Tiba-tiba Hamil

Tiba-tiba Hamil
66


__ADS_3

Setelah Naura bed rest hampir 4 bulan lamanya, dan melakukan check up hampir setiap minggu. Kini keduanya baru saja keluar dari ruang pemeriksaan. Wajah keduanya terlihat begitu bahagia, setelah dokter mengatakan kalau kandungan Naura sudah kembali kuat.


"Mau langsung pulang? atau mau kemana dulu," tanya Vino kepada Naura. Tubuhnya dia condongkan untuk memasang seat belt di tubuh istrinya.


Setelah mengirim pesan kepada Rainald, Naura menyimpan benda pipih miliknya itu ke atas dashboard mobil.


Sekilas Naura terlihat berpikir, dirinya langsung melirik Vino, "baju aku kayaknya udah pada gak muat deh, Mas. Emang aku sekarang gendutan ya?"


Vino yang sedang pokus mengemudikan mobil, terlihat mengerjap, "****** gue," gumamnya dalam hati.


Naura memang terlihat berisi di beberapa bagian, namun di usia kandungannya yang sudah memasuki 6 bulan lebih, perutnya itu tidak terlalu terlihat besar seperti ibu hamil pada umumnya.


Naura yang nampak antusias menunggu jawaban, menepuk pelan lengan suaminya itu, "Mas, kok malah diam sih?" perempuan itu berdecak kesal.


Vino melirik sekilas ke arah istrinya yang masih cemberut. Lelaki itu kembali pokus kedepan, sambil memikirkan jawaban apa yang tepat untuk pertanyaan horor dari istrinya.


"Mas!" dengan nada suara yang sedikit keras, Naura kembali menatap suaminya, kali ini wajahnya sudah terlihat begitu kesal.


"I-iya, ehh, eng, enggak kok," jawab pria itu dengan terbata.


Dengan cepat Vino langsung melanjutkan kalimatnya, saat melihat istrinya itu hendak berucap, "gimana kalau kita cari baju baru buat kamu aja yu, kayaknya baju kamu warnanya sudah mulai memudar," ucap Vino mengalihkan pembicaraan.


Wajah Naura langsung sumringah, "ayo," jawabnya dengan semangat.


Vino menghela napas, "selamat," gumamnya dalam hati, sambil mengelus dada dengan sebelah tangannya.


Walau bagaimanapun, menurut Vino pertanyaan seperti itu merupakan pertanyaan jebakan. Mau jawab jujur atau bohong, pasti perempuan itu akan tetap memarahinya. Tapi untungnya kini Naura langsung lupa dengan pertanyaannya.


Vino mengusap punggung tangan istrinya, kemudian mengecupnya dngan lembut, "oke, jadi kalau nanti Naura menanyakan pertanyaan yang sama lagi, tinggal aku ajakin dia shoping aja," gumam Vino dalam hati, dengan salah satu ujung bibirnya yang terangkat.


****


"Sayang, aku ke toilet dulu ya. Kamu mau ikut, apa mau nunggu disini aja?" tanya Vino saat keduanya sudah sampai di salah satu mall besar yang ada di kota itu.


"Aku nunggu di sini aja deh, tapi kamu jangan lama-lama ya?" ucap Naura yang langsung di balas anggukan oleh suaminya.


Naura mengedarkan pandangannya ke setiap jajaran toko yang ada di mall besar itu, kakinya langsung melangkah memasuki salah satu toko yang di dalamnya terdapat baju-baju yang di pajang dengan rapi.

__ADS_1


Mata Naura tertuju pada daster lengan pendek dengan renda yang menjadi hiasan di bagian ujung lengan dan dada, "bahannya lembut, dingin juga, kayaknya nyaman kalau di pakai," gumam Naura sambil terus memperhatikan baju itu.


"eh tapi, aku cocok gak ya pakai ini," Naura mengangkat daster itu lalu menempelkannya pada tubuhnya. Naura memang belum pernah memakai daster. Padahal dirinya selalu di tawari oleh teman-temannya di akun media sosialnya, mulai dari daster yang katanya viral sampai model daster yang sekarang sedang dia pegang.


Naura iseng melihat bandrol yang menempel di bagian ujung daster, "ohmaygat, harga segini sih aku bisa dapat 5 kalau beli di teman aku," mata Naura terbelalak, saat melihat angka yang tertera di situ. Dengan cepat perempuan itu langsung menyimpannya kembali.


"Ada yang bisa saya bantu, Mbak?" tanya seorang penjaga tokok yang tersenyum ramah kearah Naura.


Naura sedikit terkejut, "enggak Mbak, saya cuma lihat-lihat dulu, sambil nungguin suami saya," jawab Naura sambil membalas senyum yang tak kalah ramah dari perempuan itu, "tapi kok harganya mahal-mahal ya, Mbak?" celetuk Naura dengan iseng.


Wajah penjaga toko itu seketika berubah datar, perempuan itu melipat tangannya di atas dada, memperhatikan penampilan Naura dari ujung kepala sampai ujung kaki, "wajahnya cantik banget, bajunya import, tasnya branded, sepatunya juga limited edition, tapi kok masa dengan penampilan seperti itu dia bilang mahal," gumamnya dalam hati.


Perempuan itu terus memperhatikan Naura, "Mbaknya lagi hamil ya?" kata perempuan itu dengan tatapan sinis.


Naura mengangguk sebagai jawaban, dengan senyum yang masih menghiasi wajah cantiknya.


"Fix, pasti tuh cewek jual diri, atau kalau enggak dia jadi istri muda Bapak-bapak tua yang tajir," gumam perempuan itu dalam hati.


"Yaudah, kalau Mbaknya gak mau beli, gak usah lihat-lihat di toko ini, atau kalau gak punya uang, kenapa gak minta di transfer aja sama suaminya," perempuan itu berujar dengan tatapan yang terlihat meremehkan Naura.


Penjaga toko itu merotasikan matanya, "gue jadi penasaran, seperti apa tampang suaminya, palingan juga kepalanya sudah botak, tubuhnya pendek, terus perutnya pasti buncit," gumam perempuan itu dalam hati.


"Oh, yaudah kalau gitu, tapi sebaiknya Mbak nunggunya jangan disini. Soalnya bisa menghalangi orang yang mau beli," ujar perempuan itu.


"Ada apa ini? siapa yang menghalangi," kata Vino yang baru datang.


Mata perempuan itu berbinar, saat melihat lelaki yang ada di hadapannya. Dia tau betul siapa lelaki yang sedang melihat kearahnya, Vino Putra Sanjaya, pengusaha muda yang sudah sukses di usia muda, bahkan penjaga itu juga tau kalau Vino menyimpan sahamnya di mall besar ini, "itu pak, masa Mbak itu kesini cuma buat lihat-lihat aja, kan bisa menghalangi orang yang mau beli, terus kalau baju-baju di sini jadi rusak, nanti saya bisa di marahi sama bos saya," ujar perempuan itu, sambil tersenyum sinis ke arah Naura.


"Sayang, kamu sudah menemukan baju yang cocok," Vino menatap wajah Naura yang sedang menampilkan wajah datar.


Mata penjaga toko itu terbelalak saat mendengar kata sayang tang terucap dari mulut Vino, dengan suara yang sedikit bergetar, perempuan itu bertanya "Tuan, siapanya Mbak itu?"


Vino tersenyum, tangannya langsung merangkul pinggang Naura, "ini istri saya," jawab Vino begitu bangga, dengan tatapan yang terus tertuju pada Naura. Namun wajah Vino seketika berubah datar, saat menatap ke arah penjaga tokok yang kini menundukan kepalanya, "panggil bos kamu!"


Dengan cepat, perempuan itu langsung melangkah memanggil bosnya.


"Pak Vino, ada apa ya? apa ada yang bisa saya bantu?" tanya wanita yang ternyata pemilik toko itu.

__ADS_1


"Kita pindah ke toko lain aja yu, aku gak suka di sini, pelayannya SONGONG!" ujar Naura dengan mengeraskan kalimat terakhirnya.


Vino menatap wanita yang sedang menunduk di hadapan Vino, "Anda paham dengan perkataan istri saya barusan!"


Vino memasukan sebelah tangannya ke dalam saku celana, "pecat dia! kalau Anda masih mau berjualan disini."


****


Naura terus menggerutu pada suaminya, bahkan sampai sekarang dirinya sudah sampai di kamar, "kamu tuh ya! gak seharusnya bertindak kaya tadi, kan kasian pelayan itu, dia pasti sekarang lagi sedih gara-gara kehilangan pekerjaan. Terus ini! kenapa kamu memindahkan semua isi toko itu ke sini, mau di simpan dimana baju-baju sebanyak ini. Apa kamu mau jadiin kamar kita toko, hum!


Vino hanya membalas setiap ocehan yang keluar dari mulut istrinya dengan tersenyum, "kamu makin gemesin deh kalau lagi ngomel kaya gitu, terusin aja, aku suka kok!"


Vino memiringkan tubuhnya, sebelah tangannya berada di pinggang Naura, sebelah tangannya lagi sudah memegang tengkuk Naura.


"Vinooo!" Naura mendorong dada Vino, saat lelakinya itu mulai mendekatkan wajahnya.


"Kamu sengaja ya, panggil aku kaya gitu, biar dapat hukuman?" bisik Vino di samping telinga Naura, yang berhasil membuat tubuh perempuan itu menegang.


-


-


-


-


-


**Ada nyang tau, kira-kira daster apa yang Naura pegang?πŸ˜‚πŸ˜‚


Votenya dong gaes, di klik. Point gratis kok.


Nyang gak punya point, boleh like sama koment aja, kalau bingung mau ngoment apa, tulis aja next.


Terima Kasih


Salam,,, Semangat kondangan terus gaesπŸ˜ŒπŸ˜‚**

__ADS_1


__ADS_2