Tiba-tiba Hamil

Tiba-tiba Hamil
37


__ADS_3

Seolah bisa membaca raut wajah Vino. Aldi kembali melontarkan kalimatnya. "Tapi gue iklhas kok, seenggaknya, gue cowok yang pertama, yang ada saat Naura butuh. Gue juga yakin, Naura gak pernah kan, minta sesuatu sama elo, Vin?. Buat memenuhi keinginan bayinya." Aldi tersenyum. Melihat Vino diam dengan ekspresi datarnya.


****


Naura terus mondar mandir, ke arah balkon. Sudah hampir tengah malam, Vino belum juga pulang. Bahkan, Vino melewati makan malam bersama Naura di rumah.


Naura menyandarkan tubuhnya di pagar balkon. Sambil menggigit kuku tangannya. "Harusnya, aku senang, kalau Vino gak pulang. Jadi aku bisa tidur dengan tenang, tanpa ada dia. Tapi kok, kenapa aku merasa cemas kalau belum melihat dia." Naura terus menggerutu dalam hati.


Tak lama kemudian, pintu gerbang terbuka. Tampak mobil sport warna hitam masuk ke halaman rumah. "Itu pasti Vino." Dengan wajah yang berbinar, Naura segera melangkahkan kakinya ke dalam kamar.


Naura hendak turun ke lantai bawah. Tapi dia urungkan, karena merasa gengsi. Akhirnya Naura memutuskan untuk kembali, merebahkan tubuhnya berpura-pura tidur.


Vino yang baru masuk kamar, sekilas melirik ke arah ranjang, melihat istrinya yang sedang berbaring. Vino tersenyum, menyadari istrinya itu hanya sedang berpura-pura.


Terlintas pikiran iseng dalam otak Vino. Perlahan dia mendekat ke arah ranjang. Mencondongkan tubuhnya, tangannya mengelus pipi Naura.


"Istri aku udah tidur yah, kesempatan nih." Vino mulai memancing Naura untuk bangun. Vino tersenyum, saat melihat ekspresi wajah Naura yang berubah.


Naura sudah mulai gelisah, saat tangan Vino terus mengelus pipi dan bibirnya.


"Duh, Vino ngapain sih?. Kalau aku bangun, nanti bisa ketahuan aku. Tapi, kalau terus berpura-pura, bisa-bisa nanti aku di apa-apain." batin Naura.


Vino semakin tersenyum menyeringai, dia membuka kancing kemejanya, dan melemparkan kemeja itu ke sembarang arah. Dengan pelan, bibirnya di temp*lkan di bibir Naura, menyesap bagian atas dan bawah bibir itu dengan pelan.


Naura yang akan menyudahi sandiwaranya, malah terbuai dengan perlakuan Vino. Perempuan itu menikmati setiap perlakuan yang di lakukan suaminya.


Vino menggigi* kecil bibir Naura, sehingga istrinya itu membuka sedikit celah mulutnya. Vino yang seolah mendapat respon, dengan pelan, Vino menyentuh bagian sensitif Naura.


Badan Naura menegang, jantungnya berdetak lebih cepat, dia ingin menolak perlakuan Vino. Tapi, tubuhnya justru menikmatinya.

__ADS_1


Cium*n Vino mulai turun ke bagian leher Naura. Tangannya terus bergerak aktif, di bagian-bagian sensitif istrinya.


Naura bangun. Sekuat tenaga, Naura mendorong tubuh Vino dengan keras. "Kamu mau ngapain?" Suara Naura terdengar lirih, mata sayunya menatap mata sendu Vino.


Deg.. Jantung keduanya berdetak dengan cepat. Vino mengambil tangan Naura, "Maafin aku, Ra. Aku tau, aku pernah melakukan kesalahan sama kamu. Dan aku menyesali itu." Mata Vino semakin sendu. "Tapi, kali ini, biarkan aku menebus semua kesalahan aku. Aku ingin kamu, Ra." Vino mencondongkan tubuhnya, bibirnya menyentuh bibir milik Naura.


Naura tidak bisa lagi menahan hasratnya. Dia mulai terhanyut dengan cumbu*n Vino. Impuls bekerja mengenai afektornya, seperti tindakannya ini yang tak pernah dia duga-duga sebelumnya. Tanpa sadar, tangannya dia kalungkan ke leher suaminya. Saking menikmati setiap sentuhan suaminya, Naura tidak menyadari pakaiannya, sudah lepas dari tubuhnya. Kini Naura polos, tanpa sehelai benang satupun yang menutupi bagian tubuhnya.


Tanpa setitikpun yang terlewatkan, Vino terus mengabsen setiap bagian tubuh Naura, dengan bibi*nya. Meninggalkan jejak-jejak kepemilikan. Naura terus melenguh, membuat hasrat Vino semakin memuncak.


Vino mendongak, menatap Naura "boleh?" katanya yang terdengar lirih.


Walau bagaimanapun, lelaki yang ada di hadapannya sekarang, sudah berhak atas dirinya. Naura yang masih malu, hanya tersenyum mengangguk. "Tapi pelan." Pinta perempuan itu.


Naura teringat kata orang, bahwa saat pertama kali melakukan itu, akan terasa sangat sakit. Dia lupa, itu bukan lagi yang pertama untuk dirinya.


Vino terus menggerakan tubuhnya, memandang wajah istrinya yang berkali lipat terlihat lebih cantik, membuat dirinya terus tertantang untuk menyalurkan semua hasratnya.


Naura mengangkat kepalanya. "Vin, kok aku gak sakit ya?." Pertanyaan Naura sungguh membuat Vino ingin tertawa. Sekuat tenaga, Vino mengulum bibirnya. "Kamu lupa ya, ini bukan yang pertama buat kita." Wajah Naura merah padam. Vino kembali menciu* kening Naura.


Seolah teringat sesuatu, Naura mendorong tubuh Vino. "Tadi kamu, gak mandi dulu, jorok banget sih.!" Mata Naura melotot ke arah Vino.


Vino tersenyum jail, "kata siapa?, aku mandi kok, kamu kan tadi tidur, jadi mana tau." Vino menekankan kata tidur. membuat wajah Naura semakin merona.


Naura memanyunkan bibirnya. "Iya deh, tadi aku pura-pura tidur. Tapi kamu malah nyuri-nyuri kesempatan. Mana bau lagi, kamu gak mandi."


Sejujurnya, Naura berbohong. Padahal meskipun Vino berkeringat, badannya tetap wangi. Bahkan Naura malah menyukai wangi keringat Vino. Mungkin itu bawaan bayinya.


Vino langsung berdiri, dengan senyum yang mengembang. "Mandinya sekarang aja. Yuu mandi bareng, mau gak?." Vino mengedipkan sebelah matanya.

__ADS_1


Naura melongo, melihat Vino yang seperti itu. Sejak kapan, suaminya jadi genit. Naura mengambil bantal, hendak melemparkannya ke arah Vino. Tapi, Vino sudah lebih dulu berlari ke dalam kamar mandi.


Didalam kamar mandi, Vino tertawa dengan keras, mengingat tingkah istrinya yang sangat lucu.


Bibir Naura melengkung ke atas. mengingat kejadian yang sudah dia lakukan dengan Vino. Sama sekali, dirinya tidak menyesalinya.


Ponsel Naura bergetar. Dengan cepat, Naura mengambil ponselnya. Senyum Naura terbit saat membaca nama pengirimnya. Ternyata satu pesan masuk dari ibu.


Ibu : Ra, besok kamu datang ke alamat yang nanti ibu kirimkan. Kamu akan tau, siapa Ayah kandung kamu.


Senyum Naura memudar. "Ayah?"


-


-


-


-


-


**Aku up lagi dong, tapi kagak tau, lulusnya jam berapa.


Yakan?, kalau aku ada waktu, pasti aku bakalan nulis.


Makanya, terus kencengin Votenya. Jan kasih kendor. Biar Rangk naik terus, imajinasi akunya lancar terus. Hahaha


Maafkeun yak, episod kali ini, rada-rada gararetek😂😂

__ADS_1


Salam... Semangat**!!!


__ADS_2