
Ting tong ting tong
Suara bel yang berbunyi tanpa henti, seolah memaksa pemiliknya untuk segera menghampiri orang yang menjadi penyebab bunyi itu.
Vino yang belum mencapai puncaknya, merasa geram. "Arghhh, siapa sih yang datang? ganggu banget!" Vino menggerutu, tanpa menghentikan kegiatannya, Vino terus memaju mundurkan tubuhnya.
"Vino, udah ih. Takutnya itu mama. Kan kasian kalau kelamaan nunggu." Naura berkata sambil tersirat kecemasan dari sorot matanya.
"Bentar, Ra. Tanggung ini." Vino menambah kecepatannya.
"Aw, sakit Vin. Ingat kata dokter." Naura berujar sendu, sambil meringis karena merasakan sakit dibagian intinya.
Vino mengecup kening Naura. "Maaf, sayang. Aku lupa. Sakit banget ya?" Tersirat rasa bersalah yang terpancar dari sorot matanya.
Naura tersenyum, menggeleng "enggak terlalu sih. Udah cepetan kamu lihat dibawah. Takutnya itu beneran mama, entar kamu di omelin baru tau rasa."
Vino membesarkan bola matanya. Mengingat sang mama yang sering mengomelinya. Dia bergidik ngeri. Vino mengeluarkan miliknya dengan pelan. Dengan cepat dia mengambil pakaian, lalu mengenakannya.
Vino berjalan ke arah pintu keluar. Memelototkan matanya, saat melihat orang yang ada di depan pintu rumahnya.
"Kalau tau elo yang datang. Gue gak bakal buka nih pintu." Vino berujar dengan wajah yang terlihat malas.
"Santai dong brotrher. Tadi gue dapat kabar dari Tante Anita. Jadinya gue langsung tancap gas kemari. Penasaran dong. Rumah kaya gimana yang udah elo beli buat perempuan istimewa kaya Naura."
Mata Aldi berkeliling ke setiap penjuru. "Tapi, ternyata biasa aja ya." Aldi menyunggingkan senyumnya.
"Ah, bac*t lo!" Vino hampir melayangkan tangannya ke kepala Aldi. Namun suara Naura yang sedang menuruni anak tangga menghentikannya.
"Vino! kamu jangan kasar gitu." Naura berkacak pinggang, sorot matanya seolah menusuk mata Vino. Membuat kepala suaminya itu menunduk.
Seolah mendapat pembelaan, Aldi berlari ke arah Naura. Bersembunyi di belakang tubuh perempuan itu.
Mata Vino terbelalak, saat melihat tangan Aldi memegang pundak istrinya.
"Heh!, lepasin tangan lo!" Vino berlari hendak menarik tangan Aldi.
Namun, suara beberapa orang yang datang menghentikan langkahnya.
"Surprise." Dengan hebohnya, Nia dan Andin datang dengan kantung kresek ukuran sedang di tangan Andin. Selang beberapa detik kemudian, di susul dengan kedatangan Riko yang berjalan di belakang mereka.
Vino memegang ujung pelipisnya, merasa pusing "Ada apa lagi ini!" Pertanyaan sinisnya dia lontarkan pada Aldi.
Aldi yang mendapat tatapan devil dari sepupunya hanya membalas dengan cengiran kuda. "Sorry, brother. Tadi mereka nanyain alamat Naura. Yaudah, gue kasih aja."
__ADS_1
Vino berdecak "Terus, elo ngapain?" kali ini, pertanyaannya dia tujukan pada Riko.
"Gue di kasih pesan, suruh kesini sama tuh orang." Dengan wajah datar, Riko mengarahkan telunjuknya ke arah Aldi.
Aldi yang sudah siap siaga, melihat tatapan tajam dari Vino. Berlari ke arah dapur. Lelaki itu sudah yakin, sepupunya bakalan marah besar kepadanya.
"Yaudah, yuu kita duduk." Naura melangkah ke arah ruang keluarga, di ikuti kedua sahabatnya.
"Vin, gue mau ngomong!" Riko menghentikan langkah Vino yang hendak berjalan mengikuti istrinya.
Seolah sudah mengerti dengan tatapan serius dari sahabatnya, Vino mengikuti langkah Riko yang sedikit menjauh dari tempat para perempuan.
Vino mengangkat sebelah alisnya "mau ngomong apa lo?" Vino yang sudah penasaran langsung bertanya.
"Lo, pernah curiga enggak, sama kegiatan bokap lo?" tatapan Riko penuh tanya.
Vino mengangguk sebagai jawaban "gue memang lagi nyuruh orang buat cari tau semua itu."
Riko berdecak "oke, gue harap lo segera mengetahui semuanya. Sebelum elo menyesal."
Vino mengerutkan keningnya "maksud elo apa?" dengan tidak sabaran, Vino menatap wajah Riko dengan penuh tanya.
"Gue curiga, semua kegiatan papa lo, ada hubungannya sama ayahnya Naura."
Bahkan, kedua lelaki yang terlihat sedang berbicara dengan serius, serentak menoleh ke arah Aldi.
"Apaan sih, lo? dari tadi ganggu terus!" emosi Vino mulai bangkit kembali.
Aldi menatap Vino dengan cengengesan "masa di rumah lo, gak ada sedikitpun makanan. Gue lapar be90!"
Vino merotasikan matanya malas "Udah tau ini rumah baru, dan gue juga baru pindah kesini, ya jelas gak ada makanan lah 09eb!"
Riko yang sudah jengah dengan pertengkaran kedua sahabatnya, mencoba menengahi "Udah, biar gue pesen pakai aplikasi aja. Kalian mau apa emang?"
Naura dan kedua sahabatnya, yang mendengar pertanyaan Riko, langsung mengalihkan pandangan mereka.
"Aku juga dong, mau pesen." Dengan antusias Andin dan Nia menyebutkan keinginannya.
Riko yang baru mendengar pesanan Vino, langsung sibuk dengan aplikasi di ponselnya, tanpa memalingkan wajahnya bertanya pada Naura "kalau elo, mau pesen apa, Ra?"
Naura yang sedang tidak menginginkan apa-apa hanya tersenyum menatap Vino "aku sama aja kaya Vino."
"Ciyeee, pengantin baru, apa-apa maunya kompakan aja" dengan heboh, Nia dan Andin menyoraki Naura.
__ADS_1
Dengan wajah yang merah merona, Naura mendekat ke arah Vino, meminta bantuan dari suaminya.
Dengan tanpa malu, Vino merangkul Naura dan menc*um puncak kepala istrinya.
Andin dan Nia semakin menjerit, melihat pasangan baru itu "jiwa jomblo gue meronta nj*r!" teriak Andin yang berhasil mendapat pukulan kecil di kepalanya dari Nia.
Dengan sedikit ragu, Nia menatap Riko "Pak Riko, aku sama Andin gak usah ya, kita sudah makan soalnya."
Wajah Riko masih tertuju pada ponsel "saya juga gak ada niatan buat nawarin kalian" Riko berujar dengan wajah datar.
Jawaban sinis Riko berhasil membuat Andin tergelak "Haha, mampu* lo!"
Vino menggeleng, mendengar jawaban datar Riko. Sahabatnya itu masih saja bersikap dingin, setelah pengkhianatan yang di lakukan mantan kekasihnya.
"Terus elo mau pesen apa Al?" Riko mengalihkan tatapannya pada Aldi.
Aldi yang sedikit elfeel dengan kemesraan Vino dan Naura dengan wajah datar melirik Riko "gue mau bubur ayam aja."
Riko mengangguk "oke, pake ati apa enggak?"
"Pake." Aldi merotasikan matanya, saat melihat Vino dengan sengaja memperlihatkan keintiman mereka
"Oke, gue pesenin. Eh bentar, elo maunya ati ayam apa ati sapi?" Riko menunggu jawaban Aldi.
Aldi yang sudah geram, mendapat pertanyaan sedetail itu dari Riko, memelototkan matanya ke arah lelaki itu "ati apa aja deh, asal jangan ati mantan gebetan yang tertinggal."
-
-
-
-
-
**Hallo, maaf ya, kalii ini up nya agak telat.
Tetep semangat ya buat ngasih dukungan ke karya ini.
Like, koment, sama vote nya selalu di nanti.
Terima kasih
__ADS_1
Salam... Semangat**!!!