
Di usianya yang menginjak empat bulan, kini bayi perempuan yang bernama Keyzia Savira Maharin Sanjaya itu sudah bisa berguling, dari posisi terlentang ke tengkurep, dan sebaliknya.
Setiap harinya, bayi cantik itu terlihat semakin menggemaskan.
"Papapapap," adalah kata pertama yang terdengar jelas yang keluar dari mulut mungil bayi itu.
Vino yang sedang melangkah menuju keberadaan bayinya itu terlihat takjub, dengan kalimat yang baru didengarnya.
"Ra?" panggil pria itu kepada wanita yang sedang berada di dapur.
"Sayang?" ulangnya kembali, saat istrinya itu tidak merespon panggilannya.
Entah apa yang sedang di lakukan wanita itu, sehingga membuatnya begitu lama berada di situh.
Vino yang merasa heran dengan apa yang sedang di lakukan istrinya itu, akhirnya Vino menyusul Naura.
Tapi sebelum langkahnya itu sampai, Naura sudah lebih dulu datang dari lorong itu, dengan botol susu yang ada di tangannya.
"Sayang, kamu tau gak? Zia tadi panggil aku loh," ucap pria itu dengan wajah yang terlihat begitu gembira.
Naura menyodorkan botol itu ke arah suaminya. "Oh," balas wanita itu seolah tanpa minat. Membuat pria yang ada di hadapannya itu mengerutkan keningnya.
"Kamu kenapa sih, kok kaya gak seneng gitu saat mendengar perkembangan anak kita," tanya Vino yang kini menatap wajah Naura.
Naura mendelik kesal saat tatapan keduanya bertemu. Wanita itu langsung melangkah, menuju sofa yang ada di ruangan itu.
"Aku udah tau, makanya aku sebal," jawab wanita itu, yang kini menyandarkan tubuhnya.
Vino melangkah menuju sofa, "kok gitu?"
"Yaiyalah, aku loh Mas, yang hamil, yang ngandung dan melahirkan Zia, tapi saat dia mulai bisa bicara, malah kata 'Papa' yang keluar dari mulutnya," ujar wanita itu dengan kesal.
Vino terkekeh, "jangan gitu dong, masa kamu marah sih, kasian tau Zia nya, tuh sampai ngeliatin kamu kaya gitu."
"Mami gak marah sama Zia kok," ucap wanita itu dengan wajah yang terlihat menyesal.
__ADS_1
Naura mengambil alih bayinya, "Sayangnya Mami, coba panggil Mami dong."
Naura mulai mengajarkan bayi cantik itu untuk menyebutkan panggilan untuknya, "Ma-mi."
Wanita itu mulai terlihat berbinar, saat bayinya itu terlihat mulai merespon.
"Papapapa," ucap bayi itu, yang seketika membuat Naura kembali berdecak.
Naura semakin gencar mengajari putri kecilnya itu, namun tetap saja, bayi itu tidak mengikutinya.
Vino tergelak menyaksikan perjuangan istrinya yang tidak kunjung mendapatkan hasil.
****
Pagi hari, Vino yang sudah siap dengan setelan kerjanya, pria itu melangkah menuju kamar sebelah yang menjadi kamar Zia.
Pria itu mempercepat langkahnya, saat mendengar putri kecilnya itu menangis, "Zia sayang, kenapa nangis?" ucap pria itu mulai menenangkan bayinya.
"Nyonya lagi di dalam kamar mandi, Tuan," ucap asisten rumah tangga yang juga ada di kamar itu.
Setelah merasa bayinya mulai tenang, pria itu memberikan Zia pada asisten rumah tangganya.
Vino melangkah, menuju kamar mandi, "Ra, Aku berangkat kerja dulu ya."
Vino menunggu jawaban dari istrinya. Namun yang dia dengar hanya suara air yang keluar dari keran.
Pria itu membuka pintu kamar mandi, "Sayang, kamu lagi a- pa?"
Vino langsung mempercepat langkahnya, saat melihat istrinya itu sedang menunduk di depan wastafel.
Setelah dirasa semua isi perutnya sudah dimuntahkan. Naura langsung mencuci wajahnya dengan air yang ada di situ. Wanita itu mendongak, menatap wajah suaminya.
"Kamu kok tiba-tiba muntah, pasti kamu masuk angin, gara-gara keluar malam-malam."
Vino menduga seperti itu, karena semalam Naura tiba-tiba ingin makan sate, dan dengan keras kepalanya, wanita itu ingin membelinya sendiri.
__ADS_1
Naura mendelik sebal, "iya, dan yang masukin angin nya itu kamu, Mas!"
Vino membuka mulutnya secelah, dirinya hendak menanyakan apa maksud dari perkataan istrinya itu. Namun melihat tatapan tajam yang terpancar dari istrinya, membuat pria itu mendadak takut.
"Sayang, kamu kenapa?" tanya pria itu dengan bingung.
Naura tidak menjawab pertanyaan suaminya. Wanita itu mengarahkan pandangannya pada benda kecil yang dia simpan di samping wastafel.
Vino mengikuti arah tatapan Naura, dirinya melihat benda kecil yang dia tau itu apa.
Dengan cepat dirinya mengambil benda itu, "YES, GARISNYA DUA DONG."
TAMAT
Like + Koment tentang cerita ini, kesan, pesan, yang kalian gak di sukai sama yang di sukai dari cerita ini.
**Vote juga yang banyak, masih di tunggu sampai kapanpun, meskipun sudah tamat.
BUAT KENANG-KENANGAN**πππ
-
-
TERIMA KASIH BANYAK BUAT KALIAN YANG SUDAH SETIA NYIMAK CERITA YANG GAK BERFAEDAH INI. YANG SUDAH NINGGALIN JEJAK, NGASIH KRITIKAN, NGASIH SARAN, NGASIH HUJATAN, NGASIH JEMPOLNYA, NGASIH POINT, KOINT, YANG SELALU NGASIH DOA TERBAIK BUAT AKU.
KARENA ANTUSIAS KALIAN, AKU SAMPAI RELA GADANG, NGASUH ANAK SAMBIL NGETIK, DEMI CERITA INI BIAR BISA SAMPAI TAMAT.
INTINYA AKU BENER-BENER TERIMAKASIH BANGET, YAπ€π€
BUAT YANG MASIH PENGEN TAU LANJUTAN KISAH NYA BABANG ALDI, AKU PINDAHIN YA DI JUDUL BARU, SOALNYA KALAU TERUS DI LANJUT DI SINI,JADI GAK NYAMBUNG SAMA JUDULNYA.
KEUR TEH TI AWAL GE TOS TEU NYAMBUNG, YA??πππππ
__ADS_1
OKEDEH DI TUNGGU YA DI LAPAK BANG Alπ€π€KALIAN KLIK AJA PROFIL AKUππ