Tiba-tiba Hamil

Tiba-tiba Hamil
65


__ADS_3

"Arrgghh," suara Vino dari dalam kamar mandi yang masih dapat terdengar jelas oleh telinga Naura. Sebenarnya Naura kasihan melihat suaminya seperti itu, awalnya dirinya hanya iseng, namun Naura tidak menyangka suaminya akan bereaksi seperti itu.


****


Naura menampilkan deretan gigi putihnya yang berjajar rapi, saat mendapatkan tatapan cemberut dari suaminya, "kok mandi lagi sih, Mas? bukannya tadi udah ya?" Naura mengulum bibirnya.


Setelah menyimpan handuk kecil, bekas mengeringkan rambutnya, Vino melangkah ke arah ranjang, membaringkan tubuhnya di samping Naura, "tau ah, awas aja ya kamu, tanpa ampun aku akan menghukum kamu, kalau anak kita sudah lahir nanti."


Naura tertawa, "hahaha, kenapa gak sekarang aja sih?" candanya yang kembali menggoda suaminya, jari lentik Naura mulai mencolek pipi suaminya.


Vino menghembuskan napas dengan kasar, dengan cepat dirinya memunggungi Naura, "tangannya diem deh Yang!" Vino sedikit mengeraskan suaranya.


Naura mendengus, dirinya mendekatkan wajahnya ke samping tengkuk suaminya, "kenapa sih, cuma di colek kaya gini aja gak mau kamu!" tanpa menyerah, Naura sengaja mencolek kembali hidung suaminya.


Vino mengusap wajahnya, badannya kembali menghadap Naura, "bukan gitu sayang, masalahnya kan kamu tau sendiri, senjata aku cepet bangun kalau di godain kaya gitu," terlihat sorot mata bersalah yang terpancar dari matanya.


Naura berdecak, "aku kok jadi takut ya, kalau kamu gampangan gitu, entar gampang juga kalau di godain perempuan lain di luar sana, apa lagi di kantor kamu kan ceweknya cantik-cantik, pada seksi pula," Naura merotasikan matanya. Perempuan itu bergidik saat membayangkan itu.


Vino tersenyum menatap istrinya, mencondongkan wajahnya dengan tangan yang menjadi penyanggah kepalanya, "ya engga lah sayang ku. Senjata aku kan bereaksinya cuma sama pemiliknya aja," Vino menjawel dagu istrinya dengan gemas.


"Bentar deh, kok kamu tiba-tiba ngebahas perempuan lain. Kenapa hum? cemburu ya?" Vino menaik turunkan alis matanya, menggoda balik istrinya yang kini sudah mulai terlihat kesal.


Naura mendorong wajah suaminya yang hampir menempel di wajahnya, "siapa juga yang cemburu. Aku yakin gak akan ada yang mau sama lelaki tampang datar kaya kamu!" perempuan itu terus berkilah saat Vino dengan gencar menggodanya.


Vino mengulum senyumnya, "kamu gak tau aja, suami kamu ini banyak yang mau loh," Vino terus menatap wajah Naura, menikmati setiap perubahan pada ekspresi wajah istrinya yang terlihat semakin menggemaskan.


"Mana ada yang katanya banyak yang mau, tapi gak ada daftar mantan satupun di hidup kamu," Naura terus berujar tidak mau kalah.


Vino mengusap pipi istrinya yang terlihat semakin chubby, " waktu itu gak ada yang pas buat aku jadiin istri, jadi buat apa buang-buang waktu buat jagain jodoh orang, kalau ujung-ujungnya cuma buat jadi mantan."


Percakapan mereka terus berlanjut sampai mereka tidak menyadari, waktu sudah menunjukan angka tengah malam.


****


Andin kembali memutar arahnya, saat menyadari sahabatnya belum juga terlihat keberadaannya.


"Ternyata elo masih disini, gue kira udah nyampe kantin duluan lo," Andin mendudukan dirinya di kursi yang berhadapan dengan Nia.

__ADS_1


Tanpa menghentikan tangannya yang terus bergerak lincah di atas keyboard laptop, sepintas Nia melirik ke arah Andin, "iya nih, tadi pas gue mau on the way, Pak Riko nyuruh gue ngerjain laporan perjalanan dinas yang bulan kemarin," terlihat raut wajah yang terpaksa dari perempuan itu.


"Yah, tapi gue udah lapar banget ini, gimana dong?" Andin nyengir kuda menatap wajah sahabatnya.


Nia merotasikan matanya, "yaudah lo duluan aja sana, nanti keburu cacing di perut elo mati."


Andin tersenyum, "sorry ya gue duluan, gak bisa nahan lapar soalnya gue," perempuan itu langsung berdiri hendak melangkahkan kakinya.


"Udah lo sonoh, emang paling gak setia lo jadi sahabat," Nia terus menggerutu pada sahabatnya itu.


Mendengar perkataan seperti itu, Andin mengurungkan niatnya. Perempuan itu berjalan ke samping tubuh Nia, "iya deh iya, gue tungguan elo aja, sampai kerjaan lo beres."


Nia mendelik, "gak usah, lo pergi aja sonoh, biar nanti gue cari sahabat baru lagi yang lebih ikhlas dan setia sama gue."


Andin berdecak, "ah elo, baperan mulu," perempuan itu kembali mendudukan tubuhnya.


Nia tertawa, "ngalah juga kan lo," gumam Nia dalam hati.


Kring kring kring


Dengan cepat nia mengambil gagang telfon yang ada di meja kerjanya.


Nia menutup laptopnya, "gue ke ruangan Pak Riko dulu ya, elo kalau mau istirahat, duluan aja sana, gak usah nungguin gue," setelah sempat menepuk pundak Andin, perempuan itu langsung berlalu dengan membawa laptop di tangannya.


Andin menggeram di tempatnya, "kayaknya yang harus nyari sahabat baru tuh gue, bukan elo Dania!" perempuan itu langsung berdiri, menghentak kakinya dengan kesal.


****


"Permisi Pak," Nia langsung masuk setelah penghuni ruangan itu menyuruhnya.


Nia menyimpan laptop miliknya di atas meja kerja Riko, "ini laporan yang tadi Bapak tanyakan. Tapi maaf saya belum sempat mengeprint, soalnya tadi Bapak-,"


Tanpa menunggu perempuan itu menyelesaikan ucapannya, Riko langsung mengambil benda lipat yang sudah terbuka dan menyala, "yaudah gak masalah, saya cuma butuh tau nominalnya saja kok," Riko berujar sambil mengetik angka yang ada di laptop milik perempuan itu.


Mata Nia membulat sempurna, "kalau gitu, kenapa Bapak meski nyuruh saya ke sini, kenapa gak nanyain di telfon atau di kirim ke email saja," gumamnya yang masih dapat tertangkap oleh pendengaran Riko.


Riko mendongak, "kamu ngomong apa barusan?"

__ADS_1


Nia langsung menarik laptopnya, menutup benda itu dengan kesal, "gak ngomong apa-apa. Saya permisi," perempuan itu langsung berlalu dari tempatnya.


Tanpa sadar, bibir Riko tertarik ke atas, saat melihat perempuan itu berjalan meninggalkannya.


Riko terus memperhatikan punggung Nia, sampai perempuan itu menghilang dari pandangannya.


"Halah, modus aja lo Bambang!"


Riko tersentak, saat tiba-tiba suara lelaki berhasil mengagetkan lamunannya, "ngapain lo di situ?" tanyanya dengan sinis pada lelaki yang sedang berdiri melipat tangan di atas dada, dengan punggung yang bersandar di tembok.


Vino mendelik, "gue yang punya tempat ini kalau lo lupa. Jadi terserah gue lah mau ngapain juga," Vino berujar dengan membusungkan dadanya.


Riko menampilkan raut wajah sebal, "gue yakin, elo dulu cita-cita nya jadi astronot."


Vino memasukan kedua tangannya ke dalam saku celana, langkahnya mendekat ke arah meja sekertaris sekaligus sahabatnya, kok tau," candanya dengan suara yang di buat menyerupai perempuan.


Riko menatap tajam wajah lelaki yang kini sedang terkekeh di hadapannya, "keliatan dari gaya songong lo, yang setinggi luar angkasa!"


Pletak


Riko meringis saat map besar berhasil mendarat di keningnya, "selain songong, elo juga kaya kompeni, main timpuk aja lo! sakit nji*," Riko mengusap kasar keningnya yang memang terasa panas.


"Hahahahaa, rasain lo," dengan santainya Vino berlalu dari ruangan itu.


-


-


-


-


-


**Jangan lupa tinggaljan jejak ya gaess, like, rate, love, koment sama vote. Point nya yang banyak ya😘


Kalau bingung mau ngoment apa, ketik aja next😁🙏

__ADS_1


Terima kasih


Salam... Semangat🤗🤗**


__ADS_2