Tiba-tiba Hamil

Tiba-tiba Hamil
42


__ADS_3

Vino tertawa, melihat istrinya. Dengan gemas, Vino mengacak rambut Naura. Yang berhasil mendapat decakan sebal dari istrinya itu.


"Ra, kamu makan mangga udah banyak banget. Nanti kamu sakit perut loh." Vino semakin ngilu saat Naura dengan sengaja, memasukan irisan mangga dengan sambal yang dua kali lebih banyak dari sebelumnya.


"Bentar, Vin. Sayang ini tinggal dikit lagi." Tangan Naura hendak kembali mengambil. Namun, dengan cepat Vino menahan tangan Naura.


Vino menatap Naura dengan tatapan sayu. "Aku lebih sayang, sama kesehatan kamu. Daripada sama sisa mangga itu." Vino berujar pelan.


Naura menghela Napas, pipinya mengembung. "Yaudah, karena kamu sayang sama aku. Terus akunya sayang sama mangga ini,"


Naura menghela napas, tersenyum menatap Vino. Lalu melanjutkan kalimatnya. "Jadi, kamu aja yang harus habisin mangga nya. Itu pun, kalau memang kamu beneran sayang sama aku."


Vino yang mau membuktikan kalau dirinya memang sayang sama Naura. Tanpa berpikir, langsung memakan mangga itu, dengan sambal yang sudah Naura campurkan.


Padahal Vino tau, dirinya paling gak bisa makan makanan yang pedas.


Naura terus memperhatikan wajah Vino yang mulai memerah menahan pedas, bahkan dari hidung suaminya itu sudah mulai mengeluarkan ingus. Sekuat tenaga, Naura menahan tawanya yang hampir pecah.


Seolah baru tersadar. Vino yang sudah berkeringat karena rasa pedas. Menatap Naura dengan bola mata yang membulat.


Naura yang sudah mengerti, langsung berdiri, memundurkan langkahnya.


Sebelah alis Vino terangkat. "Bentar deh, Ra. Apa tadi kamu bilang? Jadi, kamu nyuruh aku makan itu mangga, karena kamu sayang sama mangga nya?"


Naura mengangguk, mengulum bibirnya. Langkahnya terus mundur, menuju ruang keluarga.


Vino berdiri dari duduknya. Wajahnya terlihat geram "Jadi, kamu lebih sayang sama mangga? daripada sayang sama aku?"


Naura tergelak. "Iya Vino, wleee." Naura menjulurkan lidahnya. Perempuan itu berlari ke arah tangga, saat melihat suaminya itu mulai mengejarnya.


"Aakh." Naura menjerit, saat merasakan tubuhnya melayang, karena diangkat oleh Vino.


"Kena kamu." Vino menggendong tubuh Naura ala bridal. Dengan gemas, Vino terus mencium wajah istrinya sambil menaiki tangga. Menuju kamar tidur mereka.


Tanpa mereka sadari, ada seseorang yang memperhatikan mereka dari jauh. Tangan pria itu terkepal, rahangnya mengeras. "Rupanya, Vino sudah benar-benar jatuh cinta sama perempuan itu."


Dengan pelan, Vino menjatuhkan tubuh Naura di atas kasur. "Udah mulai Nakal ya, istri aku." Tanpa ampun, Vino menggelitiki pinggang istrinya.

__ADS_1


Hhhhh "Aduh, ampun Vin. Ampun, aku nyerah." Naura memegang perutnya. Ujung matanya sedikit mengeluarkan air, karena terus tertawa.


Vino mencondongkan kepalanya, menatap wajah Naura, perlahan, wajah mereka mulai mendekat. Naura memejamkan matanya, saat bibir keduanya menempel.


"Aduhhh, shitt." Vino berlari ke arah kamar mandi, saat tiba-tiba merasakan tidak enak di perutnya.


Naura mengerutkan keningnya, "Kenapa sih Vino? aneh banget."


Naura menunggu Vino, sambil membuka aplikasi yang berlogo gambar paper bag, dengan simbol huruf S. Naura mulai memainkan game yang ada di aplikasi itu.


Vino keluar dari kamar mandi. Sebelah tangannya dia simpan di atas perut. Sebelahnya lagi mengusap keringat di keningnya.


Naura yang masih memegang ponselnya, memalingkan wajahnya, ke arah Vino. "Kamu, kenapa sih Vin?" Naura menatap wajah Vino dengan datar.


"Perut aku sa-," Perkataannya terhenti, saat perutnya kembali sakit. Vino kembali berlari ke kamar mandi.


Naura menaruh ponselnya, berjalan ke arah pintu kamar mandi. "Vino, kamu baik-baik saja, 'kan?"


Setelah beberapa menit di dalam, Vino keluar dengan wajah yang pucat.


"Perut aku sakit banget, Ra." Vino berjalan ke arah ranjang. Naura yang sempat mematung, dengan panik segera melangkah keluar kamar. Mengambil obat yang ada di kotak P3K dekat arah tangga.


"Gimana? masih sakit gak?" Naura mengusap punggung Vino.


"Sudah agak mendingan sih. Coba deh kamu peluk, sama cium aku, pasti langsung sembuh." Vino berbicara sambil sesekali mengaduh.


Naura yang masih panik, langsung begitu saja menuruti perintah Vino.


Vino tersenyum dengan penuh kemenangan. Karena sudah berhasil membohongi Istrinya.


****


Pagi hari, setelah selesai mandi, Vino sudah siap dengan pakaian santainya.


Naura yang sedang membereskan tempat tidur, menatap heran ke arah suaminya. "Loh, kok kamu gak pakai baju kerja? emang masih sakit ya perutnya?"


Vino menggeleng, mencubit gemas hidung mancung istrinya. "Sekarang tuh hari minggu, sayang. Jadi kerjanya libur."

__ADS_1


Naura ber oh ria. "Aku lupa, hehe." Yaudah ajakin jalan dong akunya. Yuu, bosen aku, dirumah mulu." Naura berujar sambil memanyunkan bibirnya.


Vino mengambil jam tangan yang tergeletak di atas nakas "Yuu, setelah sarapan kita nengokin dede bayi."


Mendengar perkataan Vino. Naura berdecak, merotasikan matanya malas.


Vino terkekeh mengerti dengan perubahan wajah Naura. "Bukan nengokin di sini sayang. Tapi di dokter." Vino mengulum senyum.


Naura bernapas lega, mendengar perkataan suaminya. Entah kenapa, akhir-akhir ini suaminya terus mengajaknya. Jadi wajar, jika pikirannya selalu curiga.


****


Anita mengelap mulutnya dengan tisu. "Jadi kalian mau periksa kandungannya menantu mama?"


"Iya, mam." Jawab Vino dan Naura nyaris barengan. Menimbulkan senyum mengembang di wajah Anita. Sedangkan Andre, hanya diam, seolah tidak tertarik dengan pembahasan mereka.


Anita menyimpan kembali ponselnya, setelah menelfon seseorang. "Mama sudah menghubungi teman mama. Sebenarnya, hari ini libur praktek. Tapi khusus buat kalian, teman mama rela buka klinik. Nanti langsung kesana aja."


Vino dan Naura hendak masuk mobil. Namun, suara Anita menghentikan keduanya.


"Naura, sini dulu deh. Mama mau ngomong sebentar." Anita tersenyum melihat Naura yang berjalan menghampirinya.


"Iya mam, ada apa?"


"Mama percaya sama kamu. Kamu pasti bisa membuat anak mama selalu bahagia saat bersama kamu. Vino memang kadang nyebelin. Tapi, mama tau, dia lelaki yang tanggung jawab. Rela ngelakuin apa aja untuk orang yang dia sayangi." Tersirat kasih sayang dari sorot mata tuannya. Yang terlihat berbinar saat menatapnya.


Naura tertegun. Saat tiba-tiba Anita memeluknya. Ada rasa kasih sayang yang Naura rasakan, di pelukan mama mertuanya itu.


Anita tersenyum, saat pelukannya sudah terlepas. "Kamu hati-hati ya, sering-sering main kesini."


Dahi Naura mengkerut, mulutnya terbuka secelah. Seperti akan mengatakan sesuatu. Namun, suara Vino dari luar, yang memanggilnya dengan tak sabaran. Membuat perempuan itu dengan cepat menghampiri suaminya.


**Hallo,, hari ini, aku up 3X dong. Makasih ya, yang udah ngasih dukungannya. Koment kalian selalu aku baca, jadi jangan lupa terus ninggalin jejak ya.


Tadinya, aku mau ngasih adegan "melakukannya," tapi Vino nya malah sakit. Jadi besok aja ya. Hehehe


Terus kencengin Vote nya, like, koment nya juga. Biar besok, imajinasi akunya mengalir lancar.😘🤗🤗

__ADS_1


Salam... Semangat**!!!


__ADS_2