Tiba-tiba Hamil

Tiba-tiba Hamil
6


__ADS_3

-


-


"Huftt, akhirnya beres juga" sambil merenggangkan otot tangan, Naura berdiri dan hendak membereskan berkas-berkas yang tadi di periksanya, menyusun ke dalam map. Sesekali matanya melirik ke arah jam tangan. Bola matanya membulat. "Astaga, jam istirahat sudah mulai sejak lima menit yang lalu."


Dengan tergesa-gesa Naura segera membawa tumpukan map yang sudah tersusun itu. Naura berjalan ke arah pintu lift, tujuannya menyerahkan tumpukan map yang tingginya hampir sejajar dengan batang hidung mancungnya ke ruangan CEO.


Beruntung di depan lift, Naura berpapasan dengan beberapa karyawan lain, yang bersedia membantu menekan tombol lift yang mengantarkan ke ruangan CEO.


Tingg.


Pintu lift terbuka, dengan langkah yang tak santai, Naura keluar dari lift itu. Tiba di depan pintu CEO, Naura yang kedua tangannya memegang tumpukan map, menjadi kesulitan saat hendak mengetuk pintu, dengan susah payah, tangan kiri berada di bawah map, dan dagu nya Naura posisikan di atas tumpukan map, tangan kanannya mengetuk pintu.


"Awww," suara ringisan dari cowok, sontak membuat Naura menelan ludahnya dengan susah payah.


Glekk.


"Pa, Pak Vino, lirihnya," sambil mengangkat kepala yang tadinya tertunduk di atas map. "Maaf Pak, sa, sa, saya tidak sengaja."


"Mata kamu, di taro dimana hemm?" Vino membesarkan matanya, iris hitamnya yang pekat, seolah menusuk iris coklat milik Naura, "sekali lagi sa, saya minta maaf Pak, saya tidak sengaja, saya tidak tau kalau Bapak ada di-,"


Vino membuka pintunya lebar. "Taro di atas meja saya."

__ADS_1


Dengan langkah cepat, dan kaki yang gemeteran, Naura segera menuruti perintah CEO nya itu. Bruk, suara map itu terdengar saat terjatuh di atas meja, Vino yang berniat pergi untuk beristirahat, seketika berbalik dan menunda niat nya itu.


"Kamu, marah sama saya?" iris hitam itu kembali menghunus iris coklat milik Naura, dengan gugup dan perasaan yang sangat takut, Naura menundukan pandangannya, jangan lupakan, badan Naura yang pegal, tangan yang masih gemetaran, leher yang sakit, karena hampir 4 jam Naura menunduk, tanpa mengangkatnya sedetikpun.


"Kalau ada orang ngomong tuh, di lihat, jangan nunduk, gak sopan!" sebelah tangan besar Vino mengangkat dagu Naura, pandangan mereka kembali bertemu. 1 detik, 2 detik, 3 detik, 4 detik.


Vino yang tiba tiba merasakan jantungnya yang tiba tiba berdetak lebih cepat dari biasanya, sontak melepaskan tangannya. "Siapa nama kamu?" Sa, saya Naura Pak, bagian staf verifi,


Dengan wajah datar, Vino memalingkan tatapannya. "Saya cuma nanya nama kamu!"


Glekk, Naura dengan susah payah menelan paksa ludahnya.


"Kenapa kamu baru nyerahin berkas itu sekarang? ngapain aja kamu dari tadi?"


Naura yang di perintah, langsung pergi, dengan suara yang sangat pelan, Naura menggerutu "jadi bos galak banget sih, untung ganteng."


"Heh! saya masih denger ya, kamu ngomong apa!" Naura yg sudah memegang handle pintu, dan mendorongnya, langsung melepaskan pegangannya dan membalikan badan, "hehe, saya gak ngomong apa apa loh Pak, Bapak salah denger, mungkin."


"Jangan pikir saya tuli ya, Naura."


Haduh, salah lagi, bukannya sudah aman dari masalah, malah timbul masalah baru, Naura menunduk.


"Ngapain kamu, masih diam disitu?"

__ADS_1


Naura yang kaget langsung membalikan badan, hendak berlari, namun tiba-tiba, "dukk, awww."


Tangannya refleks memegang jidatnya yang terbentur, Naura mendorong pintu dengan sebelah tangannya. "Perasaan, tadi pintunya sudah gue buka deh," sambil masih terus mengusap usap jidatnya Naura berjalan ke arah lift.


Setelah melihat Naura keluar dari ruangannya, Vino tergelak, sambil memegang perutnya "gadis yang lucu" batin Vino, tanpa sadar bibirnya terangkat.


-


-


-


-


-


**Terimakasih yang masih mendukung, dan setia sama cerita ini..


Baru di like aja, aku bahagia banget, apa lagi kalau di koment sama di bagi point.. Gak tau deh bahagianya kaya apa.hehehe


Becanda ya gaess.. Jangan di anggap boongan, haha


SELAMAT SORE**

__ADS_1


__ADS_2