Tiba-tiba Hamil

Tiba-tiba Hamil
67


__ADS_3

"Vinooo!" Naura mendorong dada Vino, saat lelakinya itu mulai mendekatkan wajahnya.


"Kamu sengaja ya, panggil aku kaya gitu, biar dapat hukuman?" bisik Vino di samping telinga Naura, yang berhasil membuat tubuh perempuan itu menegang.


"Iya," ucap Naura dengan cepat.


Mendengar itu, Vino langsung tersenyum, tidak membutuhkan waktu lama untuk lelaki itu, kini dirinya sudah mengangkat tubuh Naura, membaringkan perempuan itu di atas ranjang.


Vino membuka kemeja yang dikenakan nya, "bener nih?" tanya Vino sambil menaik turunkan kedua alis matanya.


Naura tersenyum dengan wajah yang terlihat begitu menggoda, "iya, Sayang. Tapi kali ini aku yang bakal hukum kamu," ujar perempuan itu, dengan suara yang yang sensual.


Vino menelan ludahnya, tubuhnya langsung bereaksi saat buku jari Naura membelai wajahnya.


Naura yang melihat perubahan wajah Vino yang kini menatapnya dengan sorot mata sendu, tersenyum menyeringai. Perempuan itu mendekatkan wajahnya, ke samping telinga Vino, "kamu harus beresin semua baju yang tadi kamu borong. Kalau enggak selesai dalam waktu setengah jam, kamu harus tidur di luar!"


Perintah Naura mutlak, yang berhasil membuat gairah suaminya mendadak hilang seketika.


Naura menyorot tajam wajah Vino, tanpa menerima bantahan, bahkan Vino mencoba meminta tambahan waktu pun, perempuan itu langsung menolaknya dengan tegas.


"Yang, masa kamu tega sih nyuruh aku buat beresin semua ini," Vino melihat tumpukan paperbag yang hampir memenuhi sebagian ruangannya.


Naura yang sedang berbaring sambil memperhatikan suaminya, tersenyum dengan salah satu bibirnya yang terangkat ke atas, "udah cepet beresin, waktunya tinggal 25 menit lagi," dengan santainya Naura berujar sambil memainkan ponselnya.


Vino menghela napas, "iya deh siap, Ibu ratu," setelah Vino melirik ke arah Naura, dengan terpaksa tangannya langsung bergerak mengeluarkan pakaian dari paper bag, dan memindahkan ke dalam lemari.


Naura melihat nama kontak yang tertera di layar ponselnya, senyumnya perempuan itu terbit, dengan cepat Naura langsung mengangkat panggilannya, "hallo," ucap Naura.


"Iya, Ayah. Gimana Ayah aja kalau gitu, Mas Vino pasti setuju kok," Naura menyimpan ponselnya, saat panggilan keduanya sudah selesai.


"Ayah ya? kenapa katanya?" Vino melangkah menuju Naura.


"Tadi kan aku ngasih tau ke Ayah, kalau kandungan aku sudah kembali kuat. Terus barusan Ayah nanya, gimana kalau acara resepsi kita di adakan bulan ini saja," Naura menatap suaminya yang kini duduk di samping tubuhnya.


"Jadi gimana? soalnya tadi aku udah bilang setuju," Naura menampilkan deretan gigi putihnya.


Vino membaringkan tubuhnya, sebelah tangannya berada di belakang kepala, sebelahnya lagi mengusap keningnya, padahal tidak berkeringat, "ya kalau sudah di atur sama orang tua, aku setuju aja, gimana mereka aja, tapi kamu tetep jangan dulu terlalu cape," ujar Vino yang kini mengusap pipi mulus istrinya.

__ADS_1


"Oke, aku mau tidur deh, soalnya kata Ayah besok aku harus ke butik, buat ngurusin gaun buat resepsi kita," Naura langsung membaringkan tubuhnya.


Vino mengangguk, "oke aku juga mau tidur deh, cape banget tau," sebelah tangannya sudah berada di atas perut Naura.


Naura memiringkan tubuhnya, "emang beresin bajunya sudah selesai, Mas?"


"Belum," jawab Vino dengan santai.


Naura langsung memindahkan tangan suaminya yang masih berada di atas perutnya, "terus, ngapain kamu sudah tiduran di sini? bangun! beresin dulu!"


Vino menghela napas, "tapi kan cape Yang, Nanti lagi deh, atau aku suruh bibi aja, kalau enggak, kamu bantuin aku dong, biar cepet selesai," terlihat permohonan dari sorot mata Vino.


"Enggak ada bantuan dari siapapun! dan aku gak mau bantuin, kan kamu sendiri yang bilang, akunya gak boleh terlalu cape," jawab Naura dengan santai, perempuan itu langsung menarik selimut tebal menutup sebagian tubuhnya.


Vino berdiri, menggaruk sebelah alisnya, matanya kembali pada tumpukan paper bag yang masih berjejer.


****


Esok hari, Naura memilih butik milik bundanya Nia, bukan karena butik ini sudah terkenal dan harganya yang terkenal mahal, tetapi karena Naura sudah mengetahui kualitas yang di buat oleh desainer di butik ini, Naura juga sudah sangat akrab dengan pemiliknya, dirinya sudah sering ke tempat ini karena Nia selalu mengajaknya.


"Naura, sayang,," teriak wanita paruh baya yang langsung memeluk tubuhnya.


"Ah Bunda bisa aja kalau muji, Bunda juga gak kalah cantik kok," keduanya saling melempar pujian satu sama lain.


Naura mengedarkan pandangannya ke setiap penjuru butik milik bundanya Nia,"Bunda apa kabar? kayaknya makin banyak saja ya, pengunjung yang datang ke sini?" ucap perempuan itu dengan senyum yang terus terpancar dari wajahnya.


"Iya Alhamdulillah, kapan nih, acara resepsi kalian? ujar wanita itu sambil tersenyum melirik ke arah Vino.


Vino yang masih canggung hanya tersenyum ramah ke arah wanita yang merupakan ibu dari salah satu karyawannya.


Vino melirik ke arah Naura, matanya terlihat seperti memberi sebuah kode supaya istrinya yang menjawab pertanyaan itu.


Seolah langsung mengerti, Naura membuka mulutnya secelah, bermaksud menjawab pertanyaan dari wanita itu.


"Cantiikk," tiba-tiba Angel yang merupakan salah satu pegawai bundanya Nia berteriak dan langsung berhambur memeluk tubuhnya.


"Siapa tuh, ganteng banget, pengen gigit deh, duh greget," bisik Angel yang masih berada di pelukan Naura.

__ADS_1


Naura tersenyum, tiba-tiba ide jahilnya muncul, "dia lagi kesepian loh, kalau kamu mau angkut aja," bisik Naura yang langsung di sambut mata yang berbinar oleh Angel.


Tanpa basa-basi, Angel langsung berhambur, memeluk Vino. Lelaki itu terus meronta saat tubuhnya di peluk, bahkan Angel beberapa kali mendaratkan ciumannya di pipi putih Vino.


Sekuat tenaga Vino melepaskan dirinya dari Angel, tapi Vino heran, kenapa tenaganya seolah kalah dari tenaga Angel. Bahkan yang lebih membuat Vino heran, kenapa istrinya itu malah tertawa menyaksikan dirinya di peluk sama perempuan lain.


Mata Vino membulat sempurna, saat dirinya melihat Naura yang acuh dan malah melangkah pergi bersama bundanya Nia.


"Lepas saya bilang!" Vino mengeraskan suaranya, saat dirinya sudah bener-bener muak dengan perlakuan Angel.


"Ih, kok yey kasar gitu sih sama eike? akutuh gabisa di gituin sama yey!" gerutu Angel sambil beberapa kali menghentak kakinya.


Mulut Vino melongo, wajahnya langsung merah padam menahan amarah, kini dirinya baru mengerti, kenapa istrinya itu seolah santai melihat dirinya di jamah oleh perempuan lain, "ternyata perempuan ini, bukan perempuan, argghht!" Vino berteriak dalam hati.


"Awas lo!" bentak Vino pada Angel yang menghalangi jalannya.


Bunda Nia selesai mengukur tubuh Naura, "jadi kamu mau warna apa saja untuk gaun yang nanti kamu pakai?" tanya wanita itu.


Naura yang mendadak bingung, hanya tersenyum, "gimana Bunda aja deh, yang penting cocok saat aku mengenakannya nanti."


Wanita itu sedikit berpikir, "oke, gimana kalau warna pastel yang lembut seperti salem, toska, atau abu muda sehingga akan memunculkan kesan yang anggun," wanita itu tersenyum menatap Naura.


"Nanti Bunda kombinsikan dengan sedikit warna emas atau perak sehingga juga memancarkan kesan berkilau, saat kamu yang mengenakannya," ujar wanita itu memberikan pendapat kepada Naura.


Naura sejenak berpikir, "yaudah, warna salem kayaknya gak terlalu mencolok ya, Bun? sama satu lagi warna toska aja. Buat kombinasinya terserah Bunda," pokonya aku percayakan sama Bunda aja.


Ini Angel, cantik kan😁😂



**Jangan lupa tinggalkan jejak ya gaes, biar gak di sangka raiders ghoib😁


Like, Koment nya next aja (kalau bingung)


Vote yang banyak ya😍🤗🤗


Terima Kasih

__ADS_1


Salam,,, semangat**!!!


__ADS_2