
-
-
-
Nia Bawel : gue tunggu di kantin, udah gue pesenin. Buruan tapi!!
Sambil memasukan kembali ponselnya, tanpa membalas pesan dari sahabatnya, Naura yang baru saja keluar dari pintu lift, segera menuju ke tempat yang sudah di beritahukan Nia.
***
Tiba di pintu kantin, perlahan kaki Naura mulai melangkah, mengedarkan pandangannya ke sekeliling. Banyaknya karyawan yang memadati kantin, membuat Naura sedikit kesusahan.
Meskipun banyak restoran di dekat gedung perusahaan, tetapi, para karyawan lebih memilih tempat ini untuk di jadikan tempat makan siang.
Tempatnya yang di kelilingi pohon dan berbagai bunga bermekaran, menjadikan tempat ini indah dan sejuk.
Makanan nya juga sangat enak, dan sehat tentunya, karena banyak koki ternama yang menjadi juru masak disini. Yang paling penting, harganya sedikit murah, karena, 25% harga yang di tentukan, sudah di tanggung perusahaan.
__ADS_1
"Woy, kita di sini," Andin yang ternyata lebih dulu melihat Naura, langsung memanggil, sambil melambaikan tangan "lama banget lo, Ra! habis bertelur lo di ruangan suami masa depan gue?" Andin mulai bertanya.
Nia yang selalu males dengan sifat halu nya seorang Andini Dwi Marlinka, tidak sungkan-sungkan menab*k kepala sahabatnya itu.
"Eetolong ya Nia, yang namanya ngikutin istrinya Ardi Bakery, pala gue ini selalu di fitrahin, asal elo tau! jangan maen di tabok-tabok aja dong!" sambil mengusap kepalanya, Andin terus mengomel.
Nia memutar bola matanya malas "diam lo! gue lagi nunggu jawaban Naura, dari tadi pagi dia banyak hutang jawaban sama gue." Andin yang beda divisi dengan mereka langsung menghadap ke arah Naura.
Merasa namanya di sebut, Naura langsung mendongak, meletakan sendok dan garpu, Naura meminum sedikit jus jeruk nya. Dengan perlahan Naura mulai menjelaskan kejadian apesnya, mulai dari kesiangan, sampai berakhirnya perdebatan dengan cowok rese yang sering dia juluki playboy cap cicak.
Awalnya mereka hanya ber oh ria dan mengangguk-anggukan kepala, tapi tiba-tiba, Nia yang mendengar cerita sahabatnya jadi tersulut emosi, "serius kamu Ra? Pak Aldi bilang kamu cewek murahan?"
Dengan wajah yang masih kesal, saat mengingat kejadian tadi, Naura mengangguk dengan pelan.
"Serius Ra, kamu secara tidak langsung meluk Dimas dong? ya Ampun Ra, romantis banget, aku iri deh sama kamu. Persis kaya film yang selalu aku tonton, terus habis itu, tangan kamu di kecup sama Pak Aldi? omaygat omaygat, dua cogan di pagi hari" sambil menyanggah pipi dengan kedua tangannya, Andin mulai membayangkan.
Pletakk, "awww," Andin mengusap kepalanya yang barusan kena pukulan tangan Nia "ihh Nia, sakit tau, hoby banget sih lo mukul pala gue, kalau entar pala gua jadi retak, mau tanggung jawab lo!" Nia memutar bola matanya, "bod* amat, gua malah berharap kayak gitu, biar otak lo waras sekalian!"
Naura terkekeh geli, kedua sahabatnya selalu saja tak pernah akur.
__ADS_1
"Terus, tadi di ruangan CEO, kamu ngapain aja?" Nia yang masih belum puas dengan pertanyaan nya masih setia menunggu jawaban.
Dengan gugup, Naura mendongak "emm, tadi gue, gue ke toilet dulu, makanya gue lama hehe" Naura menampilkan deretan gigi putihnya.
Nia yang merasa ada ketidak jujuran dari Naura, dirinya merasa aneh, tapi itu hak Naura, mungkin dia belum mau menceritakannya, Nia tidak pernah memaksa, toh suatu saat nanti, Naura juga bakalan cerita dengan sendiri nya. "Gitu ya?"
Dengan cepat Naura menganggukan kepalanya. Sebenarnya, Naura tidak bermaksud ingin menutupi semuanya, hanya saja dirinya merasa malu, jika kedua temannya tau kejadian tadi. Mau di taruh dimana mukanya, seorang Naura, kepentok pintu, gara-gara grogi di depan seorang Vino Putra Sanjaya, yang banyak di idamkan kaum hawa.
-
-
-
-
-
Aku bakalan Up tiap ada kesempatan
__ADS_1
di klik favorit nya ya manteman, biar tau kalau aku up, hehe
yang gak suka, atau merasa cerita nya tidak nyambung, boleh koment, makasih ya, yang udah ngasih point, ternyata bahagia ya kalau ada yang memberi๐๐๐