
Ibu bisa menggantikan siapapun. Tapi, tidak akan pernah bisa digantikan oleh siapapun.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Naura menyalurkan seluruh rindunya. Pada sosok ibu yang sekarang ada di pelukannya. Satu tahun tidak berjumpa, membuat rasa itu kian menggebu.
Perlahan Naumi melepas pelukannya, diusapnya kepala putrinya itu. "Kita kedalam yu," ajak wanita itu.
Naura tersenyum menganggukan kepalanya, mereka berjalan masuk dengan tangan saling merangkul.
Naumi menatap wajah cantik Naura, dia bisa melihat mata yang berbeda dari putrinya itu. Wanita itu langsung mengambil gelas dan menuangkan air putih ke dalamnya, lalu menyodorkan gelas itu pada putrinya. Ingin sekali, dia menanyakan ada apa, tapi mengingat sekarang sudah larut malam, Naumi mengurungkan niatnya. "Sebaiknya kamu istirahat dulu, Ra."
Naura mengangguk melangkahkan kakinya dan menyeret kopernya ke kamar yang dulu biasa dia tempati.
****
Sementara ditempat lain, Vino masih terbaring lemah di atas ranjangnya.
Flashback on
Anita, yang merasa heran karena Vino tidak juga keluar dari kamar, wanita itu hendak masuk ke kamar anaknya, baru saja dirinya membuka pintu, matanya langsung terbelalak saat melihat keadaan putranya yang nyaris tak sadarkan diri, dengan tampilan yang terlihat berantakan dengan wajah yang dipenuhi lebam. "Vino! kamu kenapa Nak?" diangkatnya kepala Vino, ke atas pangkuannya.
Andre yang mendengar jeritan dari istrinya, pria itu langsung datang menghampiri. Pria itu juga tak kalah kaget saat melihat putranya.
Anita yang hendak membawa Vino ke Rumah sakit, mendapatkan gelengan keras dari anaknya. Dengan perlahan Vino mengangkat tubuhnya, mendudukannya di atas ranjang. Dengan penuh kasih sayang, Anita mengobati setiap luka Vino.
"Ada apa?" Pertanyaan singkat dari Andre, sontak membuat Vino menundukan wajahnya.
Plakkk.
Tamparan keras, melayang begitu saja, saat Andre mendengar penuturan dari putranya. "Kali ini, Papa kecewa sama kamu!"
Anita yang kaget dengan semua pengakuan Putranya, hanya menggeleng, menutup mulut dengan kedua tangannya, dan tanpa di perintah, butiran bening keluar dari matanya. Wanita itu semakin histeris, melihat Andre yang mengayunkan kembali tangannya. "Sudah Pah! ini bisa kita bicarakan baik-baik," ujar wanita itu dengan tangan yang menyentuh tangan suaminya, mencoba menenangkan keadaan lelaki itu.
Andre menepis sedikit kasar tangan istrinya, dia berbalik, melangkahkan kakinya keluar dari kamar Vino.
Hati Vino mencelos, melihat luka yang sudah ia torehkan, untuk kedua orang tuanya. Baru kali ini dirinya melihat kekecewaan dari orangtuanya itu.
__ADS_1
Flashback off
Vino mengguyur tubuh nya, Dia benci dengan dirinya sendiri. Air yang terus jatuh mengenai kulitnya, membuat dia merasakan pedih. Namun itu tidak seberapa, Vino mengingat sudah banyak perasaan orang yang dia sakiti. "Aarrgghtt!" Erang Vino sambil memukul tembok yang ada di depannya. Vino merutuki kebodohannya, saat mengetahui Naura sudah pergi dari kontrakannya.
****
Naumi terus memperhatikan putrinya, yang hanya mengaduk sarapanya. "Kamu sebenarnya kenapa?" tanya wanita itu dengan wajah yang terlihat penasaran saat menatap putrinya.
Naura yang sedang melamun, nampak kaget saat tangan ibunya menyentuh punggung tangannya.
Kedua adik Naura sudah berangkat ke sekolah. Kini hanya tinggal Naura dan ibunya, duduk di atas meja makan kecil. Naura berlari ke arah kamar mandi, merasakan rasa mual yang menyerangnya.
Naumi mengikuti putrinya, dengan penuh kasih sayang, Naumi memijit tengkuk putrinya.
Naura yang sudah keluar dari kamar mandi, langsung berlutut di depan ibunya. "Ibu, maafin Naura," tutur perempuan itu yang langsung menangis dengan sesenggukan.
Naumi kaget dengan putrinya yang tiba-tiba menangis. Naumi memegang pundak Naura, megajak putrinya untuk berdiri. Ditatap wajah putrinya itu, dengan tatapan yang teduh. "Kamu gak pernah salah sama Ibu, kamu putri kebanggaan Ibu, kenapa kamu minta maaf?" ucap wanita itu menenangkan putrinya.
Air yang keluar dari mata Naura semakin deras, saat mendengar kalimat yang terlontar dari mulut ibunya itu.
"Aku hamil, bu."
Naura langsung melangkah, kembali bersimpuh di hadapan ibunya. "Maafin aku, Bu. Tapi aku tidak tau siapa Ayah dari janin ini."
Naumi memegang dadanya yang kini terasa sesak. Air matanya keluar. Dia tidak percaya dengan semua ini.
"Aku gak tau kenapa ini terjadi sama aku, Bu. Aku tidak melakukan apapun," ujar Naura.
Naumi menatap dalam mata putrinya, terlihat kesedihan dari mata itu. "Kenapa, kamu harus mengalami semua ini nak?" ucap Naumi dengan suara yang bergetar.
Naura terus menangis, dia merasa bersalah, telah membuat ibunya bersedih.
Naumi berjalan menuju pintu jendela yang tertutup, dibukanya jendela itu. "Dulu ibu ikhlas saat mengetahui ibu hamil dan melahirkan kamu. Meskipun tanpa kehadiran seorang suami, tapi sekarang ibu tidak terima, kenapa kamu harus mengalami hal yang sama."
Deg, Naura mengangkat kepalanya, keningnya mengerut, dia tidak mengerti dengan maksud dari perkataan ibu nya.
"Maksud Ibu, apa?" Naura terus menatap wajah ibunya, dia menunggu kalimat jawaban yang akan keluar dari mulut ibu nya. Terlihat kesedihan sekaligus keraguan dari mata ibunya.
__ADS_1
"Ayah kamu, pergi setelah beberapa bulan kami menikah. Tapi, itu bukan salahnya. Ibu yang memaksa dia untuk meninggalkan ibu, bahkan dia tidak tau, kalau saat itu Ibu sedang mengandung kamu."
Naura seketika limbung, dia terlalu kaget dengan penuturan ibunya. "Lalu siapa Pak Hasan?" tanya Naura, kepalanya semakin dipenuhi pertanyaan. Selama ini, yang dia tau Hasan adalah ayahnya, meskipun lelaki itu sudah meninggal beberapa tahun yang lalu.
"Hasan, bukan ayah kandung kamu, dia menikahi ibu. Saat ibu sudah melahirkan kamu."
Kepala Naura menjadi sakit, soal kehamilannya, dia masih bingung siapa ayah dari janin yang di kandungnya. Ditambah, sekarang dia tidak tau, siapa ayah kandung dirinya yang sebenarnya.
Naumi yang sedang menangis, tersentak dengan suara pintu yang di ketuk. Dia berjalan menuju pintu itu. Naumi kaget dengan sosok lelaki yang tidak ia kenal, yang sekarang ada di depannya.
"Apa benar ini rumah Naura?" tanya lelaki itu sambil tersenyum ramah kearah Naumi.
Naumi yang masih bingung hanya mengangguk. "Iya betul silakan masuk," jawabnya dengan sedikit ragu pada lelaki itu.
Naura mengenal lelaki itu, lelaki yang pernah mengungkapkan perasaan kepadanya. Lelaki itu juga yang kemarin menolongnya dari orang-orang yang sudah mendzoliminya. Naura heran kenapa sekarang lelaki itu datang ke rumahnya.
Setelah dipersilahkan duduk, Dimas tersenyum ke arah Naura. "Bagaimana keadaan kamu, Ra?"
Naura mendadak bingung, saat Dimas, mengutarakan keinginan nya untuk menikahi Naura, lelaki itu mengatakan bersedia menjadi ayah untuk bayi yang sedang di kandungnya. "Aku, gak mungkin biarin kamu, bertanggung jawab dengan kehamilan aku, biar gimanapun kamu bukan ayah dari janin ini."
Dimas memperdekat jaraknya dengan Naura. Dengan wajah yang terlihat sungguh-sungguh, digenggamnya tangan mungil Naura. "Dari dulu aku mencintai kamu, Ra. Aku bersedia nerima kamu, dengan keadaan kamu yang sekarang," ujar lelaki itu dengan tatapan yang terlihat penuh keyakinan.
"Menikahlah dengan aku," imbuhnya kemudian yang berhasil membuat Naura membisu ditempatnya.
Naura mendadak bingung. Dia tidak mencintai Dimas, tapi dia juga tidak mungkin membiarkan ibunya semakin malu, jika tetangganya mengetahui kalau Naura sedang hamil tanpa seorang suami. perempuan itu teringat kejadian saat semua tetangga kontrakannya mencaci maki dengan mulut kasar mereka.
Tidak, Naura menggelengkan kepalanya saat mengingat itu. Naura tidak mau hal itu terjadi kembali di kampung halamannya.
"Aku, mau nikah sama kamu," jawab Naura dengan suara lirih.
Ibu Naura yang baru saja meletakan gelas minuman ke atas meja, mendongak kearah Naura saat mendengar jawaban dari pertanyaan Dimas.
"Kamu yakin nak?" Naumi yang sudah duduk di samping Naura memegang tangan putrinya itu. Dia mencoba mencari kesungguhan dari mata putrinya.
Dengan senyuman yang terlihat terpaksa, Naura menganggukan kepalanya.
Naumi yakin, putrinya itu terpaksa. Tapi, walau bagaimanapun, dia menghargai keputusan putrinya, dan akan mendukungnya.
__ADS_1
Dimas tersenyum mendengar jawaban dari Naura. "Kalau begitu, sebelum perut kamu semakin membesar, lebih baik minggu depan kita adakan pernikahannya."
Bersambung...