Tiba-tiba Hamil

Tiba-tiba Hamil
48


__ADS_3

Naura sedang duduk di atas kursi, kakinya di lipat menyilang, kedua tangannya dia gunakan untuk menopang dagu, tatapannya dia fokuskan pada layar televisi yang menyala, "pasti selingkuh nih cowoknya, tuh kan beneran. Itu juga orangtua malah morotin anaknya mulu, gedek gue lama-lama."


Naura terus menggerutu, dari pagi dia terus mantengin chanel yang sama. Sudah beberapa judul yang dia tonton, meskipun dia sudah dapat menebak jalan ceritanya, tapi rasa penasaran ingin tau ending ceritanya membuat perempuan itu jadi lupa waktu. Sesekali, matanya melirik ponselnya yang masih saja kosong tanpa notifikasi.


"Bentar lagi pasti kecelakaan, tuh kan bener, eh tapi bukannya kakinya ya yang ketabrak, kok malah kepalanya sih yang di perban, mana rumah sakitnya itu mulu lagi, hadeuhh."


Ting, tong, ting, tong


Suara bel yang berbunyi, membuat Naura memutuskan perhatiannya pada layar televisi. Dengan terpaksa, Naura melangkahkan kakinya, sambil sesekali melirik ke layar yang berukuran sangat besar itu.


Ting, tong. "Iya bentar," Naura semakin mempercepat langkahnya, saat bel itu kembali berbunyi.


"Iya, eh Bibi, silakan langsung masuk aja Bi," Naura membuka sebelah pintu rumahnya, saat melihat ternyata Bik Sumi tamu yang datang kerumahnya.


"Ya ampun, Bibi kesini sama siapa? maaf ya, Vino sama Naura gak jemput Bibi," setelah menjabat dan mencium punggung tangan wanita paruh baya itu, Naura tersenyum ke arah Bik Sumi.


Sumi merasa tertegun, mendapat perlakuan ramah dari calon majikan barunya. Meskipun Naura istri dari seorang CEO, tapi tidak membuat perempuan itu sombong, "eh, gapapa non, Bibi kesini di anterin sama supir kok, "Sumi tersenyum, kepalanya menunduk.


"Naura aja, Bi manggilnya, jangan pake sebutan lain" Naura menyentuh pundak wanita yang akan menjadi pembantunya. Melihat sosok wanita itu, mengingatkannya pada sosok ibunya, yang berhasil semakin menambah kerinduan yang menggebu pada dirinya.


Bi Sumi menggelengkan kepalanya, "jangan non, itu sangat tidak sopan, tolong biarkan saya tetap memanggil dengan sebutan nona ya?"


Naura menghela napas, saat melihat tatapan sendu yang terpancar dari mata wanita paruh baya itu "baiklah, gimana nyamannya Bibi aja. Tapi Bibi jangan sungkan ya, kalau ada apa-apa langsung ngomong aja ya, sama aku."


Naura tersenyum saat melihat wanita itu menganggukan kepalanya, "yuk Naura antar Bibi ke kamar."


"Baik non, tapi sebelumnya, saya mau menyimpan ini dulu," wanita itu sedikit mengangkat kantung besar, yang ternyata berisi bahan masakan.


Naura mengerutkan keningnya, "loh, Bibi kesini belanja dulu?" tanyanya.


Bi Sumi menggeleng, "enggak kok non, ini tadi nyonya Anita menyuruh saya bawa ini semua, katanya pasti di rumah ini belum ada bahan masakan."


Naura tersenyu menggaruk tengkuknya. Mendengar nama ibu mertuanya disebut membuat Naura merindukan wanita itu, "oh iya, gimana kabar Mama, Bik? kok beliau gak pernah kesini ya?"

__ADS_1


Wanita itu menurunkan kembali tas belanjaannya, "nyonya baik kok non, beliau juga jarang di rumah, karena lebih sering berada di rumah sakit."


Naura tersenyum, sebelah tangannya bermaksud akan mengambil alih tas belanjaan itu, namun dengan cepat wanita itu melarangnya, "jangan non, biar saya saja yang simpan," tolak wanita itu.


"Sudah, Bik, biar Naura saja. Mendingan Bibi langsung ke kamar, istirahat dulu. Pasti Bibi capek."


Perdebatan keduanya masih terjadi. Namun Naura mengalihkan perhatiannya, pada sosok lelaki yang baru masuk kerumahnya, sehingga situasi itu dengan cepat di gunakan oleh Sumi untuk bergegas ke arah dapur.


"Vino, kok kamu sudah pulang?" Bukan maksud Naura tidak menyukai kepulangan Vino, namun dirinya merasa heran, tidak seperti biasanya, suaminya itu pulang dengan cepat.


Vino tersenyum "Kepalaku pusing, Ra. Aku mau istirahat," setelah menepuk pelan kepala istrinya, Vino langsung melangkahkan kakinya menuju lantai atas.


Naura dengan cepat mengikuti langkah suaminya. Setelah sampai di kamar, Naura menutup pintunya, dipandangnya penampilan Vino yang terlihat berantakan, "kamu lagi ada masalah ya?"


Tanpa aba-aba, Vino langsung memeluk tubuh mungil istrinya, "di kantor aku lagi ada masalah, ada pengkhianat yang sedang mencoba menjatuhkan perusahaan aku," tanpa melepaskan pelukannya, lelaki itu menjawab.


Naura menggercap, pikirannya langsung teringat pada seseorang yang di suruh ayahnya, "kamu tau, siapa pengkhianat itu?"


Kedua mata itu saling bertemu, entah kenapa Naura masih saja merasakan jantungnya berdegub lebih cepat dari biasanya, Vino menggendong tubuh Naura, menjatuhkannya dengan pelan di atas ranjang king size.


Vino sudah hampir sampai di puncaknya, namun suara dari ponselnya, yang berdering begitu nyaring, menghentikan kegiatannya. Seolah mengerti, tanpa Vino mengeluarkan suaranya, orang di sebrang sana menceritakan tujuannya.


"Brengs*k! Vino berdiri, mengambil semua pakaiannya, dan dengan cepat memakainya satu persatu.


Naura mengerutkan keningnya, "ada apa?" tatapannya tertuju pada wajah serius suaminya.


****


Vino melajukan kendaraannya dengan cepat, berabgai umpatan dari beberapa pengemudi lain tidak dia hiraukan. Setelah sempat mengirim pesan pada Riko, tanpa membuang waktu, lelaki itu langsung menuju tempat yang di katakan sahabatnya.


Suara decitan dari ban mobil yang di rem mendadak terdengar di kupingnya. Vino memarkirkan mobilnya di depan pintu sebuah restoran.


Setelah melihat Riko, dengan cepat, Vino melangkahkan kakinya menuju kursi yang di duduki sahabatnya, "kemana bokap gue?"

__ADS_1


"Mending lo duduk dulu," Riko menarik tangan sahabatnya itu, dirinya paham, perasaan sahabatnya itu sedang dalam mode hancur.


Tadi saat dirinya selesai mengadakan pertemuan dengan klien, matanya tidak sengaja melihat Andre, dan samar-samar terdengar dari mulut Andre yang mengatakan tentang sesuatu yang Riko dapat pastikan, Vino pasti belum mengetahuinya.


"Bokap lo sudah pergi, dengan beberapa orang suruhannya, tapi gue berhasil rekam percakapan mereka," Riko menyerahkan ponselnya.


Dengan cepat, Vino menyambar ponsel itu, matanya membulat saat melihat rekaman akhir pada vidio itu. Rahanya mengeras, tanpa sadar, Vino menggenggam erat ponsel milik sahabatnya, yang mendapat pukulan di tangannya.


"Ini ponsel gue, beg*! setelah berhasil merebutnya, Riko menatap nanar pada ponselnya itu, anj** retak ponsel gue!"


Vino melangkah pergi dari tempat itu, meninggalkan sahabatnya yang masih bengong dengan meratapi nasib ponselnya yang malang.


Meskipun Riko kesal dengan tindakan kepar** sahabatnya, tetapi dirinya merasa kasian pada hidup sahabat sekaligus atasannya itu. Riko terus menatap punggung Vino yang semakin menjauh dari tempatnya, "miris gue lihat lo Vin, lo udah kaya bola, paling penting buat di lapangan. Tapi setelah ada, lo malah dijadikan permainan, di giring kesana-kemari."


-


-


-


-


-


Padahal mah ya? sii Riko, ari tos puguh nga rekam mh, kirimkeun we Vidio na, malah pake nyuruh sii Vino datang segala. Kan kasian dianya, lagi tanggung "melakukannya"😂😂


Gaes Vote nya dong gaes. Di antos pisan ya, sa ikhlasna we. Biasanya, kalau aku up jam segini, terus lihat like, koment dan rangk naik. Pasti nanti langsung up lagi. Jadi, di klik lagi ya pointnya buat TtH.


Hatur... Nuhun


Salam... Semangat**!!!


__ADS_1


__ADS_2