
Pintu terbuka, seorang wanita paruh baya, berdiri di di depan Naura. Dengan senyum ramah, wanita itu menatap Naura. "Maaf, apakah anda nona Naura? Tuan sudah menunggu di dalam." Tanpa menunggu jawaban dari Naura, wanita paruh baya itu langsung mempersilahkan Naura masuk.
****
Kening Naura mengerut, saat dirinya di bawa menuju ke sebuah kamar oleh wanita paruh baya, yang mengaku bernama Bi Sarti.
Sebelum masuk, Naura sempat menghentikan langkahnya, melirik ke arah Bi Sarti.
Bi Sarti yang mengerti dengan ekspresi Naura, tersenyum mengangguk, "silahkan nona, tuan ada di dalam," wanita paruh baya itu membuka pintu kamar.
Dari arah luar, Naura yang masih merasa bimbang, melihat seorang pria yang sudah berumur, sedang duduk di atas kursi roda Membelakangi dirinya.
Mendengar suara seseorang yang masuk, pria itu lantas memutar arah kursi rodanya.
"Kamu, Naura? Anaknya Naumi?" dengan wajah yang berbinar, pria itu menghampiri Naura, dengan bantuan Bi Sarti yang mendorong kursi rodanya.
Naura yang masih belum mengerti menganggukan kepalanya, "anda, siapa?"
"Saya ayah kandung kamu, Nak." Pria itu meneteskan air matanya, menatap Naura terharu.
Sebenarnya kaki Naura bergetar, saat berhadapan dengan pria yang mengaku sebagai ayahnya. Tapi mengingat dia dibesarkan dengan penuh kasih sayang oleh Naumi dan Hasan, yang ternyata hanya ayah sambungnya, menjadikan Naura tidak punya perasaan apa-apa terhadap lelaki yang ada di hadapannya itu. Tapi, walau bagaimanapun, rasa kangennya pada sosok ayah kandung, membuat Naura menerima lelaki itu.
"Ayah," dengan suara yang bergetar Naura menyebut nama itu.
Flashback on
Rainald Wisnutama, seorang pengusaha yang memiliki beberapa perusahaan besar dimana-mana. Menikah dengan seorang perempuan bernama Naumi.
Kekayaannya sudah tidak di ragukan lagi. Setiap ada tender, perusahaan Rainald lah yang selalu menang. Hingga pada saat itu, seorang lelaki yang merasa iri terhadap setiap pencapainnya, mengatur strategi.
"Tidak, saya tidak melakukan itu" Rainald merasa terpojokan, saat semua klient menyudutkannya. Menuduh Rainald melakukan kecurangan, dan penggelapan dana.
Satu peluru dari pistol hampir mengenai kepalanya, namun Rainald berhasil menyelamatkan diri.
Bahkan, pernikahannya dengan Naumi tidak berjalan lama. Naumi yang mengetahui kejadian yang menimpa suaminya, menyuruh Rainald untuk pergi meninggalkannya.
Dengan terpaksa, Rainald yang terus di kejar-kejar oleh orang suruhan laki-laki yang menjebaknya, pergi meninggalkan Naumi, dan bersembunyi di tempat yang terpencil.
Perusahaan Rainald di ambil alih, oleh lelaki itu, dan lelaki itu terus mencarinya, berniat akan membunuh Rainald, supaya perusahaannya sepenuhnya menjadi miliknya.
__ADS_1
Rainal yang mengetahui kabar kebangkrutannya, mengalami serangan jantung, dan sekarang dirinya menderita stroke.
Flashback off
Setelah mendengar cerita dari pria itu, Naura langsung berhambur, memeluk tubuh pria yang ternyata adalah ayah kandungnya.
Naura melepaskan pelukannya, "kenapa Ayah baru memberitahu keadaan Ayah sekarang?" Naura mengusap air matanya yang terus terjatuh, dirinya tidak kuasa mendengar cerita pedih ayahnya.
Dengan tangan yang gemetar, Rainald menyentuh pipi Naura, "maafkan Ayah, karena ayah baru mengetahui alamat ibu kamu."
Rainald menatap wajah Naura, "wajah kamu mirip banget, kaya Ibu kamu. Maafkan Ayah karena tidak tau, ternyata waktu itu kamu sudah tumbuh di perut ibu kamu."
Naura menggenggam tangan Rainald, "enggak apa-apa, Ayah, yang terpenting Ayah selamat."
Naura menghela napas, "lalu, siapa orang itu Ayah? orang yang sudah membuat Ayah jadi seperti ini?"
Rainal mengeraskan rahangnya saat dirinya mengingat wajah pria itu, "Andre Sanjaya, pemilik perusahaan PT. Grup Jaya."
Naura tersentak, saat mendengar nama mertuanya disebut. Ternyata selama ini, Naura menikah dengan anak dari orang yang sudah menghancurkan keluarganya.
Rainald yang menyadari perubahan wajah putrinya, mengerutkan keningnya, "kamu kenapa?"
Sebelah tangan Rainald mengepal, rahangnya mengeras, "kamu harus membalaskan dendam Ayah, membuat keluarga itu hancur. Dan setelah semua itu berhasil, kamu harus meninggalkan lelaki itu!"
****
Naura bersandar di pagar balkon. Pikirannya masih mengingat tentang rencana yang di buat Ayahnya, untuk menghancurkan keluarga Andre, keluarga yang sekarang sudah menjadi keluarganya.
Sebenarnya, Naura bersedia untuk memenuhi permintaan Ayahnya. Tapi, perempuan itu tidak sanggup, jika harus meninggalkan Vino.
"Jika saja, Ayah lebih dulu memberitahu aku, mungkin aku dengan gampang akan meninggalkan Vino. Tapi, setelah kejadian kemarin malam, setelah perasaan aku sudah sepenuhnya untuk Vino. Aku gak sanggup, Ayah," Naura terus berbicara dalam hati, tatapannya lurus kedepan.
Suara lelaki yang datang dari arah kamar, membuatnya tersentak. "Hey, kamu lagi apa?" Vino yang masih memakai pakaian kantor, berjalan kearahnya.
Naura masih berdiri di tempatnya. wajahnya datar, pikirannya masih berkelana, entah kemana.
Vino memeluk tubuh Naura, menciu* beberapa kali di kening dan pipi istrinya itu.
Saat Vino hendak menciu* bibir mungilnya, Naura mendorong tubuh Vino, "maaf aku cape," Naura berjalan begitu saja, melewati tubuh Vino yang mematung.
__ADS_1
Vino yang merasa heran dengan perubahan istrinya, langsung berbalik, memeluk tubuh istrinya dari belakang, "kamu kenapa, humm?"
Dengan keras, Naura melepaskan dirinya dari pelukan suaminya. "Aku bilang, aku cape!" Naura berlari ke arah kamar mandi.
Dia mengunci pintu kamar mandinya. Dan menyalakan shower, "kenapa harus kamu, Vin. Kenapa kamu yang menjadi anak dari orang yang sudah buat ayah aku menderita, kenapa?" Naura bertriak, namun suaranya tidak terdengar jelas sampai keluar, karena tertutup dengan suara shower air.
Vino mendengar samar suara Naura. Dengan tak sabar, Vino
mengetuk pintu kamar mandi. Hampir saja Vino akan mendobrak kamar mandinya, namun Naura sudah lebih dulu membuka pintu.
Naura keluar, dengan penampilannya yang kacau, matanya terlihat sembab.
Vino memegang bahu Naura, menatap wajah sedih Naura "Kamu kenapa sih, Ra? aku minta maaf kalau ada salah sama kamu?"
Naura menatap wajah Vino dengan tatapan tak terbaca, "lepasin aku, aku mau tidur."
Vino hanya pasrah, dia belum mengerti dengan perubahan Naura yang tiba-tiba, tapi dia juga tidak mungkin terus memaksa Naura untuk mengatakan penyebab perubahannya.
Vino menepuk pelan kepala Naura, "yaudah, kamu istirahat saja, kalau mau apa-apa bilang ya sama aku, aku sayang sama kamu, Ra."
Hati Naura mencelos, menerima perlakuan Vino yang selalu membuatnya terlena. Tapi, dia sudah berjanji kepada ayahnya.
-
-
-
-
-
**Yahhh,, kasian babang Vino. Di diemin pas lagi anget-angetnyaπππ
Yang mau gantiin Naura buat babang Vino, cung?!!!
Tapi, Vote dulu dong, jan lupaπππ€π
Salam... Semangat**!!
__ADS_1