Tiba-tiba Hamil

Tiba-tiba Hamil
49


__ADS_3

-


-


-


Pagi sekali, Vino sudah duduk di kursi kerjanya. Tumpukan dokumen di atas mejanya membuat lelaki itu terus menundukan kepalanya.


Drtd,, drtt


Perhatiannya berpaling pada getaran ponsel di samping lengan kanannya.


My wife❤ is calling...


Vino tersenyum melihat nama yang tertera pada layar di ponselnya, emoticon hati di akhir nama itu menandakan betapa spesialnya posisi orang tersebut di hatinya.


Dengan cepat, Vino menggeser tombol berwarna putih ke arah tombol yang berwarna hijau, "hallo, sayang. Kenapa hem?"


Mata Vino menggercap, tatapannya terlihat kosong, saat Naura mengatakan kalau dirinya akan pergi ke rumah ayahnya.


"Yaudah, tapi kamu perginya harus di anterin supir ya!" perintahnya mutlak, Naura hanya mengangguk, meskipun tau lawan bicaranya tidak akan dapat mendengarnya.


Setelah 1 jam perjalanan, akhirnya Naura sampai juga di depan gerbang rumah ayahnya. Bibirnya tersenyum, dari sorot matanya terpancar kebahagiaan saat melihat ayahnya sudah dapat berjalan. Namun, kebahagiaannya hilang seketika, saat melihat dari belakang tubuh ayahnya, ada beberapa orang dengan pakaian serba hitam, dan satu orang yang sedang mengarahkan pistol pada ayahnya. Mata naura terbuka lebar, saat orang itu menyeringai hendak menarik pelatuk pistolnya.


"Ayah, awas!" Dorrr...


Suara tembakan dari pistol jenis revolver menggelegar, darah segar keluar dari bahu sebelah kiri laki-laki yang yang sudah mengorbankan dirinya untuk menyelamatkan Rainald.


Setelah melihat pelurunya mendarat pada orang yang salah, beberapa orang berpakaian hitam itu langsung berlari, menuju mobil mereka.


Flashback on


setelah mendapat ijin dari suaminya, Naura langsung berangkat dengan supir yang mengantarkannya. Jalanan yang tidak terlalu padat oleh kendaraan lain, membuat perjalanan mereka lancar. Namun di luar kehendak, mobil yang di tumpangi Naura mendadak berhenti, "maaf non, sepertinya mobilnya mogok, saya akan coba mengeceknya dulu," kata supir Naura.


Naura yang merasa bosan, karena supirnya belum juga kembali masuk, membuat dirinya turun dari mobil, "gimana Mang? mobilnya masih belum bisa jalan?"


Sang sopir yang bernama Mang Diman mendongak, tangan kanannya mengusap keringat di keningnya, "kayaknya masih lama deh non. Gimana atuh? apa mau saya panggilkan taxi saja?"


Naura menghela napas, namun bibirnya masih tertarik keatas, "enggak usah Mang, biar saya saja yang pesan pake aplikasi."


Naura kembali masuk ke dalam mobil, mengambil tas selempang yang berada di atas jok mobil.


Setelah menutup kembali pintu mobilnya, Naura langsung mencari aplikasi di ponselnya.

__ADS_1


Sebuah mobil parkir di depan mobil Naura, seorang laki-laki terlihat turun dari situ, "Naura, kamu ngapain disini?"


"Aldi, eh iya ini aku mau kerumah ayah aku, tapi tiba-tiba mobilnya mogok," Naura sempat melirik Aldi, namun pandangannya kembali pada ponselnya.


"Yaudah ayo, biar aku aja yang anterin kamu," sorot mata Aldi terlihat serius saat mengatakan itu pada Naura.


Naura menggeleng, "enggak usai Al, ini aku lagi pesen taxi online kok," Naura mencoba menolak.


"Halah kelamaan, ayo biar sama aku aja," Aldi memegang pergelangan tangan Naura, membuat pemiliknya memelotot kearahnya.


"Eh iya, tapi gak usah pegang-pegang juga kali!" Naura menggerutu saat melihat Aldi malah tergelak kepadanya. Tanpa sadar, Naura yang awalnya menolak, malah melangkahkan kakinya saat melihat Aldi yang sudah masuk kedalam mobil miliknya.


Dengan pandangan lurus kedepan, Naura memberi arahan pada Aldi, "entar di depan ada belokan, kamu belok kanan aja."


Setelah mengikuti arah dari Naura, Aldi melirik Naura, "kenapa meski belok sih, Ra?" Aldi tersenyum usil.


Naura mengerutkan keningnya, "maksud kamu?" tatapannya kembali pokus pada jalanan di depannya.


Aldi menghela napas, "iya, kenapa meski belok, kenapa gak lurus aja, kalau kamu lurus entar nikahnya pasti sama aku, bukan sama Vino." Aldi tertawa, padahal itu sama sekali tidak lucu.


Naura merotasikan matanya, "apasih kamu Al? gaje banget. deh."


Flashback off


Mata Vino terbelalak, tubuhnya mendadak lemas, melihat darah yang keluar begitu banyak dari orang yang ada di hadapannya, "kenapa kalian malah diam! cepat, kita harus segera bawa dia ke rumah sakit!"


Beberapa orang penjaga rumah Rainald yang semula tumbang karena berusaha melawan orang-orang yang hendak menyerang Rainald, dengan tertatih membantu Vino untuk mengangkat Aldi.


****


Aldi sudah masuk ruang ICU, Vino terus mengumpati orang-orang yang sudah membuat sodaranya itu kritis. Vino sudah dapat menebak, siapa dalang di balik kejadian itu. "Ternyata Papa benar-benar ngelakuin tindakan gilanya," Tangan Vino mengepal, saat teringat dengan Vidio percakapan papanya di restoran, dengan beberapa orang suruhannya.


Vino yang sudah tidak sabar menunggu sang mama yang sedang bertindak memberikan pertolongan pada Aldi, terlihat beberapa kali mengintip dari balik kaca pintu ruangan itu.


"Vin, Aldi pasti baik-baik saja kan?" Naura yang terlihat sangat panik memperdekat jaraknya pada sang suami.


Vino menarik tubuh Naura, "Aldi pasti baik-baik saja, kita berdo'a pada Allah, semoga Mama bisa nolong Aldi." Sekuat tenaga, Vino terus meyakinkan Naura, meskipun dirinya sendiri juga sangat merasa ketakutan.


Pintu berwarna putih, terbuka lebar. Anita keluar dengan sorot mata yang terlihat panik. Vino yang melihat mamamya langsung mendekat, "Mam, gimana Aldi? dia selamat kan? gak ada yang parah kan yang terjadi padanya?"


Beberapa pertanyaan keluar dari mulut Vino, dengan sorot mata yang tak sabaran, lelaki itu terus menatap sendu wajah mamanya.


Anita menghela napas, mencoba bersikap tenang. Dirinya memang seorang dokter, sudah ratusan bahkan ribuan orang yang dia tangani. Namun saat dirinya di hadapkan dengan keponakannya yang menjadi pasien nya, ada ketakutan yang begitu besar pada dirinya.

__ADS_1


Anita menatap wajah Vino "peluru yang mengenai Aldi, sudah merobek bagian dalam punggungnya. Mengakibatkan Aldi kehilangan banyak darah. Mama harus melakukan tindakan operasi untuk mengambil peluru itu," Anita menundukan kepalanya.


"Terus tunggu apalagi, Mam? kenapa tidak segera di lakukan tindakan?" wajah Vino sudah terlihat merah, menahan amarah sekaligus panik.


"Masalahnya, stok darah di rumah sakit ini tidak ada yang cocok dengan darah Aldi. Apa kamu sudah menghubungi Om Arya?"


Vino mengangguk, matanya melirik pada sosok pria yang sedang berlari ke arahnya. "Mbak, gimana keadaan Aldi?" Arya yang baru datang langsung bertanya pada Anita.


Anita mengatakan kejadian yang sudah menimpa keponakannya.


"Gimana? apa golongan darah kamu sama dengan golongan darah Aldi?" Anita menunggu jawaban Arya yang malah terlihat sedang kebingungan.


"Golongan darah kita beda, Mbak." Arya memundurkan langkahnya, dia mendudukan tubuhnya di atas kursi kayu rumah sakit.


"Mam, apa Mama sudah menghubungi rumah sakit lain, atau PMI untuk menanyakan golongan darah yang sama dengan Aldi?" raut wajah Vino semakin pucat, rasa takut kehilangan pada sosok sepupunya, seolah terlintas di kepalanya.


"Sudah, tapi kebetulan di sana juga sedang kosong," jawab cepat Anita.


Naura yang dari tadi hanya mendengarkan percakapan Anita dan suaminya, akhirnya membuka mulutnya, "memangnya, golongan darah Aldi apa, Mam?"


Anita menatap wajah Naura dengan sendu "AB," jawabnya cepat.


Mata Naura berbinar, "kalau begitu, ambil saja darah aku, Mam, kebetulan golongan darahnya sama."


Anita menyentuh pundak menantunya, "kamu lagi hamil sayang, jadi gak bisa donor darah."


"Kalau begitu, biar saya saja yang menjadi pendonornya."


-


-


-


-


-


**Uluh-ulu, aya-aya wae atuh ya gaes???


Tong hilap, Vote nya dong, di tambahin lagi😔😔, like sama komnt nya juga.


Terima kasih

__ADS_1


Salam... Semangat**!!


__ADS_2