Tiba-tiba Hamil

Tiba-tiba Hamil
36


__ADS_3

Si4l. Aldi merutuki kebodohannya. Gimana dia bisa lupa, orang hamil kan memang sukanya minta yang aneh-aneh. Dirinya merasa menyesal, karena sok-sokan menawarkan sesuatu pada Naura. Aldi keluar, sambil terus berpikir. "Dimana yang menjual eskrim dengan rasa sate?"


****


Mata Naura berbinar. Saat melihat Aldi datang dengan kantung kresek yang dia jingjing di tangan kanannya.


Naura yang masih duduk di sofa ruang tamu, segera berjalan ke arah Aldi, "mana eskrim nya?" todong perempuan itu.


Dengan wajah yang terlihat lesu, Aldi menyerahkan hasil pencariannya.


"Aku penasaran banget tau, gimana rasanya," Naura membuka cup es cream yang terdapat banyak potongan sate didalamnya.


Aldi bergidik ngeri. Mengingat tadi, dia sendiri yang mencampurkan sate itu ke cup eskrim yang sekarang sedang Naura pegang.


Awalnya, Aldi berkeliling ke setiap kedai eskrim. Mencari eskrim aneh, yang Naura mau. Tapi, setiap penjual yang Aldi temui, malah menertawakannya. B*go nya Aldi, yang masih berpikiran ada yang menjual eskrim aneh seperti itu. Kemudian ada salah seorang penjual yang menyarankan untuk membeli sate, dan mencampurkannya ke wadah eskrim. Dan aldi mengikuti saran penjual itu.


Aldi terus memperhatikan Naura, yang masih mengaduk, memperhatikan eskrimnya. "Yakin Ra, kamu mau makan eskrim aneh itu?"


Naura mengangkat kepalanya, menatap wajah Aldi, "aku gak yakin sih Al." Naura menghela napas.


Aldi yang melihat ekspresi Naura hanya tersenyum, "yaudah sih, buang aja. Lagian aku yakin, pasti itu rasanya aneh banget" Aldi menjawab santai.


Naura memberengut "kok di buang, kan kasian kamu, udah nyari ini cape-cape. Aku penasaran deh Al, sama rasanya. Tapi aku takut ini gak enak" Naura menatap Aldi dengan ekspresi tak terbaca.


Aldi merasa aneh dengan tatapan itu, perasaannya menjadi tidak enak, "lalu, kamu mau apa?" dengan gugup Aldi bertanya.


"Kamu aja deh Al, yang cobain, kalau enak nanti kamu kasih tau aku ya" mata Naura terlihat memelas, tangannya menyodorkan eskrim itu ke depan wajah Aldi.


Mata Aldi membulat sempurna, mendengar permintaan Naura. Mau menolak takut perempuan itu kecewa. Apalagi melihat mata Naura yang penuh harap.


Dengan terpaksa, Aldi mengambil eskrim itu. Dengan ragu, dia menyendok kecil eskrim itu.


Naura sangat antusias menunggu pendapat Aldi. "Ayo Al, aku pengen tau rasanya" Naura terus memperhatikan Aldi, sambil makan eskrim rasa strawbery yang juga di beli oleh lelaki itu.


Satu suap eskrim campur sate, berhasil masuk ke mulut Aldi. Dengan susah payah, Aldi menelannya. Namun, perutnya langsung bergejolak. Aldi berlari ke arah wastafel, perutnya bergejolak sangat mual.


Setelah dirasa semua isi perutnya habis dikeluarkan, Aldi kembali ke arah Naura.


"Kamu, gak papa kan, Al?" Naura menatap Aldi, dengan sorot mata bersalah.

__ADS_1


Aldi mengangguk dengan wajah lesu, matanya memerah "gak papa, Ra. Tapi udah ya, aku gak mau nyobain lagi" Terlihat sorot mata memohon dari lelaki itu.


"Rasanya pasti gak enak ya? yaudah aku juga gak mau kalau gitu." Dengan santai Naura terus menyuapkan eskrim rasa strawbery ke mulutnya.


****


Vino sedang duduk di kursi kerjanya. Dua hari dia tidak masuk, membuat pekerjaannya menumpuk.


Suara pintu diketuk, membuat Vino mengangkat kepalanya. Setelah melihat, ternyata Riko sekertaris sekaligus sahabanyalah yang masuk. Vino kembali mengalihkan pandangannya ke berkas yang ada di mejanya.


Riko menarik kursi di depan meja Vino, dan menduduki kursi itu "gue udah dapet semua bukti, kejahatan Dimas sama lo."


Vino mengangguk, tanpa minat, "lo urus aja semuanya."


"Oke, gue juga udah nyerahin semua buktinya, ke kantor polisi. Cuman, polisi sedikit kesusahan mencari keberadaan Dimas, dia kabur. Setelah mengetahui lo menyadari kejanggalan saat lo kecelakaan."


Vino terlihat melamun, "gue takut, Dimas nekad, kayaknya dia suka banget sama Naura.


Riko tampak berpikir, "lo tenang aja, Polisi sekarang lagi bertindak, buat nyari tuh orang."


Vino mengangguk, namun tatapannya masih terlihat datar. Membuat Riko kembali melancarkan sifat keponya.


"Gue mikirin Naura. Papa nyuruh gue buat ninggalin Naura, terus, Naura juga minta gue buat cerein dia."


"Yaudah, kalau gitu, mendingan elo cerai aja. Biar gue yang gantiin elo." Aldi masuk ke ruangan Vino, entah sejak kapan lelaki itu berada di pintu, sampai dia mendengar semua yang dibicarakan Vino.


Vino mencebik kesal "ngapain sih, lo! datang kesini, bikin mood gue hancur tau gak!"


Aldi dengan santai duduk di atas sofa, yang ada di ruangan itu, tubuhnya dia rebahkan ke punggung kursi, kakinya dia angkat ke atas meja.


"Gue cuman ngasih solusi, buat masalah lo" Aldi menurunkan kembali kakinya. "Gue tadi dari rumah lo. Terus ketemu sama Naura.


Vino kembali mengangkat kepalanya. Saat mendengar nama istrinya di sebut. "Ngapain lo? ketemu istri gue" Mata Vino melotot ke arah Aldi.


"Santai dong brother, gue gak sengaja aja ketemu sama dia. Tadinya gue mau ketemu sama Tante Anita" Aldi menjawab santai.


"Tapi, lo gak macem-macem kan sama Naura?" Tatapan Vino penuh curiga.


Melihat respon Vino, Aldi merotasikan matanya, "enggak lah, gue gak sebejat lo asal lo tau!" Aldi menjawab dengan kesal.

__ADS_1


"Perlu lo ingat! gue ngelakuin itu, juga gara-gara elo!" Vino sedikit mengeraskan suaranya.


Riko hanya diam, memperhatikan kedua sodara yang tak pernah akur. Riko sudah terbiasa dengan sikap mereka.


"Iya, gue tau. Tapi gara-gara gue, elo jadi menang banyak" Aldi berdecak, merotasikan matanya. Dan apesnya, gue yang selalu dapet imbasnya.


Vino dan Riko terlihat menunggu perkataan yang akan Aldi lontarkan selanjutnya.


"Gue heran, elo yang hamilin Naura. Tapi kenapa, malah Naura ngidam anehnya, ngomong ke gue." Aldi melipat tangannya di dada.


"Maksud lo?" Vino yang penasaran langsung melontarkan pertanyaan.


Dengan wajah lesu, Aldi menceritakan kejadiannya.


"Hahahahhahahahhaha, ****** lo, Al!" kali ini, Riko yang berbicara.


Vino dan Riko langsung tergelak, dengan lepas, sampai ruangan Vino terdengar sangat gaduh. Beruntung ruangannya kedap suara. Jadi tidak terdengar sampai keluar.


Vino menghentikan tawanya. "Tapi, kenapa Naura malah meminta itu pada Aldi. Kenapa bukan ke gue? gue kan suaminya" Vino berbicara dalam hati.


Melihat respon dari kedua sahabatnya. Aldi menyesal telah menceritakan kejadiannya. "Ah si4lan lo pada."


Seolah bisa membaca raut wajah Vino. Aldi kembali melontarkan kalimatnya. "Tapi gue iklhas kok. Seenggaknya, gue cowok yang pertama, yang ada saat Naura butuh. Gue juga yakin, Naura gak pernah kan, minta sesuatu sama elo, Vin. Buat memenuhi keinginan bayinya." Aldi tersenyum. Melihat Vino diam dengan ekspresi datarnya.


-


-


-


-


-


**Hallo, panas-panas gini, aku nulis dong, buat gantiin yang semalam. Demi kalian.


Jangan sampai kendor ya Vote nya. Biar semangat ke akunya. Hhehehe


Salam... Semangat!! 🤗🤗**

__ADS_1


__ADS_2