Tiba-tiba Hamil

Tiba-tiba Hamil
63


__ADS_3

Vino mengerutkan keningnya, dia tidak mengerti dengan maksud perkataan lelaki yang baru saja melepaskan timah panas pada kaki Dimas.


"Jebloskan dia ke penjara, pastikan buat dia mendekam selama-lamanya di dalam jeruji besi."


Setelah memerintahkan itu kepada anak buahnya, Vino langsung pergi dari tempat yang menjadi saksi kekejamannya bersama seorang Aldiano Bima Saputra.


Vino berjalan menuju lorong rumah sakit, dirinya sudah tidak sabar ingin segera berjumpa dengan istri tercintanya.


"Hey sayang. Kamu sudah bangun ya ternyata?" Vino melangkah menuju tempat istrinya yang sedang berbaring, tersenyum menyambut kedatangannya.


Naura menatap suaminya, "kamu dari mana aja sih, Mas? dari tadi aku nungguin kamu tau!'


Vino tersenyum, dirinya langsung mendaratkan satu kecupan di puncak kepala istrinya, "tadi aku ada urusan sebentar, maaf ya udah ninggalin kamu, dan buat kamu kesepian."


Naura menyentuh pipi suaminya yang terlihat berkeringat, "gak papa kok, Mas. Tadi ada Mama disini yang nemenin aku,"


Dengan susah payah, Naura memiringkan tubuhnya, mengambil selembar tisu yang ada di sampingnya.


Namun, dengan cepat Vino lebih duku mengambilkannya, "hati-hati kamu, kalau butuh apa-apa kamu ngomong aja sama aku," Vino berucap dengan wajah yang terlihat serius.


Naura mengusap kening suaminya menggunakan tisu yang baru saja dia ambil, "cuma ngambil tisu aja kok, masa harus ngerepotin kamu."


"Iya, tapi kan kata dokter, kamu jangan terlalu banyak bergerak dulu, nanti kam-,"


Ucapan Vino terhenti saat Naura membekap bibir Vino dengan bibir mungil miliknya.


Bibir keduanya terlepas saat pintu terbuka, terlihat seorang wanita yang sedang berdiri dengan kedua tangan yang berada di atas pinggang, "eh, lagi apa kalian! Ingat ya, kata dokter kandungan, kalian jangan dulu ngelakuin gituan.


Naura memundurkan kepalanya, pipinya sudah merah merona menahan malu, karena tertangkap basah oleh mertuaya.


Vino dengan santai malah sengaja, dengan kembali mendaratkan kecupan di pipi istrinya. Vino melangkah ke arah sofa yang ada di ruangan itu, "yaelah Mama, cuma ciuman doang kok, masa gak boleh."


Naura membulatkan matanya, saat mendengar jawaban santai dari suaminya, "bener-bener gak tau malu," geramnya dalam hati.


Anita mengecek keadaan Naura, "iya memang cuma ciuman, tapi kan siapa tau, kejadian selanjutnya bakalan seperti apa. Jangan di kira Mama gak tau ya, gimana buasnya kamu kalau sama Naura."


Vino menggaruk tengkuknya, "kok Mama bisa tau? wah mama suka ngintip ya," Vino sedikit bercanda, dengan menaik turunkan kedua alis matanya, namun mamanya itu hanya membalas dengan tersenyum kecut ke arahnya.

__ADS_1


Kemudian Vino melirik istrinya, "sayang kamu?" Vino menunggu jawaban dari istrinya, namun Naura malah menggeleng. mengangkat kedua bahunya.


"Gak ada yang ngasih tau juga, Mama tetep bisa menebak. Keliatan dari gerak gerik kamu kalau lagi sama Naura. Kamu tuh gak beda jauh, sama kaya papah ka-,"


Anita menghentikan ucapannya, saat dirinya tersadar kalau ternyata dirinya masih mengingat suaminya.


"Ekhem,," Vino dan Naura berdehem, keduanya megulum senyum, saat melihat wajah mamanya sudah berubah menjadi merah merona.


Anita menjadi salah tingkah di depan anak dan menantunya, "Kayaknya Mama ada jadwal operasi. Naura, Mama tinggal dulu ya,"


Anita tentu berbohong, namun dirinya yang sudah terlanjur malu karena tertangkap basah ketahuan masih mengingat pria yang masih berstatus sebagai suaminya, tanpa pikir panjang langsung mencari ide untuk keluar dari ruangan itu.


Naura menggeleng melihat punggung mama mertuanya yang kini sudah tidak terlihat oleh pandangan matanya, "kayaknya Mama masih cinta ya, Mas, sama Papa?" Naura melirik Vino yang ternyata sedang melamun.


Naura menyentil hidung mancung suaminya, "Mas?"


Vino tersentak, "kenapa sayang?" jawabnya sambil tersenyum menatap wajah istrinya.


"Tadi aku nanya, kayaknya Mama masih cinta ya sama Papa? Naura mengulang kembali pertanyaannya.


Vino menghela napas, dirinya langsung duduk di atas ranjang, di samping tubuh Naura "keliatannya sih gitu, toh Papa sebenarnya gak pernah nyakitin Mama, tapi Mama udah terlanjur kecewa banget sama kelakuan Papa, yang ternyata jahat banget sama keluarga kamu," wajah Vino berubah sendu.


Vino mengangguk, buku jarinya mengusap kepala Naura, "Ra, sayang," Vino melepaskan pelukannya dengan pelan, "apa kamu sudah tau kalau ternyata kamu dan-,"


Ucapannya terhenti, saat Aldi masuk ke ruangan itu, "kamu dan kandungan kamu gak papa kan, Ra?" Aldi langsung memeluk tubuh Naura.


Naura sempat tersentak dengan perlakuan lelaki itu, dirinya langsung melirik Vino, namun suaminya itu hanya tersenyum ke arahnya, "tumbenan Vino gak marah saat Aldi peluk aku," batinnya berucap.


"Aku gak papa kok, Al"


"Mulai saat ini, kamu harus panggil Aldi dengan sebutan Kakak," suara dari pria yang baru masuk, membuat Naura melepaskan pelukannya, dan menatap Aldi dan pria itu bergantian.


"Om Arya?" suara Naura terdengar pelan.


Arya tersenyum, dirinya memperdekat jaraknya dengan Naura, "maaf Om baru bisa jenguk kamu."


Naura tersenyum, "gak papa kok, Om. Lagian aku juga gak kenapa-kenapa," masih terlihat ada kebingungan dari sorot mata perempuan itu, "maksud om tadi, apa ya?" Naura menatap wajah Arya.

__ADS_1


****


Naura kembali merengkuh tubuh Aldi yang ternyata adalah kakaknya. Meskipun dirinya belum sepenuhnya mengerti dengan semua ini, tapi dirinya benar-benar sangat bahagia.


Ikatan batin memang tidak bisa di bohongi, meskipun dulu keduanya belum mengetahui tentang status yang sebenarnya, namun keduanya sudah sangat nyaman dengan perasaan yang ada pada dirinya, Naura yang merasakan mendapat sosok seorang kakak dari Aldi. Dan Aldi yang telah salah mengartikan rasa sayangnya pada Naura.


"Berasa nonton sinetron jadinya," Vino terkekeh menyaksikan kejadian haru keduanya, "udah dong, gak usah peluk-peluk gitu. Istri gue itu," Vino menarik bagian belakang kerah baju Aldi dengan keras, sehingga keduanya terlepas dari pelukan yang mengharukan itu.


Aldi menyorot tajam ke arah Vino, "ganggu suasana aja lo!"


Vino mengangkat bahunya acuh, "gue serem saat tau lo kakanya Naura, takut lo apa-apain istri gue, ngeri gue kalau inget kejadian dulu, gimana kalau waktu itu rencana elo beneran berhasil, dan elo-,"


Bugh, "Awww, sakit beg*"


Satu pukulan berhasil mendarat di kepala Vino, "wah bener-bener lo ya, nyesel gue pernah nganggap lo sodara. Bersyukur gue, ternyata lo sodara boongan gue." Vino membetulkan posisi jasnya, yang sebenarnya tidak kenapa-kenapa.


"Tapi gue Kakak ipar lo, kalau lo lupa. Awas lo, mulai sekarang jangan macam-macam lo sama gue!" Aldi berkata dengan membusungkan dadanya.


Arya dan Naura terkekeh menyaksikan pertikaian kedua lelaki itu.


-


-


-


-


-


Itu buat gugatan cerai Bu dokter Anita, mau di lanjut, apa gimana, gaess??😀😀


**Masih di tunggu like, point sama koment nya, ya.


Kalau bingung mau ngoment apa, ketik aja, Next..


sekali lagi, Vote jangan lupa.

__ADS_1


Terima kasih


Salam... Semangat**!!!


__ADS_2