
Nakisya yang tidak mengerti dengan maksud gadis itu, langsung menuntunnya masuk ke dalam kamarnya.
"Elo kenapa? kenapa lo nangis?" tanya Nakisya pada gadis yang kini duduk di hadapannya.
"Gue hamil."
Nakisya membekap mulutnya yang terbuka, dengan kedua tangannya, "lo hamil anak siapa?" tanya gadis itu dengan hati-hati.
"Gue hamil anak, Doni," ujar Auryn dengan air mata yang terus mengalir dengan deras.
Nakisya terlonjak, gadis itu memundurkan tubuhnya, "gak mungkin, lo pasti becanda kan?" tanya gadis itu dengan mata yang mulai terasa perih.
Auryn menggeleng, "gue gak mungkin mempermalukan diri gue sendiri dengan hal kaya gini."
Tanpa di perintah, dengan derasnya air mata Nakisya langsung terjun, "kapan kalian ngelakuin itu?" tanyanya dengan memalingkan wajah.
"Dari dulu gue suka sama cowok elo, dan gue pikir, setelah gue nyerahin tubuh gue, dia bakal mau nerima cinta gue. Tapi-" Auryn menjeda kalimatnya.
"Kemarin pas gue ngasih tau kehamilan gue, dia malah nyuruh gue gugurin kandungan ini, bahkan dia sampai tega jual gue ke pria hidung belang."
Tubuh Nakisya seketika langsung limbung, mendengar semua cerita tentang kekasihnya, meskipun dari dulu dirinya tidak dekat dengan Auryn, tapi sekarang dirinya benar-benar percaya dan langsung merasa iba pada perempuan yang selalu menjadikannya rival.
"Cowok yang selama ini aku perjuangkan, cowok yang selama ini aku cintai, bahkan hampir melebihi rasa cintaku terhadap Sang pencipta, ternyata di belakangku dia seperti itu, brengs*k!" gumam gadis itu dalam hati.
Nakisya menatap Auryn dengan iba, dirinya seolah dapat merasakan apa yang cewek itu alami.
Dalam hatinya, Nakisya terus bergumam, "bahkan dengan begitu bodohnya, aku selalu saja percaya dengan semua perkataannya, sampai-sampai aku hampir menyerahkan diriku seutuhnya."
Nakisya menggeleng, menghapus kasar wajahnya yang sudah basah dengan air mata, "sudah cukup, aku gak seharusnya menangis gara-gara cowok brengs*k seperti dia," gerutu Nakisya dalam hati.
Nakisya langsung menarik tubuh Auryn ke dalam pelukannya, "sudah kamu harus kuat, pasti ada solusi dari permasalahan yang kamu alami, sekarang kamu sabar dulu ya," ujar gadis itu memberikan semangat.
Auryn mendongak, "kamu harus bantu aku, kamu harus putusin Doni, dan suruh dia buat tanggung jawab dengan kehamilan aku," pintanya pada Nakisya.
Nakisya menatap lurus, pikirannya benar-benar kosong, "aku pasti ninggalin cowok brengs*k kaya dia, kamu tenang ya, aku bakalan bantu kamu supaya dia mau tanggung jawab," ucap gadis itu dengan sorot mata yang penuh ketulusan.
****
Nakisya yang baru saja mengantarkan Auryn, gadis itu langsung menyenderkan tubuhnya di atas sofa besar yang ada di ruang keluarga.
Bunyi pada telephone rumahnya membuat gadis itu tersentak dari lamunannya.
"Hallo, siapa ya?" tanya gadis itu.
"Kamu lihat berita di televisi, sekarang!"
__ADS_1
Nakisya mengerutkan keningnya, tanpa bertanya, gadis itu langsung menaruh gagang telephone nya, dan segera mengikuti perintah lelaki itu.
Nakisya mengambil remot televisi dan mencari chanel yang disebutkan lelaki itu.
"Astagfirulloh," gadis itu langsung kaget, saat melihat berita yang menampilkan tentang Doni.
"Tuh kan, Bunda dari dulu emang sudah yakin, dia itu emang lelaki gak bener," ujar wanita yang kini berdiri di belakang tubuh Nakisya.
Gadis itu memutar tubuhnya, "Bunda," rengek gadis itu dengan tubuh yang langsung berhambur pada tubuh bundanya.
"Kamu gak pernah di apa-apain sama dia kan?" tanya wanita itu dengan tatapan yang penuh selidik.
Nakisya mendongak, "enggak kok, Bunda. Cuma Kisya pernah ciu-," gadis itu menggigit bibir bawahnya, saat menyadari kebodohannya.
"Beg*! kenapa gue pake cerita segala sih," gerutu gadis itu yang kini mendapat tatapan tajam dari bundanya.
Widya mengerti dengan maksud anaknya. Wanita itu langsung melepaskan pelukannya, "oh, jadi kamu pernah ngelakuin itu!"
"Ngelakuin apa, Bund?" tanya pria yang baru saja datang.
Widya menatap ke arah suaminya, "ini Yah, anak kita sudah mulai nakal, hampir saja dia jadi korban lelaki brengs*k itu," ujar wanita itu dengan wajah yang mendelik ke arah Nakisya.
Widya langsung menceritakan semuanya pada suaminya, sedangkan Nakisya hanya menunduk, karena terus di marahi oleh kedua orang tuanya itu.
"Kalau kamu sudah berani seperti itu, kayaknya Ayah gak mungkin tinggal diam," ujar pria itu dengan yakin.
****
"Sudah lah Ayah, jangan maksa Aldi terus. Aldi yakin makan malam yang Ayah maksud pasti ujung-ujungnya perjodohan kayak kemarin," tolak lelaki itu yang kini melangkah menuju kamarnya.
"Mau sampai kapan kamu sendiri terus, adik kamu aja sudah punya anak. keburu jadi perjaka tua kamu!"
Aldi merotasikan matanya, "yaelah, gue udah gak perjaka kali," gumam lelaki itu dalam hati.
Aldi memutar tubuhnya, "sebentar lagi juga Aldi ganti status kok, Yah. Ayah sabar aja, pokoknya nanti Aldi kenalin deh sama Ayah," ucap lelaki itu dengan datar.
Rainald menghela napas, "kelamaan kamu, pokoknya sekarang kamu siap-siap, Ayah tunggu kamu di bawah."
****
Aldi dan Rainald sudah sampai di restoran, lelaki itu langsung mengedarkan pandangannya, mencari keberadaan orang yang akan di jodohkannya.
"Tadi kata Ayah, ceweknya sudah siap menikah, berarti udah tua dong dia," gumam lelaki itu dalam hati.
Seolah tanpa minat, Aldi terus melangkah mengekori Rainald.
__ADS_1
"Selamat malam Pa Bagas, Maaf ya saya telat," ujar Rainald yang merasa tidak enak gara-gara membuat calon besannya itu menunggu.
Aldi yang dari tadi menunduk, seketika langsung mendongak, saat mendengar nama yang di sebutkan ayahnya.
"Tidak apa-apa kok, saya juga baru datang, mari silakan duduk," ujar pria itu yang kini beralih menatap ke arah Aldi.
"Nak Aldi apa kabar?" tanya pria yang kini tersenyum ke arahnya.
"Baik. Pak Bagas kesini sama-," Aldi menghentikan kalimatnya saat tiba-tiba gadis yang akan dia tanyakan duduk di sampingnya.
"Ngapain kamu disini?" ketus gadis itu saat matanya bertubrukan dengan mata Aldi.
Tanpa menjawab pertanyaan gadis itu, Aldi langsung mendudukan tubuhnya. Tiba-tiba senyumnya terbit.
"Tante mana, Om?"
"Bunda masih di toilet," jawab gadis itu dengan ketus.
Aldi mengulum senyumnya, "sejak kapan kamu jadi om om?" bisik lelaki itu tepat di samping telinga Nakisya.
Nakisya melotot ke arah Aldi, yang dibalas tatapan menyeringai dari lelaki itu, hingga kini tatapan keduanya saling bertubrukan.
"Ekhem, kayaknya kalian sudah seakrab itu ya?" tanya Bagas dan Rainald nyaris barengan, yang membuat kedua pria itu tertawa.
Aldi tersenyum, "deket banget Om, bahkan kemarin kita sempet ketemu di-,"
"Aww," Aldi menghentikan kalimatnya, saat gadis itu menginjak kakinya dengan keras.
Nakisya menatap Aldi dengan bola mata yang nyaris keluar, "awas aja kalau sampai kamu cerita!" ancam gadis itu dengan suara pelan, yang hanya terdengar oleh Aldi.
"Kisya!" tegur wanita yang baru datang.
Aldi tersenyum ke arah wanita itu, "malam, Tante," ucap lelaki itu dengan ramah, yang di balas anggukan dari Widya.
"Nak Aldi mau ngomong apa tadi?" tanya Bagas yang masih menunggu kalimat dari lelaki itu.
Aldi melirik Nakisya, "em maksud saya," Aldi berdiri, mengambil sesuatu dari saku celananya, "ini ponsel Kisya," kemarin kebetulan kita gak sengaja ketemu, terus ponselnya Kisya tertinggal.
"Tertinggal dimna emang?" tanya Widya yang juga ikut penasaran.
-
-
-
__ADS_1
**Tolong di bantu, tekan Like + Rate bintang 5 + Vote + Koment (kalau bingung next aja)😁
Hatur Nuhun🤗🤗**