
Setelah menyapa beberapa tamu yang merupakan kenalan bisnisnya, Rainald hendak kembali ke kursi pelaminan, untuk mendampingi putrinya.
Rainald mengukir senyumnya pada sosok wanita yang beberapa bulan yang lalu sudah kembali berstatus sebagai istrinya.
Masih jelas di ingatan Rainald, waktu itu Naumi mengatakan kalau dirinya bersedia menerimanya, dengan syarat untuk sementara wanita itu tidak bisa dulu ikut ke kota, karena menunggu kedua anaknya yang masih bersekolah di kampung.
Meskipun jarak dari kota ke kampungnya Naumi tidaklah dekat, tetapi sejauh apapun itu, jarak bukanlah masalah bagi pria itu.
"Kenapa anda membebaskan saya?"
Rainald menghentikan langkahnya, dengan perlahan melirik ke arah pria yang sedang berdiri menunggu jawaban darinya.
Dengan satu ujung bibir yang tertarik ke atas, Rainald menatap wajah pria itu, "bukan saya yang membebaskan Anda!"
Andre mengerutkan kening, mendengar jawaban dari pria yang ada di hadapannya.
Dengan wajah datar, Rainald melirik sekilas pria itu, "Dokter Anita yang meminta saya untuk mencabut gugatannya."
Deg....
Rainald sempat tertegun, mendengar jawaban itu, pasalnya beberapa hari yang lalu, istrinya itu sempat mendatanginya ke rumah tahanan. Namun bukan untuk menjenguknya, melainkan hanya untuk memberikan surat gugatan perceraian.
Rainald kembali menyunggingkan senyumnya, "Anda memang beruntung memiliki istri seperti Anita, dia sampai rela merendahkan dirinya, supaya saya mau membebaskan Anda!" setelah mengucapkan kalimatnya, Rainald langsung berlalu dari hadapan pria itu.
Mata Andre sudah memerah, mengingat semua perbuatannya terhadap Rainald, yang membuat istrinya menjadi sangat kecewa terhadapnya. Hampir saja satu tetes air bening akan keluar dari matanya itu, namun dengan cepat Andre mengusapnya.
Andre menatap wanita yang sedang duduk di sebelah Vino, wanita yang selalu dia cintai, namun karena rasa iri dan sifat serakah yang dia miliki, membuat istrinya itu memutuskan untuk meninggalkannya.
Dengan keberanian yang sudah dia kumpulkan, Rainald melangkahkan kakinya, menuju kursi pelaminan, "sampai kapanpun, aku gak akan ikhlas kalau kamu mau meninggalkan aku," ujar pria itu dalam hati.
****
Aldi sampai di gedung, setelah dirinya menjemput seorang gadis yang berhasil dia paksa untuk menemaninya. Dan karena satu syarat yang berhasil di setujui oleh Aldi, akhirnya gadis itu bersedia menemaninya, dengan berpura-pura menjadi kekasih seorang Aldiano Bima Saputra.
"Kenapa harus pakai gaun yang kaya gini sih, Om? kan aku jadi terlihat kaya tante-tante, aku juga gak bisa pakai sepatu yang seperti ini, kalau nanti aku jatuh gimana!" ujar gadis itu yang sedang berjalan dengan susah payah karena Aldi memintanya untuk mengenakan sepatu hak yang tinggi.
Aldi menarik lengan gadis itu, dan melingkarkannya di lengan miliknya, "makanya kamu harus tetap di samping aku, biar gak jatoh, dan yang lebih penting, kamu jangan panggil aku dengan sebutan Om."
"Tapikan usia kita memang jauh, aku masih 18, dan Om sudah hampir 27," gadis itu terkekeh.
Aldi menatap datar gadis itu, "cuma beda 9 tahun juga, lagian mana ada kekasih yang manghilnya om," ujar Aldi sambil membalas senyuman beberapa orang yang berpapasan dengannya.
__ADS_1
Gadis itu merotasikan matanya, "kekasih boongan, Om."
Aldi menghentikan langkahnya, dirinya kembali menatap gadis itu, "panggil aku sayang," ujar lelaki itu, yang berhasil membuat gadis itu menggelengkan kepalanya.
"Lebay, aku gak mau," tolak gadis itu.
Aldi menghela napas, "yaudah panggil aku, Mas."
Gadis itu kembali menggeleng, "Abang aja deh, gimana?" tanya gadis itu tersenyum sambil menaik turunkan kedua alis matanya.
Deg...
Aldi yang masih menatap gadis itu, tiba-tiba jantungnya berdegub dengan kencang, saat melihat senyuman yang terpancar dari gadis itu, gadis yang baru dia kenal 5 bulan yang lalu.
Aldi memalingkan pandangannya ke arah depan, "terserah!" ucapnya dengan menahan degup jantung yang masih memburu.
Aldi menggandeng tangan gadis itu, hendak memamerkannya ke hadapan Vino. Sebelumnya dirinya mendapat tantangan dari lelaki itu, "kalau elo gak bawa pasangan ke acara gue nanti, berarti elo siap buat ngakuin ke publik bahwa elo sudah terkena penyakit kelamin," Aldi masih mengingat betul kata-kata dari adik ipar laknatnya itu.
Belakangan ini Aldi memang sudah tidak lagi bermain-main dengan perempuan, dan dirinya gak mau kalau publik sampai mengira kalau perubahannya itu diakibatkan karena dirinya sudah terkena penyakit.
"Nakisya!"
Gadis itu langsung menghentikan langkahnya, saat mendengar suara yang memanggil namanya.
Riko mengerutkan keningnya, namun tidak lama kemudian cowok itu tertawa, "hahaha, apa? lo bilang Kisya pacar elo?"
Dengan bangganya, Aldi langsung merangkul tubuh gadis itu, "iya, kenapa emang!"
Riko menghentikan tawanya, dirinya langsung menatap gadis itu "sejak kapan kamu kenal sama dia?"
Nakisya mendadak gelagapan, dirinya langsung melirik Aldi, "A aku."
Aldi mengerutkan keningnya, "kok kalian kaya yang udah kenal sih?" lelaki itu melirik Riko dan Kisya bergantian.
"Iyalah kita saling kenal, orang dia adik sepupu gue," ujar Riko dengan kedua tangan yang dia masukan ke dalam saku celana.
"****** gue! ternyata salah bawa cewek," gumam Aldi dalam hati, sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
"Dia beneran pacar gue kok, iya kan Kis?" tanya Aldi dengan mengedipkan sebelah matanya ke arah Nakisya.
Riko kembali tertawa, "gue tau pacar Kisya siapa, dan tentunya bukan elo," Riko menatap remeh ke arah Aldi.
__ADS_1
Kemudian lelaki itu kembali menatap adik sepupunya, "ada perjanjian apa, sampai kamu mau di manfaatin sama dia?"
****
Aldi melangkah sendiri menuju kursi pelaminan. Sedangkan Kisya, gadis itu di tahan oleh Riko.
"Mana pasangan lo?" tanya Vino pada lelaki yang baru saja menjabat tangannya.
"Noh, di sana," Aldi mengarahkan telunjuknya kearah Nakisya. "Katanya dia malu gara-gara gak kenal sama kalian, jadi dia nungguin di situ. Udah ya, gue mau nyamperin pacar gue dulu," Aldi langsung memutar tubuhnya dan melangkah.
Vino tidak percaya begitu saja dengan pengakuan seorang Aldi, matanya terus memperhatikan arah lelaki itu melangkah.
Aldi yang menyadari sedang di perhatikan oleh Vino, dengan sengaja langsung merangkul tubuh Kisya, yang berhasil mendapat tatapan tajam dari Riko.
"Lepasin gak tangan lo!" perintah Riko dengan tangan yang sudah terkepal, hendak menonjok wajah Aldi.
"Bentaran aja, sampai Vino sudah gak merhatiin ke arah sini," Aldi melirik sekilas ke arah Vino. Setelah mengetahui kalau lelaki itu sudah tidak memperhatikan ke arahnya, dengan terpaksa Aldi langsung menggeser tubuhnya, dari gadis itu.
"Cuma kaka sepupu aja, galak banget lo!"
Riko berdecak, "itu karena gue tau siapa elo! gue gak mau Kisya jadi korban elo!"
Nakisya yang dari tadi belum mengerti dengan pembicaraan kedua lelaki yang ada di hadapannya, langsung mengerutkan kening, "korban apaan sih, Kak?"
Riko tersenyum, "nanti Kakak kasih tau."
"Kamu jangan percaya kalau dia bilang tentang yang jelek-jelek soal aku. Kakak kamu tuh emang suka syirik sama aku," ujar Aldi dengan mata yang terus menatap Nakisya.
Nakisya, mengangkat kedua tangannya, gadis itu tidak perduli tentang siapa Aldi, yang terpenting bagi dirinya, setelah ini Aldi akan menepati janjinya, tentang syarat yang sudah Aldi sepakati.
-
-
-
**Jangan lupa tinggalkan jejak ya gaes, biar gak di sangka raiders ghoib😁
Rate, Like, Koment nya next aja (kalau bingung)
Vote yang banyak ya😍🤗🤗
__ADS_1
Terima Kasih
Salam,,, semangat**