Tiba-tiba Hamil

Tiba-tiba Hamil
32


__ADS_3

"Aaaaaahhhhhhhh"


Suara Naura, memecah kesunyian di pagi buta. "Kamu! ngapain disini?" Naura melotot ke arah Vino.


Vino yang baru saja memejamkan mata, tersentak, menahan rasa kantuknya, Vino terlihat beberapa kali menguap.


Vino menyadari kesalahannya, yang membuat istrinya itu berteriak. "Maaf, Ra. Tadi Ibu ngebangunin aku, terus nyuruh aku, pindah ke kamar ini." Vino menggaruk tengkuknya padahal tidak gatal, lelaki itu tampak cengengesan.


Naura menghela napas lega, melihat pakaiannya yang masih utuh, menarik selimut untuk menutupi tubuhnya. Tapi, dia tidak percaya begitu saja sama Vino, mengingat dulu juga dirinya masih berpakaian utuh, tapi ternyata sudah di, "akkkh" Naura berteriak dalam hati.


"Kamu gak ngapa-ngapain aku kan!" sorot matanya yang tajam, menyiratkan kecurigaan.


Vino menggeleng cepat "enggak kok, Ra. Aku berani sumpah" sambil mengacungkan jari telunjuk dan jari tengah.


"Halah, lelaki kaya kamu tuh, mana bisa di percaya" Naura masih memicingkan matanya.


Tatapan Vino menjadi sendu "segitu gak percayanya kamu, sama aku" lelaki itu menunduk, mengingat kesalahan yang dulu pernah dia perbuat. Tapi itu kan diluar kesadaran, batin Vino membela.


Hati Naura sedikit terenyuh melihat tatapan itu, "ya tapi, kenapa meski tidur di ranjang!" Naura mendelik sebal.


Vino mengangkat kepalanya "Terus, aku harus tidur dimana dong?" Vino mengedarkan pandangannya. "Lagian, di kamar kamu gak ada sofa. Coba aja kalau ada, pas," Perkataan Vino terhenti.


"Oh, jadi kamu nyalahin aku? gara-gara di kamar aku gak ada sofanya! oh iya, kamu kan orang kaya. Jadi bisa dengan bebas buat ngehina keadaan aku yang gak punya apa-apa."


Salah lagi, batin Vino, "astaga, bukan itu maksud aku" Vino mengusap wajahnya dengan kasar. Dirinya benar-benar bingung harus berbuat apa, saat menghadapi kemarahan Naura.


"Terus maksud kamu apa?, orang kaya kamu tuh emang gak pernah mikirin perasaan orang lain" emosi Naura makin menjadi, perkataannya makin merambat kemana-mana.


Entah kenapa, akhir-akhir ini, emosinya selalu tak tertahan, apalagi saat bersama Vino, emosinya itu semakin menjadi berkali lipat.


"Aku beneran gak ada maksud kaya gitu, Ra. Aku minta maaf ya? udah bikin kamu tersinggung" Vino mencoba memegang tangan Naura. Tapi, seolah Naura bisa membaca maksud Vino, istrinya itu dengan cepat menepisnya.


"Aku juga minta maaf, udah berani tidur di samping kamu. Tapi, tadi Ibu maksa aku buat pindah kesini, beliau juga liatin aku, sampai aku tidur di samping kamu." Tapi boong, batin Vino.


Naura menghela napas kasar, otaknya mulai berpikir. "Kalau aku terus di rumah ibu, pasti ibu bakalan terus belain Vino" Naura berbicara dalam hati.


Naura menyingkap selimutnya, dengan langkah besar, dia mengambil koper yang berada di samping lemari. "Yaudah, aku mau ikut kamu pulang. Tapi, kamu tetep jangan curi-curi kesempatan lagi."


****


Naura sudah siap dengan koper besarnya, sedangkan Vino, dia hanya terlihat membawa tas selempang kecil.


Sebenarnya, waktu Vino dan keluarganya datang ke rumah Naura, dia hanya ingin meminta maaf, menjelaskan semuanya, dan bermaksud ingin melamar perempuan itu. Tetapi, ternyata dirinya di suguhkan dengan pemandangan, Naura yang akan dinikahi lelaki lain.


Sedangkan Aldi yang juga ikut mengantarnya, karena ingin mengetahui kabar Naura. Lelaki itu mengatakan sudah ikhlas, dan dia mengalah. Asalkan Vino berjanji untuk menjaga dan membuat Naura bahagia. Dia juga berjanji, akan merebut Naura, kalau Vino tidak menepati janjinya.


Naura menatap wanita yang sekarang ada di hadapannya "Ibu, Naura pergi dulu ya, jaga kesehatan Ibu. Jangan lupa, terus kasih Naura kabar" Naura memeluk tubuh ibunya, sebenarnya dia enggan untuk pergi. Tapi, mengingat ibunya selalu membela Vino, dan lagi pula, Naura berniat akan meninggalkan Vino, kalau bayinya itu sudah lahir.


"Titip salam buat Lisna ya bu," adiknya bungsunya sudah berangkat sekolah dari tadi.


Tatapan Naura beralih pada adiknya, "Dita, kamu jagain Ibu, sama Lisna ya, kamu juga, jaga diri baik-baik, jangan sampai terjebak sama cowok brengsek" Naura mengalihkan pandangannya ke wajah Vino.


Vino yang sadar dengan maksud perkataan Naura, hanya tersenyum.


Vino menjabat tangan ibu mertuanya, "Ibu, saya pergi dulu ya. Saya janji, akan jaga Naura dengan baik."


"Iya, kalian hati-hati ya, kamu harus sabar sama Naura, dia emang kaya gitu orangnya, maaf kalau nanti dia banyak nyusahin kamu."


Naura merotasikan matanya. Setelah mengucapkan salam pada ibu juga adiknya, Naura menyeret koper, tapi kemudian Vino mengambil alih, membawa koper itu.


****


Mobil melaju, meninggalkan kampung halaman Naura, sepanjang perjalanan mereka hanya diam. Walaupun sesekali Vino melirik istrinya itu.


"Stop, buka kunci pintu" perintah Naura mendadak. Sambil menutup mulut dengan sebelah tangan, Naura membuka pintu mobil. Perempuan itu berlari sambil mengedarkan pandangannya.


Vino yang merasa heran, hanya mengikuti arah Naura.


Saat menemukan toilet umum. Beberapa kali, Naura memuntahkan isi perutnya. Sebenarnya dari tadi dirinya sangat mual. Namun dia terus menahannya.


"Kamu, kenapa?" Vino memijat tengkuk Naura dengan pelan.

__ADS_1


Dirasa sudah tidak ada lagi yang ingin dia keluarkan. Naura mencuci mulutnya, dengan air yang ada di tempat itu, mengangkat wajahnya ke arah lelaki yang ada di sampingnya. Mata Naura terlihat berair, wajahnya pucat.


Vino langsung berlari ke mobil, dia mengambil air mineral, membuka tutupnya yang masih bersegel, menyodorkannya pada Naura.


Setelah meminum air dan menyerahkan kembali botol minumnya. Tatapan Naura yang sayu, menatap mata Vino


"Aku cape."


Tanpa basa-basi, Vino langsung mengangkat tubuh mungil Naura, melangkahkan kakinya menuju mobil.


Naura yang benar-benar sudah merasa lemas, dirinya hanya pasrah, menerima perlakuan suaminya.


Vino mendudukan tubuh Naura. Setelah dirinya duduk di depan kemudi. Vino menatap wajah Naura, tersenyum mengusap pipi Naura "kita lanjutkan perjalanannya lagi ya?"


Naura mengangguk, tanpa sadar, Naura membalas senyum Vino. Kepalanya yang masih pusing, membuatnya memejamkan mata.


Vino melirik wajah Naura yang sudah tertidur, menyibakan rambut yang menutupi wajah cantik istrinya itu "maafin aku, Ra. Gara-gara perbuatan aku, kamu jadi menderita seperti ini, susah payah mengandung anak kita." Cup, Vino menc*um kening Naura .


Vino melajukan kembali mobilnya, setelah sempat berhenti karena lampu merah.


🎶🎶


Still feels like our first night together


Masih serasa seperti malam pertama kebersamaan kita


Feels like the first kiss


Terasa seperti ciuman pertama


And it's gettin' better baby


Dan (cinta) itu semakin membaik sayang


No one can better this


Tak satupun yang lebih baik dari ini


Masih bertahan, kau masih satu-satunya


First time our eyes met


Pertama kali mata kita bertatapan


The same feeling I get


Aku masih merasakan perasaan yang sama


Only feels much stronger


Hanya saja terasa lebih kuat


I wanna love you longer


Aku ingin cintaimu lebih lama


You still turn the fire on


Kau masih membuatnya berkobar


So if you're feelin' lonely - don't


Jika kau merasa sendiri - jangan


You're the only one I ever want


Kaulah satu-satunya yang kuinginkan


I only wanna make it good


Aku hanya ingin memperbaikinya

__ADS_1


So if I love ya a little more than I should


Seandainya aku sedikit lebih mencintaimu dari seharusnya


Please forgive me


Maafkanlah aku


I know not what I do


Aku tak tahu yang kulakukan


Please forgive me


Maafkanlah aku


I can't stop loving you


Aku tak bisa berhenti mencintaimu


Don't deny me


Jangan acuhkan aku


This pain I'm going through


Derita ini kan kujalani


Please forgive me


Maafkanlah aku


If I need ya like I do


Jika aku ingin dirimu seperti yang aku inginkan


Please believe me


Percayalah aku


Every word I say is true


Setiap kata yang kuucap itu benar


Please forgive me


Maafkanlah aku


I can't stop loving you


Aku tak bisa berhenti mencintaimu


Ada perasaan berbeda saat Vino mencium keningnya, apalagi saat mendengarkan lagu yang di putar suaminya. Naura tau dari arti lagu itu. Hatinya berdesir. Naura yang masih berpura-pura tidur, menikmati tiap alunan musik lagu itu. Sampai dirinya benar-benar tertidur dengan pulas.


Still feels like our best times are together


Masih terasa seperti saat-saat terbaik kita


Feels like the first touch


Terasa seperti sentuhan pertama


Still getting closer baby


(Kita) semakin dekat kasih


Can't get closer enough


Tak ada yang lebih dekat lagi 


Still holding on

__ADS_1


(Aku) masih bertahan


__ADS_2