
-
-
-
Setelah percintaan panas mereka selesai. Dengan keadaan sama-sama terkulai lemas. Vino menarik intinya, dari milik Naura.
"Makasih sayang." Vino menciu* kening istrinya, dengan lembut.
Naura tersenyum, menganggukan kepalanya. "Vin, kok aku jadi lapar ya."
Vino yang masih memeluk tubuh istrinya, mendongak, menatap wajah Naura. "Mau makan apa, hemm?. Nanti aku suruh bibi buat bikin."
Naura menggeleng, "Aku maunya makan lengko ayam." Senyum Naura terbit saat mengatakan itu.
Vino menggaruk tengkuknya "Tengah malam kaya gini, dimana yang jualan lengko?." Vino menggerutu dalam hati.
Vino berdiri, langsung mengambil jaket. Namun, suara Naura menghentikan tangannya yang hendak mengambil kunci mobil.
"Gak jadi deh. Tiba-tiba aku keinget sama serabi. Kamu beliin ya." Naura cengengesan melihat wajah Vino yang mengerutkan keningnya.
Vino menghela napas lega. Dirinya beruntung, jika mengingat permintaan Naura beberapa hari yang lalu kepada Aldi. Permintaan yang aneh.
Namun saat ini, dia mengucap syukur karena permintaan Naura sangat mudah.
Vino tersenyum senang, teringat dengan tukang serabi, yang banyak berjualan di pinggiran jalan. Tanpa basa-basi, setelah sempat menciu* kening istrinya. Vino langsung berangkat.
Tidak butuh waktu lama, Vino sudah kembali dengan satu kantung kresek ukuran kecil.
Naura yang melihat suaminya datang, langsung bangun dari ranjangnya.
Dengan mata yang berbinar, Naura mengambil kresek di tangan Vino. "Loh, kok serabi nya yang manis?." Wajah Naura berubah muram.
"Loh, aku kira, karena kamu suka manis, jadi aku belinya yang itu." Vino menggaruk keningnya.
"Iya, tapi sekarang aku maunya yang asin." Naura nerdecak, memajukan bibirnya.
"Kamu sih gak bilang mau yang gimana, jadi aku asal beli aja." Vino mencoba memberi alasan.
Wajah Naura merah padam. "Oh, jadi aku yang salah?, terus, kenapa kamu gak nanya?!." Naura merasa tidak terima.
Naura melangkahkan kakinya menuju sofa, nafasnya memburu karena kesal.
__ADS_1
Vino yang melihat itu, merasa bersalah. Lagian, benar kata Naura, dirinya terlalu bersemangat. Sampai lupa menanyakan kepada Naura.
Vino melangkahkan kakinya menuju sofa yang di duduki Naura. Wajahnya sendu, menatap wajah istrinya. Naura memalingkan wajahnya, saat tatapan keduanya bertemu.
"Ya udah, aku minta maaf. Aku yang salah. Kamu tungguin ya, aku balik lagi buat beli, sesuai mau kamu." Suara Vino sangat pelan, dan penuh hati-hati.
Naura masih memalingkan pandangannya. Tangannya dilipat menyilang di atas perut. "Gak usah,! aku udah gak mau lagi."
Vino mengusap wajahnya kasar. "Kan kamu lapar, Ra. Kasian dedek nya. Atau, kamu mau makan yang lain aja?"
Naura menatap wajah Vino, tatapannya terlihat sendu. "Beneran, kamu mau menuhin keinginan aku?"
Vino antusias menganggukan kepalanya. Senyumnya perlahan terbit, melihat istrinya yang mulai luluh.
"Kayaknya, makan mangga muda seger deh. Aku mau dong Vin." Mata Naura berbinar, membayangkan keinginannya itu.
Vino mematung, mendengar permintaan istrinya. Mau protes, takut istrinya kembali marah. Dengan hati-hati, Vino mencoba bertanya pada Naura. "Kayaknya susah deh Ra, malam-malam kayak gini nyari mangga muda, atau kamu tau, dimana tempat yang jualan?."
Naura berdiri. Sambil mengingat sesuatu. "Ada kok, noh depan rumah tetangga kita. Pohon mangganya berbuah. Kamu minta aja."
Vino melongo, takjub dengan istrinya, yang dengan mudah mengatakan itu.
Vino menyesali dirinya, yang sempat berpikiran dirinya beruntung.
*****
"Maaf pak, sudah mengganggu istirahat bapak." Vino berucap sambil menunduk, takut tetangganya itu marah karena sudah mengganggu istirahatnya.
Sambil menguap. Tetangga Vino yang bernama Pak Ahmad itu mengangguk. "Gak apa Nak Vino. Kalau boleh saya tau, ada apa ya tengah malam begini nak Vino kemari?."
Vino mengangkat kepalanya. "Istri saya sedang ngidam. Dia mau mangga muda punya bapak." Vino tersenyum, sambil menggaruk tengkuknya.
Pak Ahmad tersenyum, mengerti dengan keadaan Vino. "Oh, Istri nak Vino lagi ngidam ya?, boleh kok, ambil saja."
Vino sudah berada di atas pohon. Dia mengambil beberapa mangga untuk Naura.
Pak Ahmad terus memperhatikan Vino dari bawah pohon. "Yang banyak aja nak Vino, biar sekalian buat setok."
Vino tersenyum senang. Dirinya kembali memetik beberapa mangga yang ukurannya besar. Beruntung di pohon mangga itu tidak ada semutnya. Jadi Vino bisa santai-santai sambil terus memilih mangga. Sampai dirinya tidak sadar, keresek yang di bawanya sudah penuh.
Vino turun, dengan satu kresek sedang buah mangga di tangannya. "Duh, kayaknya saya ngambil banyak banget nih Pak. Kira-kira saya harus ganti berapa ya?."
Pak Ahmad tersenyum "Gak usah sungkan nak Vino. Ambil saja, buat istrinya. Beruntung nak Vino istrinya cuma ngidam buah mangga. Istri saya dulu, ngidam aneh banget.
__ADS_1
Vino yang dari tadi mendengarkan Pak Ahmad. Antusias ingin tau. "Emang ngidam apa Pak, istrinya?"
Pak ahmad merotasikan bola matanya. "Ngidam di peluk mantannya. Terus minta selfie bareng. Mana saya yang harus ngambil photonya."
Vino menggercap, dirinya tak rela kalau sampai istrinya ngidam seperti itu. Hanya membayangkan saja, dirinya tak kuasa.
****
Naura menunggu Vino di depan pintu rumah. Matanya berbinar, melihat suaminya sudah datang. "Wah, banyak banget tuh mangganya. Kamu bilang dulu kan Vin, sama yang punyanya?." Naura bertanya sambil mengekori Vino yang berjalan ke arah dapur.
Vino menaruh kresek mangga di atas meja makan. "Ya bilang dong sayang, mana mungkin aku nyuri."
Naura yang merasa senang, langsung mengambil buah mangga itu.
"Aku panggilkan bibi ya, buat bikin sambal nya." Vino hendak melangkahkan kakinya.
Naura yang melihat itu, langsung menghentikan Vino. "Eh gak usah. Aku bisa sendiri kok." Sambil mengambil ulekan, dan menaruh banyak cabe rawit di atasnya.
Vino meringis ngilu, saat melihat istrinya dengan lahap, memasukan satu demi satu irisan mangga dengan sambal yang banyak ke mulutnya.
Naura yang sadar dirinya sedang di perhatikan. Mendongak ke arah Vino. "Kamu mau?. Nih" Naura menyodorkan satu iris mangga ke depan mulut suaminya.
Dengan cepat Vino menggeleng. "Buat kamu aja deh. Aku gak suka yang asem-asem kaya gitu."
Naura mengangkat bahunya acuk. "Terus kamu sukanya apa.?"
Vino tersenyum, menatap Naura dengan senyuman nakalnya. "Aku sukanya, yang manis-manis, hot kayak kamu."
Mendengar jawaban Vino, ekspresi Naura seperti orang mau muntah. "Gombal!."
Vino tertawa melihat istrinya. Dengan gemas, Vino mengacak rambut Naura. Yang berhasil mendapat decakan sebal dari istrinya itu.
-
-
-
-
-
**Huhuhu.. Aku mulai gak semangat. Rank aku makin turun. Dikencengin lagi dong gaes, Vote nya.. Like, koment nya juga, jan lupa.
__ADS_1
Yang minta adegan saat mereka melakukannya di perjelas. Nanti aku kasih. Kalau Rank nya naik tapiπππ€
Salam... Semangat**