
Naura yang paham, langsung tertawa, kado dari bundanya Nia ialah baju yang waktu itu dipakai ke pesta ulangtahun kantor Vino, baju yang menjadi saksi perlakuan bejat seorang Vino Putra Sanjaya. Tapi karena baju itu, kini Naura sudah bahagia dngan lelaki yang sekarang menjadi suaminya dan calon bayi yang ada di perutnya.
"Jadi suapan pertama mau di berikan sama siapa nih?" kata Nia dan Andin nyaris barengan.
Naura yang terlihat bingung, melirik Vino yang ternyata sedang tersenyum ke arahnya, kemudian melirik ibu dan ayahnya yang juga tersenyum mengangguk ke arah Naura.
"Yaudah buat Ibu aja," bisik Vino yang ada di samping Naura, namun Naumi yang masih mendengarkan itu, dengan cepat menggeleng, "buat suami kamu aja, Ra."
Naura melirik mama mertuanya, yang di balas senyuman oleh wanita itu.
"Daripada bingung, mending buat aku aja," tanpa terduga dengan santainya dari arah depan, Aldi sudah berhasil mengambil suapan pertama itu, semua mata takjub dengan tindakan Aldi.
Vino mengeraskan rahangnya, ingin memukul sodara laknatnya itu, namun Vino masih ingat di tempat itu ada mertuanya, bisa jelek nanti imagenya sebagai menantu.
Akhirnya Vino hanya mendengus kesal, yang mendapat sorak tawa dari semua orang.
"Baru kali ini lo kalah gercep,Vin" sindir Riko yang mendapat tatapan tajam dari Vino.
"Jadi kapan kalian mau mengadakan resepsi pernikahannya? teman-teman Mama sudah pada nanyain," Anita menatap anak dan menantunya bergantian.
"Sebenarnya Vino udah mikirin, udah hubungin EO juga, tapi Vino masih bingung tanggalnya kapan, Vino juga mikirin kondisi Naura, takut Naura kecapekan nantinya.
Naura menatap Vino, "kok kamu gak ada ngomong dulu sama aku, Mas?" tanyanya dengan wajah datar.
Vino tersenyum, mengusap ujung bibir Naura yang sedikit belepotan karena cream kue, "tadinya aku mau ngasih tau kamu, kalau semuanya sudah beres."
Naura mendelik, kembali memasukan kue ke mulutnya, "tapi seenggaknya kamu tanya dulu, akunya mau apa enggak di adakan resepsi."
"Tengkar aja terus, gue suka nih liatnya, marahin aja, Ra, Vino tuh emang tipe cowok yang suka ngambil tindakan sendiri tanpa min-"
Omongannya terhenti, saat Vino dengan cepat menyumpalnya dengan kue ulang tahun, "kompor aja lo bisanya!"
Aldi hampir membalas perlakuan Vino, namun Rainald yang sedari tadi diam mengeluarkan suaranya, "biar Ayah saja yang atur semuanya, nanti kalau sudah siap Ayah kasih tau sama kalian."
Vino menatap wajah Rainald, dirinya yang masih merasa canggung pada mertuanya itu, sedikit menunduk, "gak usah Ayah, biar Vino saja, masa buat resepsi aja Ayah yang biayain." Vino tersenyum, menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
"Kata siapa, Ayah cuma bilang mau atur acaranya, bukan biayanya, kalau soal biaya ya kamu yang bayar lah" canda Rainald yang kembali mendapat sorakan untuk Vino.
__ADS_1
"Mampu* lo, kepedean sih jadi orang," Aldi sungguh merasa puas melihat Vino yang wajahnya sudah memerah karena malu.
Naura menatap ayahnya, "Ayah ih," tangannya merangkul suaminya.
"Ayah hanya bercanda, ya biayanya juga Ayah yang akan nanggung," kata Rainald dengan santai.
"Jangan Pak Rainald, biar Vino saja," Anita langsung memotong cepat omongan Rainald.
****
Pesta ulang tahun yang di gelar sederhana namun sangat meriah, sudah selesai, di akhiri dengan makan malam yang Vino sediakan di tempat itu.
Kini semuanya sudah berada di parkiran, "Mama pulang sama siapa?" tanya Vino pada Anita.
"Mama pulang di jemput sopir, lagi on the way katanya," jawab Anita sambil menyimpan ponselnya ke dalam tas yang berada di tangannya.
Vino beralih menatap Naumi, "kalau Ibu, mau ke rumah kita dulu kan?" Vino menunggu jawaban dari ibu mertuanya.
"Kayaknya Ibu mau langsung pulang saja, kasian Dita sama Lisna hanya berdua di rumah.
Naumi mencium kening putrinya, "maaf Ibu gak bisa sayang, lagian nanti saat acara resepsi, Ibu kesini lagi kok." Dengan pelan, Naumi melepaskan pelukannya.
"Nak Vino," Naumi memanggil menantunya, "kamu terus jagain Naura ya, ibu juga minta tolong, kamu suruh supir kamu buat anterin Ibu lagi ya," pintanya dengan wajah yang tersenyum.
"Biar saya saja tante, yang anterin tante ke kampubg, sekalian saya mau mencari udara segar disana," dengan sedikit candaan Aldi menawarkan dirinya.
"Halah, modus aja lo, Al. Bilang aja lo mau ketemu sama adiknya Naura, kan?" sindir Riko yang berhasil membuat Aldi salah tingkah.
"Baik kalau Ibu keukeuh gak mau istirahat dulu di rumah kita, Vino akan hubungi sopir," Beberapa kali Vino melakukan panggilan pada sopirnya, namun tidak juga mendapat jawaban.
Sebagian orang sudah pulang, kini tinggal Naura, Vino dan Rainald yang juga sedang menunggu mobil jemputannya. Anita juga baru saja pergi, setelah sempat membujuk Naumi untuk ikut istirahat dulu di rumahnya, namun Naumi tetap menolaknya.
Vino menaruh ponselnya kedalam saku celana, "sopirnya mungkin sudah tidur, sebaiknya Ibu istirahat dulu saja di rumah kita, besok siang, Vino yang akan anter Ibu." Vino menatap wajah Naumi yang terlihat sedang gelisah.
Naumi sudah gelisah, pikirannya sudah tertuju pada kedua anak gadisnya di kampung, "gak bisa, Nak Vino, kalau gitu tolong anterkan saja ibu ke terminal."
Mobil Rainald datang, pria itu menatap ke arah Naumi "biar saya saja yang anterin kamu," tersirat permohonan yang terpancar dari matanya.
__ADS_1
"Maaf tapi sa-"
"Yaudah kalau gitu biar Ayah saja yang anterin Ibu, lebih aman juga kan, dari pada naik angkutan umum," potongnya dengan cepat. Naura mengulum bibirnya, saat melirik wajah gerogi dari Ayah dan Ibu nya.
****
Entah ini di sengaja atau kebetulan, tapi Naumi tidak ada pilihan lain, setelah anak juga menantunya terus menyuruhnya untuk menerima tawaran Rainald, akhirnya Naumi menerima tawaran itu.
Naumi duduk bersebelahan di kursi penumpang, tidak ada suara yang keluar dari mulut keduanya, hanya sura mesin yang mengiringi perjalanan mereka.
"Ekhemm," setelah beberapa jam perjalanan mereka, Rainald berdehem untuk memecah kecanggungan pada dirinya, "bagaimana keadaan keluarga kamu? maksud saya suami kamu? sebenarnya Rainald hanya basa-basi, toh dirinya sudah mengetahui semuanya dari Naura dan orang suruhannya.
"Anak-anak saya semuanya dalam keadaan baik, saya juga punya 2 anak dari Mas Hasan, tapi sayangnya Mas hasan sudah lama meninggal." Naumi berkata tanpa menoleh pada lawan bicaranya.
Rainald mengangguk, "kalau kamu, sekarang gimana? gak ada niatan buat cari sosok suami lagi?" Rainald menggeser duduknya, menghadap tubuh Naumi dan menatap wajah wanita yang dulu pernah ada di hatinya, bahkan sampai sekarang.
-
-
-
-
-
**Halah, Bapak-bapak lagi modus gaes๐๐
Bikin balikan lagi jangan nih mereka๐ ๐
Koment, likenya di tunggu. Apalagi Pointnya ya, yang banyak oke, buat yang punya jempol aja๐๐ canda deng๐ค๐ค
Terima kasih
Salam... Semangat**!!!
__ADS_1