Tiba-tiba Hamil

Tiba-tiba Hamil
62


__ADS_3

Naura memegang bagian perutnya, "Vino, tolongin aku, sakiit," lirihnya yang langsung membuat wajah Vino berubah panik saat menatap kearahnya, "sayang, kamu-"


Mata Vino terbuka lebar saat melihat Naura, "ada darah di kaki kamu." Vino langsung mengangkat tubuh Naura, masuk ke dalam mobil yang masih ada di samping mereka.


****


Vino terlihat beberapa kali mengumpat, saat lampu merah menghentikan kendaraannya, "udah lah Pak, terobos aja," perintahnya pada sang supir.


Meskipun sang supir juga terlihat panik dengan keadaan majikannya, namun akal sehatnya masih berfungsi dengan baik. Tanpa mendengar perintah dari Vino, supir itu seolah menulikan telinganya dari perintah gila majikannya, "bukannya cepat sampai rumah sakit, yang ada kita semua malah celaka, Tuan," sopir Vino menggerutu dalam hati.


"Mas," suara Naura terdengar lirih, Vino menatap wajah Naura yang berbaring di atas pangkuannya. "Aku takut, kandungan aku kenapa-kenapa, aku gak sanggup kalau harus kehilangan janin kita."


Mata Vino mulai memerah, buku tangannya mengusap lembut pipi Naura, "kamu jangan ngomong kaya gitu, yang terpenting sekarang kamunya gak kenapa-kenapa."


Vino sungguh tidak kuasa mengatakan itu, dirinya memang sangat menyayangi janin yang ada dalam kandungan Naura, tapi Vino sudah pasrah saat melihat darah yang keluar dari perut istrinya itu.


Vino semakin panik saat melihat istrinya kini tak sadarkan diri, "tambah kecepatan mobilnya!" teriaknya yang membuat sang sopir langsung menginjak pedal gas.


Mobil yang mereka tumpangi sudah sampai di halaman rumah sakit, dengan cepat Vino langsung menggendong tubuh Naura menuju ruang IGD.


Vino berlari tanpa mengindahkan suara petugas yang menyuruhnya membaringkan Naura di atas brangkar.


"Cepat tangani istri saya," perintahnya pada beberapa dokter yang ada di ruangan itu.


Dengan sigap para dokter langsung memeriksa keadaan Naura, dan juga janin yang ada di perutnya.


Anita yang sempat melihat Vino berlari, langsung datang menghampiri anak dan menantunya, wajah Anita terlihat panik, "Vino, Naura kenapa?"


Vino menceritakan semua kejadian yang menimpa Naura, "Vino takut Mam, Vino takut kalau sampai Naura dan janinnya kenapa-kenapa," katanya dengan begitu lirih.


Anita mengusap wajahnya dengan kasar, ditatapnya wajah putranya yang terlihat sangat menyedihkan, "kamu tenang ya Vin, dokter sedang berusaha."


Tapi, Naura tidak sadarkan diri, Mam. Vino takut Naura kenapa-kenapa."


Anita mencoba setenang mungkin, "Naura shock, makanya dia seperti itu. Sebaiknya kamu berdoa semoga Naura dan janinnya baik-baik saja."


Anita langsung menghampiri Naura yang masih belum sadarkan diri, dirinya terlihat berbicara dengan beberapa dokter yang baru saja menangani Naura, "oke kalau gitu, kita langsung bawa Naura ke ruangan Obgyn, perintah Anita pada beberapa dokter muda yang ada di situ.

__ADS_1


Naura sudah berada di ruang Obgyn, Vino beberapa kali mengusap kepala istrinya yang masih terbaring di atas kasur rumah sakit.


Naura yang sudah sadar, kembali histeris saat mengingat kejadian tadi, dirinya langsung menatap wajah dokter yang sedang menempelkan alat di atas perutnya, "bagaimana keadaan kandungan saya, Dok?" tanyanya dengan wajah yang sangat sembab.


Vino mengusap pelan ujung kepala Naura, menyalurkan ketenangan pada istrinya, "sayang, kamu tenang dulu ya, dokter masih memeriksanya."


Dokter wanita yang baru saja memeriksa Naura, menghela napas, dirinya langsung duduk di kursi.


Anita sudah mengetahui keadaan janin Naura dari layar monitor tadi, namun dirinya ingin mendengarkan langsung dari dokter yang tentunya lebih ahli dari dirinya, "jadi gimana, Dok?"


Dokter wanita itu tersenyum, "ya, seperti yang Dokter Anita lihat tadi, untungnya kandungan Nyonya Naura kuat, jadi keadaan cucu anda baik-baik saja, dan pendarahannya juga sudah berhenti," dokter itu sejenak menghela napas, "hanya saja ada beberapa kendala yang akan terjadi saat nanti Nyonya Naura akan melahirkan," kata dokter itu sambil menuliskan beberapa resep vitamin untuk menguatkan kandungan Naura.


Vino yang sempat mengucap syukur, menolehkan kepalanya, "maksud Dokter?"


****


Naura sudah di pindahkan ke ruangan VVIP yang ada di rumah sakit itu, dokter mengatakan bahwa Naura benar-benar harus istirahat, dan jangan melakukan kegiatan yang bisa membuatnya cape.


Getaran di saku celana yang berasal dari ponsel miliknya, membuat Vino terhenyak dari posisinya.


Vino berdiri, sedikit menjauh dari ranjang tempat istrinya, dilihatnya nomor Riko yang tertera pada layar ponselnya, "Ya, gimana? udah ketemu? oke gue kesana, awasi jangan sampai dia melarikan diri."


Vino mengecup sedikit lama di kening Naura. Setelah mengirim pesan kepada Anita, dirinya langsung berlalu dari ruangan Naura.


****


Wajah Vino memerah, rahangnya sudah mengeras, saat melihat siapa pelaku yang sudah menyebabkan dirinya hampir kehilangan janin dalam kandungan istrinya. Tangannya mengepal, terlihat dari buku jarinya yang sudah memutih.


Lo boleh lolos dari kejaran polisi, tapi tidak dari anak buah gue, "plak," satu tamparan berhasil mendarat di pipi lelaki itu, sehingga kini wajahnya semakin terlihat hancur akibat tonj*kan yang di lakukan Vino sebelumnya.


Lelaki itu tertawa sumbang, tangannya mengusap ujung bibirnya yang mengeluarkan darah, "cih, gue gak pernah takut sama lo, Vino!"


Vino kembali melayangkan satu tonj*kan ke wajah lelaki itu, sehingga Dimas tersungkur di tempatnya.


Dimas berusaha bangkit, "gue gak peduli mau separah apa lo mukulin gue, tapi yang pasti, suatu saat nanti gue pasti bakal merebut Naura kembali."


Vino tertawa mendengar perkataan yang keluar dari mulut Dimas, "sebelum elo ngelakuin semua itu, gue bakal pastikan lo gak bakal bisa lagi menginjakan kaki bangsa* lo di dunia ini.

__ADS_1


Vino mengambil sesuatu yang ada di saku jas yang di pakainya. Dengan senyum devil, Vino mengarahkan senjata ke bagian kepala Dimas.


Dimas bergeser dari tempatnya, wajahnya sudah pucat pasi, dengan tubuh yang sudah menegang karena rasa takut yang menjalar di sekujur tubuhnya.


Vino menarik pelatuknya, "bersiap-siaplah Dimas!"


Vino hendak melepaskan pelatuknya, namun suara seseorang yang baru saja masuk menghentikannya.


"Jangan membuang-buang waktu untuk mengotori tanganmu Vino, lebih baik kamu kembali ke rumah sakit, temui Naura."


Lelaki itu menyeringai, mengeluarkan senjatanya, dan tanpa aba-aba langsung melepaskan tembakan ke bagian paha Dimas, "Dorr," bunyi tembakan menggelegar di dalam ruangan bawah tanah itu, darah segar keluar dengan deras dari kaki lelaki itu. Dimas langsung kehilangan kesadarannya, dirinya tersungkur di tempat itu.


Vino tersentak saat melihat tindakan tak terduga yang di lakukan lelaki itu, "kenapa elo ngelakuin semua itu!" tanyanya dengan penuh selidik.


Lelaki itu tersenyum, setelah meniup bagian ujung pistolnya yang mengeluarkan asap, "gue ngelakuin apa yang gue ingin lakukan untuk melindungi perempuan yang harus gue lindungi."


Vino mengerutkan keningnya, dia tidak mengerti dengan maksud perkataan lelaki yang baru saja melepaskan timah panas pada kaki Dimas.


-


-


-


-


-


**Masih di tunggu like, point sama koment nya, ya.


Kalau bingung mau ngoment apa, ketik aja, Next..


sekali lagi, Vote jangan lupa.


Terima kasih


Salam... Semangat**!!!

__ADS_1


__ADS_2