
"Tertinggal dimna emang?" tanya Widya yang juga ikut penasaran.
Aldi sedikit gugup, saat Nakisya menatapnya dengan tatapan membunuh.
"Di mobil aku, Tan," jawab lelaki itu dengan cengengesan.
Widya tampak mengangguk, sedangkan Bagas, pria itu mengerutkan keningnya.
"Emang kalian dari mana? jam berapa kalian ketemu? bukannya Nak Aldi kemarin meeting sama Om," tanya pria itu dengan tatapan penuh tanya.
Nakisya menjadi gelagapan, gadis itu melirik Aldi yang ternyata juga meliriknya, "em anu," jawabnya gugup.
"Kemarin kan kamu bilang mau ngerayain kelulusan?" timpa Widya yang kini menatap keduanya, "oh jadi kemarin Nak Aldi ke rumah tuh, langsung nyusulin Kisya ya?" tebak wanita itu yang langsung di sambut anggukan dari keduanya.
"Nah iya, Tante," jawab Aldi sambil menggaruk tengkuknya.
Widya tampak mengangguk, wanita itu kembali melirik Nakisya, "emang kamu ngerainnya dimana kemarin?"
"Di restoran."
"Di rumah teman."
Jawab keduanya barengan. Membuat ketiga orang paruh baya itu tertawa. "Jadi yang benar dimana nih?" tanya Rainald yang ikut menimpali.
Nakisya mencubit pinggang Aldi, memberikan isyarat kalau lelaki itu harus diam, "maksudnya di rumah teman, lanjut ke restoran, Om," ujar gadis itu cengengesan.
Rainald tersenyum, "ternyata sudah sejauh itu ya kalian, kalau gitu gimana kalau kita langsung bahas aja pernikahannya," usul lelaki itu sambil melirik ke arah Bagas.
Dengan semangat Aldi mengangguk, namun tidak dengan Nakisya, gadis itu menggelengkan kepalanya.
Gadis itu hendak kembali mencubit pinggang Aldi, namun lelaki itu langsung menahan dan menggenggam tangan Nakisya. Beruntung kejadian itu terhalangi meja, jadi Aldi memanfaatkan itu, untuk mengelus tangan Nakisya, dan menggodanya.
Menyadari itu, Nakisya langsung menarik tangannya, "aku gak mau, Ayah. Aku masih kecil, aku juga masih mau kuliah. Lagian kalaupun harus menikah, aku gak mau nikah sama dia," ujar gadis itu, dengan tangan yang sudah di lipat di atas dada.
Widya menatap tajam ke arah anaknya, "Kisya! turunin tangan kamu!" perintah wanita itu.
__ADS_1
Nakisya mendengus, "tapi Bunda," rengek gadis itu yang sama sekali tidak di hiraukan oleh bundanya.
Acara makan malam itu berlangsung dengan perbincangan hangat antara kedua keluarga itu.
Sedangkan Nakisya, gadis itu hanya diam dengan hati yang sudah kesal, "kisya mau ke toilet dulu," ucap gadis itu yang kini sudah berdiri dengan membawa tas selempangnya.
Nakisya menatap pantulan dirinya di cermin, "apes banget sih aku, udah di khianatain Kak Doni, terus sekarang di jodohin sama Bang Al lagi," gerutu gadis itu, dengan kaki yang terus di hentakkan.
Merasa semua kekesalannya sudah di keluarkan, Nakisya langsung kembali menuju mejanya.
Gadis itu mengedarkan pandangannya, saat di meja itu sudah tidak ada orang tuanya, hanya ada Aldi yang kini sibuk dengan ponselnya.
"Ayah sama Bunda mana?" tanya gadis itu yang membuat Aldi tersentak.
Aldi melirik sekilas, "udah pulang duluan," jawabnya dengan pandangan yang kembali tertuju pada ponselnya.
Lelaki itu teringat dengan perkataan Widya sebelum wanita itu pergi.
"Tante cuma mau ngasih tau, Kisya tuh anaknya gengsian, jadi kamu harus pinter-pinter ya ngertiin dia."
"Terus aku pulangnya gimana? kok di tinggal sih!" gerutu gadis itu.
"Ya kalau mau pulang, tinggal pulang aja, masih banyak taxi di luar," ujar lelaki itu yang kini mengulum senyumnya, dirinya jadi penasaran, seberapa tinggi kah sifat gengsi yang di miliki gadis itu.
Nakisya mendengus sebal, "bukannya nganterin, malah nyuruh naik taxi, calon suami macam apa kamu?" hardik gadis itu dengan mata yang mendelik.
Aldi terkekeh, "jadi sudah di anggap calon suami nih?" goda lelaki itu dengan menaik turunkan kedua alisnya.
"Sial*n!" gerutu gadis itu dalam hati.
"Yaudah, aku mau naik taxi aja!" ucap gadis itu yang langsung berlalu dari tempatnya.
Merasa langkahnya terus di ikuti, Nakisya memutar tubuhnya, menatap lelaki yang kini sedang membelakanginya, "kamu ngapain ngikutin aku?" tanya gadis itu dengan sinis.
Aldi tidak menjawab pertanyaan itu, lelaki itu pura-pura sibuk dengan mengedarkan pandangannya ke segala arah.
__ADS_1
"Dasar nyebelin!" ujar gadis itu yang kini melangkah menuju pinggir jalan.
Sebenarnya Aldi hanya iseng terhadap gadis itu, dirinya sangat mencintai Nakisya, dan merasa bersyukur saat kedua orang tuanya ternyata menjodohkanya. Tetapi Aldi tidak mau kalau saat nanti dirinya menikah, gadis itu merasa terpaksa.
Aldi terus memperhatikan punggung gadis itu, "aku akan buat kamu pelan-pelan nerima aku, dan menerima pernikahan kita dengan tanpa paksaan."
Aldi melangkah menuju motor besarnya, lelaki itu langsung menghubungi seseorang, "ya kamu diem di situ, pokoknya jangan sampai ada taksi atau angkutan umum lain yang berhenti di depan Kisya. Sebagai upah kamu kasih aja uang buat supir taxi nya, nanti aku ganti 5x lipat."
Nakisya terus menggerutu, saat beberapa taxi yang dia stop, tidak juga berhenti. Gadis itu melirik ke arah motor yang sedang di duduki oleh Aldi.
Satu jam gadis itu menunggu taxi, tapi masih saja tidak ada yang mau berhenti, "gue bayar kok, woyy berhenti," teriak gadis itu pada taxi yang baru saja melewatinya.
Nakisya mendengus kesal, dengan menyimpan gengsinya, gadis itu melangkah menuju Aldi.
"Kok kamu belum pulang?" tanya gadis itu basa-basi.
Aldi mendongak, "nanya sama siapa?"
"Sama kamu lah!" jawab gadis itu dengan cepat.
Aldi mengangguk, "oh kirain sama siapa. Biasanya manggilnya gak aku kamu," goda lelaki itu tanpa melirik ke arah Nakisya, soalnya dirinya sudah tidak tahan melihat wajah gemas gadis itu.
Nakisya menarik napasnya dalam-dalam, gadis itu sudah tidak ada pilihan lagi, selain meminta lelaki itu untuk mengantarkannya, tapi dirinya juga tidak mungkin meminta lelaki itu secara langsung.
Nakisya memaksakan senyumnya, "Bang Al kok belum pulang?" gadis itu mengulangi pertanyaannya.
Aldi memakai helm nya, "ini juga mau pulang," lelaki itu langsung menstater motornya.
"Ih, gak peka banget sih," teriak gadis itu, saat Aldi begitu saja melewatinya.
Aldi mengulum senyumnya, di lihatnya dari balik kaca spion, gadis itu sedang menghentakan kakinya.
Nakisya begitu kesal, melihat kelakuan lelaki yang akan menjadi suaminya itu, "Bunda harus tau, dia lelaki tega, Bunda!" teriak gadis itu dengan kesal.
"Ngapain teriak-teriak?"
__ADS_1
Nanti aku Up lagi, tapi pengen absen dulu, siapa aja yang Like + Koment + Vote.
Hatur nuhun🤗🤗