saat dirinya bertemu dengan Naumi, bahkan sampai menikah, dirinya juga terpaksa harus meninggalkannya, demi menyelamatkan nyawanya.


****


Dua minggu setelah dirinya menempati rumah barunya bersama Naura, wajah Vino semakin hari semakin memabukan bagi setiap karyawati yang melihatnya. Vino berjalan menyusuri setiap ruangan perusahaannya. Hari ini wajahnya tidak lepas dari senyuman, terpancar raut kebahagian dari wajah tampannya.


"Ya ampun, Pak Vino tumben banget balas senyuman gue," jerit batin dari perempuan yang barusan berpapasan dengan Vino.


Riko yang melihat Vino saat melewati mejanya, tanpa sadar ikut tersenyum melihat sahabatnya, "wih, tumben tuh muka, makin kesini makin cerah aja, kayaknya bahagia banget lo ya nikah sama Naura?"


Vino mengangkat kedua bahunya, tanpa menjawab pertanyaan Riko, Vino langsung mendorong pintu, masuk kedalam ruangannya.


Riko menggelengkan kepalanya, saat melihat respon dari sahabat sekaligus atasannya, "lagi seneng aja, elo gak mau cerita sama gue."


Seorang perempuan seumurannya dengan tergesa-gesa menghampiri dirinya, "Pak Riko, ada sesuatu yang penting yang terjadi di perusahaan ini, sebaiknya Bapak segera mengecek, dan memberitahukan kepada Pak Vino."


Riko mendorong pintu ruangan Vino dengan tak sabaran, setelah baru saja dirinya mengetahui berita penting itu. Dengan cepat Riko langsung mendatangi Vino.


Wajah Vino mengkerut melihat kedatangan sahabatnya, Vino bisa melihat raut panik yang terpancar dari wajah Riko.


"Vin gawat, tanpa sepengetahuan kita, ada perusahaan baru yang berhasil dapetin tender besar yang sedang kita incar. Dan perusahaan mengalami kerugian, karena sudah begitu banyak mengeluarkan modal untuk rencana pembangunan ini."


Vino membulatkan bola matanya, mendengar kabar dari sahabatnya, membuat dirinya shock, "bagaimana bisa terjadi, bukanya meeting besar dengan klien baru akan di lakukan besok pagi?"

__ADS_1


Riko menarik kursi yang ada di hadapannya, dan mendudukan dirinya. Dengan wajah yang tak kalah panik Riko menatap wajah atasannya, " itu yang bikin gue heran, Vin. Tiba-tiba sekertaris dari perusahaan yang hampir akan bekerjasama dengan perusahaan kita, membatalkan meeting secara sepihak. Dan yang lebih parah, ternyata dia sudah mendapatkan perusahaan lain yang akan menangani proyeknya. Dan ide pembangunan yang mereka persentasikan, itu sama persis dengan ide yang belakangan ini kita rancang."


Vino menyentuh pelipisnya yang mulai terasa sakit, belakangan ini, dirinya sampai rela pulang malam dan tidak pernah makan siang demi mengerjakan rencana proyek itu.


Dengan wajah serius, Riko yang masih menatap Vino melanjutkan memberitahu Vino, "ada satu hal lagi yang pasti bisa buat elo tidak percaya saat mendengarnya!"


"Katakan!" terpancar sorot penasaran yang menggebu dari mata tajamnya.


"Perusahaan yang dapetin tender itu, perusahaan yang sempat terpuruk milik Wisnutama Grup, dan elo pasti tau kan siapa nama dari pemiliknya? dan gue yakin dengan sangat, di perusahaan ini ada pengkhianat yang menjadi tangan kanan mereka."


Vino mengacak rambutnya dengan gerakan kasar, "kenapa gue sampai kecolongan, bangs**!, beg* banget gue!"


Riko mengerutkan keningnya, tidak mengerti dengan perkataan yang barusan keluar dari mulut sahabatnya.


Vino menceritakan semuanya pada Riko, membuat lelaki itu menghela napas, "kadang kita terlalu terlena dengan kebahagiaan yang kita dapat, sampai kita tidak sadar, ada seseorang yang sedang berusaha merobohkan kebahagiaan kita."


Setlah kepergian Riko dari ruangannya, Vino mengusap wajahnya dengan kasar. Dirinya mengingat perkataan sahabatnya itu, "arghht, dan orang yang sedang menghancurkan kebahagiaan gue, itu ayah mertua gue sendiri."


Kepalanya semakin berat, mengingat beberapa waktu yang lalu, perusahaannya yang selama ini berhasil dia sembunyikan dari keluarganya telah direbut kembali oleh pemiliknya.


"Si*lan, jadi selama ini, kamu masih hidup ternyata!" Andre mengambil ponselnya, menekan beberapa digit angka untuk menghubungi seseorang, "kamu cari tahu keberadaan Rainald, dalam keadaan bagaimanapun, bawa orang itu ke hadapan saya!"


Andre mengendarai mobilnya dengan kecepatan penuh, dirinya akan menuju perusahaan yang lain, yang masih bisa dia pertahankan. Umpatan dengan kata-kata kasar keluar dari mulutnya, saat lampu merah seolah dengan paksa menghentikan kendaraannya.


Andre hendak menginjak pedal gas, saat lampu di depannya berubah kembali menjadi hijau. Namun, dari arah kaca spion, matanya menangkap mobil yang ada di belakangnya, Andre hapal betul siapa pemilik mobil tersebut.


Dengan terpaksa, Andre merubah arah tujuannya, saat mobil di belakangnya terus mengikutinya, "kamu gak boleh mengetahui rahasia besar Papa, dan Papa akan menjadikan kamu sebagai alat untuk merebut kembali apa saja yang sudah Papa miliki.

__ADS_1


Vino mengerutkan keningnya, saat melihat Andre menghentikan mobilnya di depan toko bunga. Saat ini, Vino turun tangan sendiri untuk mengikuti papahnya, dia tau penyebab ayah Naura melakukan semua itu sumbernya karena kelakuan papanya, jadi sebelum dirinya menyalahkan orang lain, dirinya akan berusaha mencari tau dulu akar masalahnya.


Stelah mengambil dan membayar satu buket bunga, dengan langkah cepat Andre kembali masuk kedalam mobilnya.


Andre memarkirkan mobilnya di area parkir rumah sakit. Dengan langkah yang besar, Andre menyusuri lorong rumah sakit, "saya mau ketemu sama istri saya," perawat itu tersenyum ke arah Andre, dia sudah mengenal pria itu, "dokter Anita ada di ruangannya Pak, anda bisa langsung ketemu sama beliau."


Vino melajukan kembali mobilnya, hari ini pengintaiannya terhadap Papanya tidak menemukan hal apapun.


Vino mengambil ponselnya, menghubungi seseorang, setelah panggilannya terhubung, Vino mengaktifkan alat pendengar di telinganya, tanpa menunggu lama, seolah dengan cepat orang yang Vino hubungi segera menerima panggilannya. "Tolong elo handle semua masalah di perusahaan, gue mau pulang."


Riko menghela napas, "akhirnya, gue juga kan yang ngatasin semua ini, bangk* banget gue punya atasan," Riko menatap ponselnya yang dimatikan Vino secara sepihak, dengan kasar dia menaruh benda itu di atas meja kerjanya.


-


-


-


-


-


**Mani rariweh atuh ya mereka😂😂


Votenya dong gaes pake point, gratis kok, di klik ya buat karya ini. Sama like + komentnya juga jan lupa.


Terima kasih😍🤗

__ADS_1


Target hari ini Rank 50. aku bakal up lagi😉🤗


Salam,,,, Semangat**!!!


__ADS_2