
-
-
-
Pagi hari, dengan wajah yang terlihat ceria, Naura sudah duduk di kursi kerja nya, sepagi mungkin, Naura berangkat, takut kesiangan lagi, bisa-bisa, nanti Sandra punya alasan, buat maki-maki dan berujung penyiksaan seperti kemarin.
Sementara, di tempat yang berbeda, seorang cowok yang juga di sebut-sebut sebagai calon penerus perusahaan, sedang duduk dengan ekspresi malas, di depan nya terdapat layar besar yang menyala.
"Aldi, jadi gimana menurut pendapat kamu?" dengan wajah datar, Aldi mendongak "terserah Papa aja, jawaban Aldi sama kok sama yang ada di pikiran Papa."
Arya Saputra, yang tak lain ialah papa nya Aldi, hanya bisa geleng-geleng kepala, dengan jawaban anak badung nya itu. Sudah berbagai cara, Arya menyuruh Aldi untuk serius meneruskan perusahaan yang sudah susah payah Arya bangun. Namun, anaknya itu seolah tidak peduli.
Setelah semua karyawan yang ikut meeting keluar, kini tinggal Arya dan Aldi yang masih duduk.
"Papa mau ngomong sama kamu." Aldi mendongak "hemm, ngomong aja pah."
Arya menghela napas "mau sampai kapan kamu kaya gini?" Arya memasukan kedua tangannya ke saku celana, berjalan ke arah jendela, sambil melihat ke arah luar.
"Usia Papa sudah semakin tua Al, Papa juga sudah ingin pensiun seperti om Andre" Arya menyebutkan nama kakak kandungnya, jika di ingat, kakak nya itu sangat beruntung, memiliki Vino yang penurut, cerdas dan serius.
__ADS_1
"Kamu belajar lah, lihat Vino, dia tanggung jawab, nurut jadi anak. Gak kaya kamu, yang bisanya cuma keluyuran, hura-hura, main cewek, gak jelas, kamu bisanya cuma bikin papa malu saja!"
Aldi membesarkan bola matanya "oh! jadi Papa malu, punya anak kaya Aldi?" Aldi berdiri dari posisi duduknya, menghadap sang papa yang berdiri memunggungi nya. Baru kali ini, Aldi berbicara dengan nada tinggi ke papa nya.
"Apa kabar perasaan Aldi, selama ini Pah, bukan nya Papa sudah enggak peduli sama Aldi? Papa hanya peduli sama perempuan j4l4n9 itu kan!"
Plakkk, tanpa sadar satu tamparan berhasil mendarat di pipi kiri Aldi, sedikit mengeluarkan darah, dari ujung bibirnya.
Arya yang khilaf, menyadari kesalahannya, hendak memegang pundak Aldi, Aldi refleks memundurkan badannya.
Aldi terkekeh pelan, dengan mata yang mulai memanas, "Papa gak pernah tau kan, gimana selama ini, hidup Aldi menderita, tanpa sosok ibu."
Yang lebih membuat Aldi sedih, sampai saat ini mama nya tidak pernah menemui nya, sekedar memberi kabar saja tidak ada. Aldi mencari keberadaan mama nya, tapi hasil nya selalu nihil.
Sebenarnya, waktu itu Aldi lebih memilih mengikuti mama nya, tapi Arya menarik lengan Aldi dan mengurung di kamar.
Sejak kejadian itu, sebagai bentuk pemberontakan, Aldi menjadi sosok yang seenaknya terhadap cewek, dan tak pernah mau menuruti perintah papanya. Aldi juga lebih sering menginap di rumah Vino dari pada di rumah papanya.
Aldi melangkahkan kaki nya menuju pintu. "Jangan pernah cari Aldi, kalau cuma buat nerusin semua ambisi Papah."
Arya mengusap wajahnya dengan kasar, sebenarnya, ada rahasia besar di masa lalu nya, tapi Arya tidak mungkin menceritakan nya pada Aldi.
__ADS_1
***
Plak,, suara tamparan yang begitu keras, membuat beberapa orang yang sedang duduk istirahat, menghentikan kegiatan makan nya. Semua perhatian mereka teralihkan ke arah perempuan yang tiba-tiba datang dengan ekspresi wajah yang sangat garang.
-
-
-
-
-
**Ada yang penasaran, dengan rahasia masa lalu nya Papa Arya?
Tetap setia, dukungan nya ya gaes, like, koment, sama point nya, kalau ada☺☺
Seikhlasnya aja,
Terimakasih**...
__ADS_1