
-
-
-
Vino masih kesal dengan jawaban Riko, dirinya terus mengumpati sahabatnya itu dengan kata-kata yang kasar.
My Wife❤ : Mas, kamu udah makan siang belum?
Satu pesan masuk ke ponselnya, langsung bisa merubah raut wajahnya, Vino membaca pesan dari Naura dengan senyum yang mengembang. Jika di ingat, ini baru pertama kalinya istrinya itu mengirimnya pesan yang berisi perhatian untuknya.
Vino tidak menjawab pesan itu dengan mengirim balik pesan, tapi Vino langsung menekan gambar gagang telpon yang ada di bagian atas layar. Tanpa menunggu lama, Naura langsung mengangkat pangilannya.
"Hallo, Mas?" suara lirih yang begitu merdu terdengar dari balik telpon, Vino langsung tidak sabar ingin segera bertemu dengan pemilik suara itu.
"Iya, sayang, tumbenan kamu kirim pesan. Kenapa hemm? kangen ya?" Vino tertawa di akhir kalimatnya.
Naura tertawa pelan, "iya, aku kangen banget nih, sama kamu," wajah Naura merah merona.
Vino mengulum senyum, dirinya yang mendapat jawaban seperti itu langsung mengalihkan panggilannya, pada panggilan Vidio, "hey sayang, lagi apa si? kok itu wajahnya merah gitu? Vino terus mengamati wajah istrinya yang memerah bak kepiting rebus yang siap di santap.
Naura menutup wajahnya dengan sebelah tangan, "jam berapa kamu pulang?" Naura mencoba mengalihkan pembicaraan.
Vino mengerutkan kening, "kenapa emang? apa kamu sedang ingin sesuatu, atau mau aku beliin sesuatu?"
Naura menggeleng sebagai jawaban, "aku gak mau apa-apa Mas, cuma lagi kangen aja sama kamu. Aku mau kita,-"
Vino yang mendengar itu, langsung menyambar jasnya yang di sampirkan di kursi yang dia duduki, tanpa menunggu Naura menyelesaikan kalimatnya, Vino langsung tersenyum, "oke, aku on the way pulang ya sayang, love u."
Vino yang sudah gemas dengan istrinya, langsung mematikan Vidionya.
Vino keluar dari ruangannya, melirik ke arah Riko sekilas, "kerjaan gue udah selesai kan? sisanya lo lanjutin, gue pulang dulu."
Riko yang baru saja berdiri, akan memberikan satu map untuk di tandatangani oleh Vino, langsung melongo, menatap punggung Vino yang semakin melangkah jauh meninggalkannya.
__ADS_1
Dengan keras, Riko menjatuhkan map ke atas meja, "dosa gak sih, kalau gue sumpahin nih perusahaan jadi milik gue!" Riko terus menggerutu. Tapi hatinya tidak bisa berbohong, dirinya senang, melihat Vino bisa tegar dengan masalah yang sedang di hadapinya.
Naura sedang berada di dapur, kali ini dirinya sudah siap dengan apron yang melekat di tubuhnya, "pokoknya, Bibi liatin aku aja, tapi kalau ada salah, Bibi kasih tau aku ya."
Sumi yang sebelumnya terus melarang Naura yang mengambil alih tugasnya memasak, kini dirinya hanya mengangguk, "baik Non, tapi hati-hati ya, nanti Tuan Vino marah sama saya."
Naura tersenyum, mengusap pelan pundak pembantunya, "enggak lah Bik, masa Vino marah kalau istrinya masak."
Wajah sumi terlihat cemas, saat Naura hendak memasukan daging ayam ke dalam wajan, "yaudah deh Non, tapi awas itu minyaknya beneran panas, takut nanti kena kulit Non Naura."
"Iya Bibi, kalau cuma goreng ayam, Naura udah biasa kok Bik," Naura yang sedang pokus pada penggorengannya, berkata tanpa menolehkan pandangannya pada Sumi.
Sumi mengangguk, "kalau gitu saya yang bikin sambalnya ya, Non," Sumi menatap Naura, berharap majikannya membolehkannya, karena dirinya sudah benar-benar merasa bosan, dari tadi semua kerjaannya di kerjakan oleh Naura.
Naura melirik sekilas jam yang ada di dinding, "yaudah deh, karena Vino kayaknya bentar lagi sampai, jadi Bibi boleh bantu, makasih ya Bi."
"Ini memang sudah tugas saya, Non," setelah mendapat perintah, Sumi langsung mengambil alat dan bahan-bahan.
Dirasa pasakannya sudah matang, Naura langsung mematikan kompor, dan mengangkat ayam gorengnya. Suara bel berbunyi, Naura yang sudah dapat menebak siapa yang datang, langsung melangkah menuju pintu.
Naura membuka pintu, dirinya langsung kaget saat suaminya langsung memeluk dan menghujaninya dengan kecupan yang bertubi-tubi, "ih kamu Mas, jangan gini dong, malu tau kalau di lihat sama bibi."
Naura yang menyadari pipinya sudah sangat merah, mengerucutkan bibirnya, "Ih kamu, ayo kita langsung aja, aku udah gak sabar nih pengen nyobain ma,-"
Vino yang dari tadi sudah tidak tahan dengan istrinya, langsung mengangkat tubuh Naura.
Naura yang kaget merasakan tubuhnya yang melayang, langsung mencubit pinggang suaminya, "Vino, turunin aku!" Naura terus memukul dada suaminya dengan keras.
"Seolah menulikan telinganya, Vino terus menggendong tubuh Naura, melangkah menuju tangga.
Vino menurunkan Naura di atas ranjang, dengan cepat, dirinya membuka bagian atas pakaiannya. Naura melotot tajam ke arah Vino, mulutnya terbuka secelah, hendak menjelaskan sesuatu. Namun dengan cepat Vino langsung menyumpalnya dengan benda kenyal miliknya.
Naura mendorong tubuh suaminya, "Vino aku emppp" tanpa membiarkan istrinya lolos, Vino kembali melanjutkan aksinya.
Setelah satu jam keduanya bergulat di atas ranjang, Vino tersenyum, menarik selimut, menutup tubuhnya dan tubuh istrinya yang polos.
__ADS_1
"Terima kasih, sayang," Vino kembali mendaratkan satu kecupan panjang di kening Naura. "aduhh, sakit sayang," Vino mengusap perutnya yang terasa panas, akibat ulah jahat tangan mungil milik istrinya.
Naura bangun, tangannya memegang selimut yang hampir saja merosot, "biarin, wlee" Naura menjulurkan lidahnya, tertawa kemudian saat melihat wajah suaminya yang terus mengaduh karena kesakitan.
Naura melipat tangannya di atas dada "akutuh nyuruh kamu pulang, karena kangen makan siang bareng sama kamu, bukan kangen kuda-kudaan!"
Vino menggaruk tengkuknya, "hehe, abisnya kamu gemesin banget sih, yang."
Naura menarik pakaiannya yang tergeletak di bawah ranjang. Vino merubah posisinya menjadi duduk, dengan cepat tangannya menahan tangan milik istrinya, "bentar deh, tadi kamu panggil aku hanya menyebut nama aja kan? oke berarti kamu harus kembali nerima hukuman," Vino memiringkan kepalanya, tersenyum kecil menatap Naura.
Naura yang sudah hapal betul dengan tatapan seperti itu, setelah memakai semua pakaiannya, langsung beringsut, turun dari ranjang, "udah yah! aku cape, aku mau makan, terserah kalau kamu gak mau." Naura berjalan dengan langkah lebar, keluar dari kamarnya.
Vino menjatuhkan kembali tubuhnya, tawanya pecah, setelah melihat tingkah lucu Naura, "kamu lucu banget sih, kalau lagi takut kayak gitu."
Vino menuruni tangga dengan sedikit berlari- lari kecil. Senyumnya kembali merekah, saat melihat istrinya yang sudah duduk di atas kursi meja makan.
"Kok belum makan?" Vino duduk di samping Naura, setelah sempat mengecup puncak kepala istrinya.
Tanpa menjawab pertanyaan suaminya, Naura langsung membalikan piring yang ada di hadapan Vino, dan mengisinya dengan nasi, "udah, cepetan makan, aku gak mau debat lagi sama kamu!"
-
-
-
-
-
**Nyang bingung mau ngoment, tulis aja, next..😁
Jempolnya jangan lupa ya, di klik.
Vote, vote, vote..
__ADS_1
Terima kasih🤗
Salam... Semangat**!!!