
Mendengar gombalan receh dari suaminya, Naura dengan malas merotasikan matanya, "iya, tapi sekarang aku jadi pengen makan indomie, kamu buatin ya, aku penasaran kamu bisa gak buatnya?"
Setelah Naura memberitahu letak mie instannya, Vino beranjak menuju arah kitchen set. Setelah mengambil satu bungkus mie instan dengan tulisan Indomie di bagian depannya, Vino membolak-balik kemasannya, membaca cara penyajian yang tertera di sana, "ah ini mah gampang, masa sih ada orang yang gak bisa bikin ginian."
Naura menopang dagunya sambil memperhatikan suaminya yang sedang sibuk di depan kompor, senyumnya merekah saat melihat Vino mematikan kompor, "sudah masak,Vin?"
Vino melirik Naura sekilas, "sudah, ini tinggal di tuang." jawabnya dengan cepat.
Setelah Vino menuangkan ke dalam mangkuk, dengan wajah takut, Vino berjalan dengan mangkuk mie di tangannya, "ehtapi, kayaknya aku juga gak bisa masaknya deh, Ra" ujar lelaki itu.
Naura mengerutkan kening, "kenapa emang?"
Dengan ragu, Vino menaruh mangkuknya ke hadapan Naura, "itu mie nya kok tampilannya gak sama kaya yang di gambar ya?"
Naura tergelak mendengar penuturan suaminya, "yah gak bakalan sama dong Vino," Naura mengulum bibirnya dengan susah payah, perempuan itu mengambil sendok dan garpu untuk mengaduk mie nya, "loh, ini kok gak ada sayuran sama telornya sih, Vin?" Naura menatap wajah suaminya.
"Tapi aku udah ngikutin sesuai saran penyajiannya kok, lagian, emang didalam kemasannya tadi, gak ada telor sama sayurnya." Vino berujar gak mau di salahkan.
Mendengar jawaban suaminya, Naura merotasikan matanya, "sebenarnya, kamu pernah gak sih bikin mie rebus?"
Vino yang mendapat tatapan dari istrinya dengan cepat menggelengkan kepalanya, sebelah tangannya menggaruk tengkuknya, "gak pernah, Ra, makan ginian aja aku gak pernah, kata mama itu gak sehat."
Naura membulatkan matanya, jiwa miskinnya meronta saat mengingat waktu di kontrakan, setiap hari dirinya mengkonsumsi mie instan dengan tambahan nasi yang banyak.
Dengan wajah datar, Naura mendorong mangkuk itu, "oke kalau gitu, kamu aja yang makan ini."
Vino mengerutkan keningnya, "terus kamu makan apa?" Vino memperhatikan istrinya yang sudah mengambil satu piring kosong.
Naura tersenyum, "aku mau makan masakan Bi Sumi aja, kan kasian, dia udah capek masak," dengan tampang polos, Naura mengambil nasi dan sayuran.
Vino menggercap, mendengar penuturan istrinya, "aku juga gak mau ah, nanti di omelin mama," Vino mendorong mangkuknya, yang langsung mendapat tatapan tajam dari istrinya.
__ADS_1
"Kalau sekali-kali pasti mama bolehin kok, mubazir tau kalau gak di makan, lagian mama nya juga gak ada disini," Naura tersenyum saat melihat Vino dengan pasrah menarik kembali mangkuknya.
Suara bel rumah berbunyi, Naura berdiri untuk membuka pintu, namun melihat pembantunya yang sudah lebih dulu membuka pintu, membuatnya kembali mendudukan tubuhnya.
"Wih, gue kira lo belum bangkrut deh, Vin. Tapi kok udah ngirit aja?" Riko menahan tawanya yang hampir pecah.
Vino mendelik kesal, mendengar perkataan sahabatnya, "Ngapain sih, lo kesini?"
Dengan santai, setelah sempat tersenyum ke arah Naura, Riko menarik satu kursi yang ada di samping Vino, dan mendudukinya.
"Yaelah elo, bukannya nawarin makan bareng ke, atau apa kek, ini malah judes kaya gitu, marah-marah mulu, belum juga jadi bapak, udah keburu tua tuh muka," Riko mengeluarkan ponselnya, mengarahkan pada Vino.
Vino yang melihat itu langsung membesarkan bola matanya, "mau ngapain lo!" dengan cepat, Vino menyambar ponsel milik Riko. Setelah melihat tampilan layar yang ternyata sedang merekam Vidio, Vino nyaris membanting ponsel itu.
Riko repleks berdiri, mengambil kembali ponselnya. Riko terlihat menghela napas, saat ponselnya berhasil dia rebut, "Alhamdulillah, kali ini ponsel gue selamat. Ponsel baru ini, jangan sampai lo rusak lagi."
Vino menatap wajah Riko dengan datar, "itu juga dari gue. harusnya elo bersyukur, gue rusakin ponsel lo, jadinya kan ponsel lo yang jelek bisa jadi baru."
Riko memutar bola matanya malas, "iya deh iya, makasih ya bos Vino, kemarin sudah rusakin ponselnya aku," Riko menatap Vino dengan wajah puppy eyes.
Naura yang dari tadi kesal, menyaksikan kelakuan dua orang lelaki di hadapannya, kali ini angkat bicara, "sudah, jangan berantem mulu, kalian tuh ya, udah pada tua juga!"
Setelah sempat berdiri, Naura duduk kembali, "Riko kamu ikutan makan ya," Naura memberikan satu piring kosong, tangannya hendak mengambilkan nasi untuk Riko.
"Enggak usah!" dengan cepat, Vino menarik tangan Naura, "kamu apaan sih yang? udah gak usah di ambilin segala, kan dia udah TUA, jadi bisa ambil sendiri," Vino menekankan kata tua pada kalimatnya, yang membuat Riko menjulurkan lidah ke arahnya.
Riko menaruh nasi ke atas piringnya, "amit-amit banget, Ra, kamu punya suami, galaknya udah kayak kakaknya Upin-Ipin. Semoga anak kamu gak mirip sama bapaknya yah, Ra."
Vino mendelik sebal, mendengar perkataan sahabatnya, "oke, bulan depan, gaji lo gue potong!"
"Wihh, santai brother, jangan begitu lah, gue kan cuma bercanda tadi," Riko replek memegang tangan Vino, yang langsung mendapat penolakan dari sang empunya.
__ADS_1
Dengan wajah yang di buat sesedih mungkin, Vino menatap Naura "yang, aku udah ya makan mie nya, masa kamu sama Riko makan masakan yang sehat, aku makan ginian?"
Naura melirik sekilas mangkuk yang ada di hadapan suaminya, "itu masih banyak, mubazir!"
Vino melirik Riko dengan seringainya, kemudian tatapannya dia tujukan kembali pada Naura, "enggak kok, Ra. Nanti Riko aja yang habisin. Iya kan Rik?" Vino menginjak kaki Riko dengan keras.
"Aaww, i iya Ra, nanti aku aja yang habisin," dengan terpaksa Riko mengatakan iya, karena takut dengan tatapan tajam sahabatnya, "mendingan gue pasrah aja, daripada gaji gue yang jadi taruhannya," Riko bergumam pelan.
Samar-samar Naura mendengar, "kenapa Riko?" Naura menatap Riko, menunggu jawaban dari sahabat suaminya itu.
Setelah kembali mendapatkan tendangan di kakinya, dengan cepat Riko menggeleng, "enggak kok, Ra, gak ngomong apa-apa akunya."
Eh bentar, kok aku lupa ya sama Bik Sumi. Naura berdiri, melangkahkan kakinya mencari keberadaan sosok pembantunya.
Setelah melihat tubuh Naura yang sudah menjauh, Vino melirik Riko, "sebenarnya ada apa lo, kesini?"
Riko yang hampir menyuapkan sendok ke mulutnya, kembali menaruh benda itu, "gue cuma mau nanyain Aldi, sekarang gimana kabarnya dia? gue mau jenguk dia, tapi takut jadi sasaran wartawan gue."
Vino merotasikan matanya, "elo yah! dari kemarin!" Vino mengeraskan rahangnya, dirinya benar-benar sudah geram sama sahabat kepar*tnya, "buat apa lo punya ponsel, kalau sekedar buat nanyain kabar aja lo meski jauh-jauh datang kesini, lama-lama gue gibeng juga pala lo!"
-
-
-
-
-
**Episod kali ini, masih di sponsori sama Indomie ya gaesπππ
__ADS_1
Tanpa bosan aku mau ngingetin, buat like, koment sama vote yaππ€
Salam... Semangat**!!