Tiba-tiba Hamil

Tiba-tiba Hamil
46


__ADS_3

Kedua sahabat Naura sudah pulang beberapa menit yang lalu. Tidak lama setelah itu, Riko juga pamit.


Kini, tinggal Aldi yang masih saja betah berada di rumah Vino, padahal dengan terang-terangan Vino sudah mengusirnya. Sedangkan Naura, perempuan itu terlihat serius menatap ponselnya, sangat malas bila harus menyaksikan perdebatan antara keduanya.


"Betah banget sih, lo! kayak gak ada kerjaan lain aja! pulang gak lo!" dengan mata yang menyorot tajam kearahnya. Aldi berdiri. "Gue emang gak punya kerjaan, dulu sih ada, pekerjaan gue ngejar Naura. Tapi, gara-gara elo rebut Naura. Jadi otomatis sekarang gue nganggur."


Vino merotasikan matanya, sungguh malas mendengar celotehan dari sepupunya. "Ngomong apa sih lo! gak jelas banget!"


Aldi hendak melontarkan kata-katanya, Namun dering ponselnya menghentikannya.


"Oke, gue pamit dulu ya, Ra." Aldi melangkahkan kakinya, setelah melirik dan tersenyum ke arah Naura, Aldi langsung mengangkat panggilannya.


Naura mengangguk membalas Aldi. Perempuan itu langsung melangkahkan kakinya menuju tangga.


"Kampr*t lo! setelah bikin gue pusing, elo pamitnya malah sama istri gue." Vino terus menggerutu merasa geram dengan Aldi, melihat istrinya sudah tidak ada di sampingnya, Vino langsung berlari kearah istrinya.


Vino yang langkahnya sudah sejajar dengan Naura, langsung merangkul pinggang istrinya. "Ra, kayaknya aku harus cepat-cepat cari pembantu deh. Tapi aku bingung, soalnya aku gak gampang buat percaya sama orang lain."


Sejenak Vino menghentikan langkahnya, "gimana kalau aku nyuruh Bik Sum aja buat pindah kerja kesini. Kan di rumah Mama udah banyak ini pelayannya." Vino melirik istrinya yang masih diam tanpa suara, "gimana, Ra? kamu setuju gak?"


Naura tersentak dengan pertanyaan Vino, "eh kenapa? em iya aku setuju sama kamu." Naura tersenyum menampilkan deretan giginya yang rapi.


Vino merasa heran dengan istrinya, "kamu kenapa sih, Ra? kok kaya ngelamun gitu?"


Naura gelagapan "enggak ko, aku cuma mau minta bantuan sama kamu."


Vino menatap lamat wajah istrinya, "gak usah sungkan, kaya sama siapa aja, ada apa hemm?"

__ADS_1


"Aku punya sodara, emm maksud aku kenalan, dia lagi butuh pekerjaan. Kira-kira kamu bisa gak masukin dia di kantor kamu?" Naura sedikit ragu dengan permintaannya, mengingat dengan terang-terangan suaminya itu mengatakan tidak mudah percaya sama orang lain.


Vino tersenyum, menatap istrinya, "oke, bilangin sama sodara kamu, mulai besok dia sudah bisa masuk dan bekerja di perusahaan kita."


Diluar dugaan Naura, dirinya sempat berpikir Vino akan sedetail mungkin menanyakan latar belakang orang itu. Tapi justru Vino dengan mudah menerima permintaannya.


Naura dengan terpaksa menarik bibirnya keatas, sebenarnya Naura sedikit curiga, dengan pesan dari ayahnya, yang menyuruh Naura untuk memasukan orang suruhan ayahnya itu ke perusahaan milik suaminya. Namun dirinya tanpa terlalu berpikir panjang, menyampaikan pada Vino, tanpa menceritakan itu perintah ayahnya.


Naura langsung melangkahkan kakinya menuju kamar mandi, sedangkan Vino, lelaki itu mendudukan dirinya di atas ranjang king size. Vino mengambil ponselnya yang terlihat menyala, dengan beberapa notif yang tertera di layarnya.


Vino mengerutkan keningnya, saat melihat satu notif dari alat penyadap yang di pasang di ponsel Naura.


Ayah Rainald : Naura, kamu minta tolong sama Vino, buat masukin orang kepercayaan Ayah. Suruh suami kamu untuk memberikan jabatan yang tinggi buat dia. Jangan bilang Ayah yang nyuruh!


Vino mengeraskan rahangnya, dirinya sedikit kecewa dengan ketidak jujuran istrinya. Namun Vino mencoba mengerti dengan keadaan istrinya. "Oke, mari kita lihat, apa yang akan dilakukan ayah kamu, sayang." gumam Vino dalam hati.


Naura membaringkan badannya di samping suaminya. "Istri aku cantik banget ya, kok bisa sih yang?" Vino terus menatap lamat wajah istrinya, mengusap kedua alis Naura dengan jempol tangannya, sampai berakhir di bibir tipis milik istrinya.


Vino menatap Naura dengan jarak yang begitu dekat, sehingga hembusan hangat dari napas istrinya menerpa wajahnya, membuat sang pemilik merasakan detak jantung yang kian memburu. "Aku memang belum mengetahui rahasia besar di antara kedua keluarga kita, sampai aku mulai sadar, ayah kamu mulai merencanakan sesuatu untuk perusahaan aku. Tapi, walau bagaimanapun, kita akan selalu bersama, itu janji aku." Vino bergumam dalam hati. Dici*mnya bibir tipis milik Naura. dengan pelan, ada rasa takut kehililangan yang dia rasakan.


"Jangan tidur dulu ya, aku mau mandi dulu." Vino beranjak dari tempat tidurnya, setelah sempat mengedipkan sebelah matanya.


Naura tersenyum, mendapatkan perlakuan seperti itu dari suaminya, sungguh membuat hatinya bahagia.


Setelah hampir 20 menit di dalam kamar mandi, akhirnya Vino keluar, dengan handuk yang menutupi sebagian tubuhnya. rambutnya masih terlihat basah, dengan beberapa tetes air yang terjatuh, mengenai wajah tampannya.


Vino melirik ke arah ranjang, melihat istrinya yang ternyata sudah tertidur.

__ADS_1


Melihat posisi tidur Naura yang sangat damai, dengan susah payah Vino mengurungkan niatnya.


Vino mengambil kaos oblong, dan celana pendek dari dalam lemari. Dengan cepat Vino mengenakannya.


Lelaki itu berjalan ke arah ranjang, menarik selimut untuk menutupi tubuh mungil istrinya.


setelah menciu* kening Naura, tangan kekarnya menarik kepala Naura dengan pelan, dan memposisikannya diatas dada bidang miliknya, tidak lama kemudian dirinya ikut tertidur, dengan tangan yang memeluk perut istrinya.


****


Pagi hari, Naura sudah terbangun dari tidur nyenyaknya. Malam tadi dirinya terbebas dari siksaan memabukan yang selalu menerbangkannya ke puncak nirwana.


Naura menyingkap selimut yang menutupi sebagian tubuhnya, lalu berdiri setelah sempat mengusap pelan pipi mulus dengan pahatan yang begitu indah milik suaminya.


Naura memasangkan apron untuk menutupi pakaian yang dikenakannya. Hari ini dirumanya belum ada pembantu. Jadi Naura memutuskan untuk membuatkan sarapan untuk suaminya.


Naura tersentak, saat sepasang tangan kekar memeluk tubuhnya dari belakang, dengan dagu yang berada di sebelah pundaknya. "Vino, kamu ngagetin deh," setelah sempat menoleh, Naura memusatkan kembali pandangannya pada wajan yang berisi nasi goreng yang hampir jadi.


Vino melangkah, menarik kursi yang ada di samping meja makan, setelah mendudukan tubuhnya, Vino menopang dagunya, memperhatikan punggung istrinya.


"Selesai," Naura mematikan kompor, dan menuangkan nasi goreng ke dalam piring.


"Kok harum banget, Ra? kayaknya enak, jadi gak sabar pengen nyobain." Naura tersenyum, tangannya mendorong piring nasi goreng yang terlihat masih mengepulkan asap.


Vino mencondongkan tubuhnya, "cup," dengan lembut Vino menciu* bibir Naura. Senyum lelaki itu merekah saat melihat semburat merah dari pipi istrinya, "ternyata beneran enak, jadi pengen nyobain banyak."


Naura membulatkan bola matanya saat melihat tatapan nakal dari suaminya.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2