Tiba-tiba Hamil

Tiba-tiba Hamil
64


__ADS_3

Setelah tiga hari Naura berada di rumah sakit, kini dirinya sudah di perbolehkan pulang oleh dokter. Namun dokter tetap menyuruh Naura untuk tetap bed rest, dan secara rutin harus melakukan check up untuk kandungannya.


Aldi ikut menjemput Naura dari rumah sakit, dirinya baru saja membaringkan tubuh Naura di atas tempat tidur, "Ra, ingat ya apa kata dokter tadi. Pokonya kamu kalau mau apa-apa langsung minta aja sama dia," mata Aldi melirik ke arah Vino, "terus kalau dia gak ngerawat kamu dengan benar, kamu kasih tau Kaka ya."


Vino mendelik sebal ke arah Aldi. Setelah dirinya menyimpan kantong besar yang berisi perlengkapan Naura yang sempat di pakai saat di rumah sakit, lelaki itu langsung melangkah ke arah istrinya.


"Pengen banget lo di panggil Kaka, jijik gue dengernya," Vino menampilkan ekspresi mual ke arah Aldi.


Aldi mendelik kesal, "seterah gue lah, emang gue kakaknya Naura, iya gak Dek?" Aldi melirik Naura, yang langsung mendapatkan senyuman manis dari perempuan itu.


Aldi melanjutkan ucapannya, "dan asal lo ingat, gue inih kaka ipar lo, jadi elo ha-,"


Vino langsung memotong ucapan Aldi, "iya, gak usah di ingetin terus, bosen gue dengernya!" jawab Vino dengan wajah datar.


Aldi merotasikan matanya, "emang harus di ingetin terus, biar gak ngelunjak elo nya!" Aldi menepuk punggung Vino dengan sedikit keras. Kemudian dirinya langsung kembali ke samping tubuh Naura.


Aldi mengusap pelan kepala Naura, "Ra, Kakak pulang dulu ya, tapi kamu tenang saja, nanti Kakak bakalan sering kesini, buat nengokin kamu."


Vino berdecak, merotasikan matanya, "dari tadi kek, elo pulangnya, pusing gue kalau ada elo!"


"Mas," Naura menggaruk keningnya. Meskipun perdebatan antara kedua lelaki yang ada di sampingnya tidak benar-benar serius dari hati. Namun entah kenapa saat ini kepala Naura terasa pusing mendengarkan keduanya.


Naura menatap wajah Aldi, "yaudah deh, sebaiknya Kakak pulang dulu aja, udah sore juga, biar kapan-kapan Kakak kesini lagi," Naura merasa tidak enak setelah mengatakan itu.


Aldi mendengus kesal, matanya menyorot tajam ke arah Vino, kakinya langsung melangkah ke arah pintu.


Vino tertawa penuh kemenangan, "gak usah repot-repot kesini lagi, mending lo cari cewek aja sonoh," teriak Vino kemudian, saat Aldi kembali menoleh ke arahnya.


Aldi keluar dari kamar Naura, menutup pintu dengan agak keras. Namun tak lama kemudian, pintu itu kembali terbuka, kepala Aldi menyembul, "nyesel gue dulu biarin lo nikah sama Naura!"


Aldi langsung menutup kembali pintu itu, saat melihat Vino hendak mengatakan sesuatu.


Vino menggerutu, "sayang, kok bisa ya, kamu sodaraan sama itu orang? jangan-jangan sebenarnya Om Arya ngarang, padahal Aldi emang beneran anak dia, tapi Om Arya nya aja yang udah gak mau ngakuin Aldi," wajah Vino terlihat serius.


Naura terkekeh, "kalau Om Arya ngarang, berarti kamu masih jadi sodaranya Kak Aldi dong, hahahaha," Naura tertawa lepas, saat melihat wajah suaminya yang terlihat kesal.


****

__ADS_1


Seperti biasa, Aldi menjalankan motor sportnya dengan kecepatan di atas rata-rata. Setelah pulang dari rumah Arya, dirinya mengunjungi rumah ayah kandungnya yang sebenarnya. Namun setelah keluar dari kedua rumah itu, dirinya di buat pusing dengan permintaan kedua pria itu.


Dan disinilah Aldi sekarang, di sebuah club malam yang beberapa hari lalu pernah dia datangi, pikiran mumetnya menuntun kakinya untuk kembali datang ke tempat ini, "tambah satu gelas lagi," pintanya pada lelaki yang bertugas di meja bertender.


"Kenapa lo, Al? kaya lagi ada pikiran gitu lo," tanya lelaki bertender yang merupakan teman Aldi.


Aldi menghela napas, "gue punya satu bokap aja udah pusing banget pala gue, sekarang malah nambah satu bokap lagi, yang permintaannya sama pula," Aldi menenggak minuman yang ada di gelas itu, yang mulai membuat tenggorokannya terasa panas.


Aldi menaruh gelas yang sudah tidak ada isinya, "heran gue sama kedua bokap gue, omongannya kenapa kompak banget, seputar perusahaan mulu yang mereka bahas," Aldi terus menggerutu, kepalanya mendongak, "satu gelas lagi dong."


Aldi mengambil kembali gelas yang sudah terisi minuman beralkohol. Namun saat hendak meminumnya, matanya tanpa sengaja melihat sosok gadis yang akhir-akhir ini mulai mencuri perhatiannya, "sedang ngapain dia sama tuh cowok."


****


Vino sudah selesai dengan ritual mandinya, setelah memakai piyama, dirinya langsung menghampiri istrinya, "sayang kamu beneran gak mau makan lagi? tadi kamu makannya dikit banget tau, atau kamu mau apa? biar aku beliin," Vino terus menawarkan sesuatu kepada istrinya.


Naura menggeleng, "aku beneran udah kenyang, Mas. Nanti juga kalau mau aku pasti bilang kok sama kamu."


Naura melirik Vino, "tapi badan aku udah lengket banget nih, aku mau mandi."


Vino mengangguk, "yaudah yu," Vino langsung menggendong tubuh Naura ala bridal style.


"Udah kamu keluar sanah," usir Naura dengan cepat. Namun suaminya itu tetap berada di sana, dengan alasan takut Naura kenapa-kenapa.


Setelah kepulangan Naura dari rumah sakit, sikap Vino terhadap Naura menjadi semakin berlebihan. Lelaki itu benar-benar tidak membiarkan istrinya untuk bergerak sedikitpun.


Vino menggendong Naura, membaringkan tubuh istrinya di atas ranjang, "biar aku yang ambil baju kamu," Vino langsung sigap saat melihat istrinya yang akan bangun.


"Mas, aku bisa sendiri," Naura berdecak saat Vino membuka handuk kimono yang dia pakai.


Glek,,


Vino menelan ludahnya, saat melihat tubuh polos istrinya, "sayang, kayaknya untuk kali ini, aku gak bisa bantu deh, kamu bisa sendiri kan?"


Naura tersenyum menyeringai, saat melihat suaminya yang berubah tegang.


Dengan iseng, Naura yang masih polos memeluk tubuh suaminya dari belakang.

__ADS_1


Vino merasakan sesuatu di punggungnya, yang membuat salah satu bagian tubuhnya semakin bereaksi.


Buku jari Naura merayap menyentuh leher suaminya, "Mas," bisik Naura dengan lirih, di samping telinga Vino.


Vino bergidik, dengan cepat dirinya memutar tubuh, menghadap istrinya.


Vino memejamkan matanya, saat Naura kembali melancarkan aksinya. Kini buku jarinya mengusap pelan pipi Vino, perlahan turun ke bagian dada, dan memainkan jari-jari lentiknya disitu.


Vino memegang kedua tangan istrinya, tatapan keduanya terkunci pada bola mata masing-masing. Naura mulai sedikit takut, saat melihat tatapan suaminya yang terlihat semakin sayu.


Vino memiringkan kepalanya, tangannya sudah mulai menjalar ke setiap bagian tubuh istrinya.


"Mas!" Naura sedikit berteriak saat suaminya semakin kehilangan kontrol.


Vino tersentak, tangannya mengusap kasar wajahnya, "aku harus mandi," Vino langsung berlari ke arah kamar mandi.


"Arrgghh," suara Vino dari dalam kamar mandi yang masih dapat terdengar oleh telinga Naura. Sebenarnya Naura kasihan melihat suaminya seperti itu, awalnya dirinya hanya iseng, namun Naura tidak menyangka suaminya akan bereaksi seperti itu.


-


-


-


-


-


**Satu kata dong buat Vino... 😂😂


Masih di tunggu like, point sama koment nya, ya.


Kalau bingung mau ngoment apa, ketik aja, Next..


sekali lagi, Vote jangan lupa.


Terima kasih

__ADS_1


Salam... Semangat**!!!


__ADS_2