Tiba-tiba Hamil

Tiba-tiba Hamil
38


__ADS_3

Banyak typo bertebaran. maaf buru-buru.


Happy Reading gaess!!


-


-


-


Suara alarm yang begitu nyaring, membuat Naura memaksakan untuk membuka bola matanya. Dia sengaja memasang alarm di ponselnya, supaya dirinya tidak kembali kesiangan seperti kemarin. Naura mematikan alarm itu.


Baru satu jam Naura bisa tertidur. Semalaman, suaminya itu benar-benar tidak memberinya waktu untuk istirahat. Saat Vino selesai mandi, suaminya itu kembali melancarkan aksinya. Naura yang selalu tidak bisa menolak setiap sentuhan Vino. Membuat mereka kembali melakukannya lagi.


Naura bangun, merasakan sekujur tubuhnya yang terasa remuk. Senyumnya terbit, saat melihat lelaki yang masih terpejam, berada di sampingnya. Lelaki yang berhasil merobohkan benteng pertahanannya.


Buku jari Naura menyentuh pipi suaminya, mengusap pipi itu dengan sangat pelan. Tatapan Naura kosong. Perempuan itu kembali mengingat permintaannya pada Vino beberapa hari yang lalu, saat dirinya meminta Vino untuk menceraikannya. Dan sekarang, Naura sangat menyesali itu.


Naura berdiri, tubuhnya yang masih polos, dia tutupi dengan selimut tebal yang ada di ranjang itu.


Belum sempat dirinya melangkah, tangan kekar Vino menarik selimutnya. Membuat tubuh polos Naura kembali terlihat jelas oleh matanya.


Tangan Naura berusaha mengambil kembali selimutnya. Namun, dengan cepat, Vino melemparnya. "Vino!!" Naura melotot ke arah suaminya. Dengan wajah yang bersemu merah. Naura menyilangkan tangannya di atas dada dan area intinya. Beruntungnya, Naura melihat kaos Vino, yang berada di samping ranjangnya. Dengan cepat, Naura memakai kaos itu.


Vino tersenyum menyeringai. "Lagi yu, aku masih lapar." Vino menaik turunkan alisnya.


Naura melebarkan bola matanya, saat mendengar permintaan Vino. Bagaimana bisa, suaminya itu terus mengajaknya. Padahal Naura saja yang hanya diam, badannya sudah merasa sangat lelah.


Dengan kesal, Naura melangkahkan kakinya ke arah kamar mandi. Perempuan itu memutar badannya, melihat wajah suaminya yang masih tersenyum kearahnya. "Kalau mau makan, di ruang makan, jangan disini." Setelah mengatakan itu. Naura masuk ke dalam kamar mandi.


"Tapi aku maunya makan kamu, Ra." Naura mendelik sebal, saat mendengar teriakan Vino.


****


Vino berjalan kearah dapur. Senyumnya terbit, saat melihat istrinya sedang sibuk di depan kompor. "Kamu masak apa, Ra? baunya wangi banget." Tangan Vino melingkar di perut Naura. Rambut Naura yang dicepol, membuat lelaki itu dengan mudah menciu* leher jenjang istrinya.

__ADS_1


Naura merasakan sekujur tubuhnya meremang. Tangannya melepaskan tangan Vino. "Vino, jangan gangguin aku dong." Naura mematikan kompornya, saat dirasa masakannya sudah selesai.


Naura melangkah menuju meja makan, dengan piring yang ada di tangannya, kemudian menaruh piring itu di atas meja makan.


Vino mengikuti Naura dari belakang, menarik kursi untuk Naura. Setelah istrinya itu duduk, Vino juga menarik satu kursi lagi, untuk dirinya.


Perempuan itu menyodorkan satu piring Nasi goreng ke hadapan suaminya. Membuat suaminya itu tersenyum kearahnya.


Vino mengedarkan pandangannya ke arah tangga. "Tumben jam segini mama sama papa belum turun."


Naura menuangkan air putih ke gelas. "Tadi mama sama papa sudah sarapan. Mama buru-buru, ada panggilan dari Rumah sakit, terus kalau papa, aku gak tau, kayaknya papa juga buru-buru.


Vino mengangguk dengan jawaban istrinya. Jika di ingat, papanya itu memang sering keluar, dengan setelan kerja, entah mau kemana. Vino sendiri tidak pernah menanyakannya.


Naura memperhatikan wajah suaminya yang masih melamun. "Ayo dong, cobain masakan aku." Dengan cepat, Vino mulai memakan nasi goreng itu.


"Gimana, rasanya?." Naura terlihat menunggu jawaban suaminya. "Enak kok, eh maksud aku, enak banget." Entah karena lapar, setelah kegiatannya bersama Naura semalam. Yang membuat tenaganya terkuras. Atau mungkin karena nasi goreng itu beneran enak. Namun, Vino sangat lahap memakannya. Membuat senyum Naura merekah.


"Kok kamu enggak makan?, coba deh." Vino bermaksud menyuapi Naura. Namun istrinya itu malah menggelengkan kepalanya. Membuat dahi Vino mengerut.


"Kalau gak mau, kenapa kamu masak?" Vino tampak menunggu jawaban Naura.


"Aku sengaja, masak buat kamu." Jawaban Naura membuat Vino tertegun. Dia semakin jatuh cinta melihat istrinya. Sampai sekarang, dirinya masih belum percaya, kalau perempuan secantik Naura sudah menjadi istrinya.


Vino menarik ikatan rambut Naura, kemudiam mengacak rambut istrinya itu dengan gemas. Membuat Naura berdecak kesal.


"Terus, kamu mau makan apa?." Vino tersenyum menatap Naura.


"Aku gak mau apa-apa, tadi sudah minum susu hamil. Makannya nanti aja, kalau jam segini aku suka mual." Jawab perempuan itu sambil tersenyum.


Vino diam dengan wajah sendunya. Merasa kasihan, mengingat istrinya memang selalu muntah di saat pagi hari.


"Yaudah, tapi nanti kamu harus makan, yang banyak ya, biar dedenya sehat. Terus kamunya kuat" Vino tersenyum sambil mengedipkan sebelah matanya.


Naura mengerti dengan maksud perkataan Vino. Denga keras, perempuan itu mencubit perut suaminya. "Aww aww, Ra ampun, sakit." Setelah puas, Naura melepaskan cubitannya.

__ADS_1


"Kamu mau kemana?" Naura bertanya saat melihat suaminya berdiri dari kursinya.


Vino tersenyum. "Aku mau berangkat sekarang, takut keburu khilaf." Vino mencium kening Naura, dan mengusap perut istrinya yang masih rata. "Kamu baik-baik sama mama, di rumah ya. Papanya kerja dulu." Setelah mencium perut Naura, Vino melangkah, dengan tas kerja di tangannya.


"Eh, Ra." Vino berbalik, melangkah menuju Naura. Lelaki itu melupakan sesuatu yang sempat membuat pikirannya tidak tenang. "Kamu, kalau mau apa-apa, bilang ya, sama aku. Nanti aku beliin."


Naura tersenyum, setelah Vino kembali mendaratkan ciuma* di bibirnya.


Setelah Vino pergi, Naura mendudukan dirinya di atas sofa ruang tv. Perempuan itu tampak bosan. Kemudian, dia teringat dengan pesan yang di kirimkan oleh ibunya.


Naumi sudah mengirimkan sebuah alamat kepadanya. Dengan cepat, Naura berjalan ke lantai atas, menuju kamarnya.


****


Naura berdiri di depan pintu rumah. Perempuan itu mengecek kembali, alamat yang berada di ponselnya.


"Alamatnya sama," batin Naura. Dengan perlahan, Naura menekan bel yang berada di samping pintu itu.


Pintu terbuka, seorang wanita paruh baya, berdiri di di depan Naura. Dengan senyum ramah, wanita itu menatap Naura. "Maaf, apakah anda nona Naura? Tuan sudah menunggu di dalam." Tanpa menunggu jawaban dari Naura, wanita paruh baya itu langsung mempersilahkan Naura masuk.


-


-


-


-


-


**Satu kata buat Vino??😁


Seperti biasa, jangan lupa, like + komen ya. Votenya apalagi, jan kasih kendor. makasihh gaessπŸ˜πŸ€—πŸ€—


Salam... Semangat**!!!

__ADS_1


__ADS_2