Tiba-tiba Hamil

Tiba-tiba Hamil
58


__ADS_3

Tepat jam 00.00 semua orang yang ada di ruangan itu berteriak, meniup terompet dan menyalakan petasan kecil.


Naura mematung, dengan pelan dirinya memutar tubuhnya. Menatap satu per satu dengan wajah datar,orang-orang yang ternyata ada di ruangan itu.


Naura sempat terpana, dengan dekorasi ruangan itu, rangkaian bunga yang di tata begitu rapi dan terlihat indah saat di pandang, balon gas warna warni yang mengapung, balon hurup yang menempel di dinding bertuliskan Happy Birthday NAURA, juga kue ultah yang menjulang tinggi berada di tengah-tengah tulisan itu.


Suara terompet terhenti, setelah Vino memberikan isyarat. Vino melangkah menuju istrinya, menggenggam tangan Naura yang masih terasa dingin.


Dengan cepat Naura melepaskan tangannya dari genggaman Vino, "jadi semua ini rencana kamu, Mas! kamu kira, kamu udah berhasil prank aku itu lucu! kalau anak kita kenapa-kenapa gara-gara aku ketakutan gimana! kalian semua, tega sama aku!"


Naura memutar kembali tubuhnya. Vino dan semua orang yang ada di sana tertegun dengan perkataan Naura. Sungguh di luar ekspektasi, mereka kira Naura akan senang dengan kejutan itu, tapi yang ada...


Naura melirik "kamu kaya anak kecil Vin! gak mikirin akibat dari ulah kamu!"


Vino langsung memeluk tubuh Naura dari belakang, "maafin aku sayang, tapi ini semua ide Riko."


Merasa namanya disebut, Riko yang baru saja membuka penutup wajah, langsung melangkah ke arah keduanya, Riko berdiri di belakang tubuh Vino, "maaf Ra, tapi sebenarnya awal ide ini dari Nadin sama Nia."


Nadin juga Nia tidak terima saat namanya di sebut, dengan cepat keduanya mengajukan protes, "tapi kan Pak Riko yang bertanya, kami hanya iseng, terus kenapa Bapak setuju!" tanpa merasa takut, Nia menatap Riko dengan wajah datar.


Riko kelabakan, dirinya langsung menatap Vino, "lagian elo juga setuju Vin, elo bilang asal gue gak nyentuh Naura."


Vino menggeram, rahangnya sudah mengeras, "jadi elo nyalahin gue? gue kan tadi cum-"


Naura membalikan tubuhnya, "diam" potong Naura dengan cepat.


Dengan sorot mata yang tajam, Naura menatap mereka semua, "kalian semua sama, tega, egois! aku gak mau lagi ketemu sama kalian! apalagi kamu, Mas," Naura menunjuk wajah suaminya, "aku benci sama kamu! aku juga gak mau lagi lihat wajah kamu!"


Semua orang tersentak dengan perkataan Naura, wajah mereka sudah menunduk, karena ketakutan, apalagi Vino yang wajahnya sudah memerah karena takut dengan ancaman istrinya.


"Tapi boong..." teriak Naura yang berhasil membuat wajah mereka mendongak menatap Naura.


"Naura..." teriak Andin dan Nia barengan, mereka semua berlari, memeluk tubuh sahabatnya.


Pelukan mereka terlepas, Naura tertawa, sungguh lucu saat melihat wajah sahabat juga suaminya yang terlihat pucat karena ketakutan.


"Kamu beneran gak marah kan, Yang?" Vino memegang pundak istrinya, menatap mata istrinya, mencari jawaban dari situ.


"Enggak, Mas. Apa kamu mau aku beneran marah nih?" Naura menatap wajah suaminya, sekuat tenaga menahan tawanya yang hampir kembali pecah.


"Ya jangan dong, tadi aja aku udah takut, sumpah. Aku takut perkataan kamu beneran.

__ADS_1


"Satu sama, wlee" Naura menjulurkan lidahnya.


Vino yang merasa lega, tidak henti-hentinya terus menghujani Naura dengan kecupan di kepalanya, "awas kamu yah, berani ngerjain aku."


Naura tertawa, namun wajahnya kembali datar menatap suaminya, "tapi kamu beneran buat aku ketakutan tau, pake nyuruh Riko nodongin senjata ke aku."


Vino menatap wajah Riko yang ada di belakang tubuhnya, "kamu nodongin senjata!" mata Vino melotot.


"I-iya, habisnya gue bingung lihat Naura histeris, lagian itu senjata boongan, punya ponakan gue yang kebetulan ketinggalan di mobil."


Riko menatap Vino dengan takut, "sumpah Vin, boongan," saat melihat tatapan Vino yang semakin tajam, Riko mengeluarkan dan memberikan pistol mainan, namun tampilannya memang sangat mirip seperti pistol sungguhan, "nih periksa kalau lo gak percaya."


Vino mengambil pistol mainan itu, dan mengarahkannya pada wajah Riko.


"Njirrr," Riko berteriak saat air keluar dari pistol mainan itu, "sialan lo Vin!"


"Hahahahahahaha."


Semua orang tertawa saat melihat wajah Riko basah karena ulah Vino.


"Nah itu, senjata makan tuan namanya, hahahaha" Vino terbahak saat melihat wajah kesal sahabatnya.


"Gapapa kok," Naura mengusap pelan sebelah punggung Aldi, "dengan kamu yang udah nyelamatin ayah aku aja, itu sudah jadi kado termahal buat aku."


Pelukan keduanya terlepas, saat Vino dengan paksa menarik kerah baju Aldi, "gak usah lama-lama," selorohnya, namun terlihat ada raut cemburu dari wajahnya.


"Apa sih, orang lagi enak-enak di peluk juga," jawab Aldi yang membuat Naura melemparnya dengan tatapan sebal.


"Nyesel aku balas pelukan kamu," Naura berdecak sebal. Tapi Naura tidak bisa menyangkal, ada rasa nyaman yang di rasakannya saat berada di pelukan seorang Aldiano Bima Saputra.


"Kapan nih potong kue nya, aku udah ngiler nih pengen nyoba tuh kue," teriak Andin yang mendapat pukulan di kepalanya dari Nia.


"Sakit beg*! suka gak kira-kira lu mah kalau mukul," Andin berdecak sambil mengusap kepalanya.


"Lagia lo, malu-maluin banget jadi orang!" Nia memutar bola mata malas.


Naura yang kini di rangkul suaminya, berjalan ke arah kue itu berada, "yaudah, yuu kita potong," katanya yang berhasil membuat wajah Andin mengangguk antusias.


"Gak mau nungguin kita dulu nih," Anita masuk dengan menggandeng tangan Naumi, selang beberapa detik kemudian, Rainald juga datang.


"Mama, Ibu," teriak Naura yang langsung berjalan ke arah mereka.

__ADS_1


Naumi langsung memeluk tubuh putrinya, "selamat ulang tahun ya sayang, semoga kamu selalu bahagia, jadi istri yang nurut buat suami kamu."


Naura mengangguk, "kapan Ibu sampai, kesininya sama siapa?"


Naumi tersenyum, melepaskan pelukannya, "tadi Ibu di jemput sama orang suruhan suami kamu."


Naura melirik Vino, "makasih ya, Mas" tersenyum ke arah suaminya, yang mendapat anggukan dari lelakinya itu.


Anita langsung memeluk tubuh Naura, "selamat ya sayang, kadonya nanti nyusul ya," Naura tersenyum, mengangguk, "gak usah repot-repot, Mam."


Anita menggeleng, "gak repot kok, lagian Mama emang sudah menyiapkannya untuk kamu."


"Ayah juga kesini?" Naura langsung memeluk tubuh pria yang dari tadi menatapnya.


"Selamat ulang tahun putriku," katanya yang sedikit gugup saat sempat melirik Naumi, wanita yang sudah menjadi mantan istrinya.


Riko, Nia, dan Andin bergantian memberikan kado, yang mendapat balasan ucapan terima kasih dari Naura, "kalian seharusnya gak usah repot-repot kaya gini."


"Gak repot kok, Ra. Oh iya, Bunda nitip salam sama kamu, katanya kadonya yang waktu itu," Nia mengedipkan sebelah matanya.


Naura yang paham, langsung tertawa, kado dari bundanya Nia ialah baju yang waktu itu dipakai ke pesta ulangtahun kantor Vino, baju yang menjadi saksi perlakuan bejat seorang Vino Putra Sanjaya. Tapi karena baju itu, kini Naura sudah bahagia dngan lelaki yang sekarang menjadi suaminya dan calon bayi yang ada di perutnya.


-


-


-


-


-


**Nyang belom ngasih kado, masih di tunggu ya😁


Vote, vote, vote. Nyang udah boleh di tambahin lagi, biar makin seneng Nauranya😂 😂 😂


Like, koment juga ya gaes.


Terima kasih🤗🤗


Salam... Semangat**!!!

__ADS_1


__ADS_2