
Setiap hari, kesibukan naura selalu di lapangan, meninjau setiap perkembangan proyek yang sedang berjalan. Jika Naura boleh memilih, lebih baik dia bekerja dengan berkas yang menumpuk setiap harinya. Tetapi tetap berada di dalam ruangan yang ber Ac.
Daripada sekarang, kerjaan cuma jalan-jalan, melihat kesana kemari, tapi dibawah terik matahari yang menyengat kulit badannya yang putih. "Seminggu lagi aja gue kayak begini, gosong deh gue," Naura terus menggerutu.
Sebenarnya, Vino hanya mengarang alasan, kalau Naura sebagai pengganti Sandra untuk turun ke lapangan, itu hanya ide konyol yang di dapatnya dari Riko, supaya Aldi tidak bisa selalu menemui Naura.
Riko sekertaris sekaligus sahabatnya itu sudah mengetahui tentang perasaan Vino terhadap Naura, meskipun Vino tidak menceritakannya, namun melihat gerak gerik Vino saat sedang bersama Naura, sudah menjelaskan semuanya. Dan, saat Riko mendesak sahabatnya itu untuk berkata jujur, Vino hanya pasrah menganggukan kepalanya.
Vino dan Naura juga selalu berada di mobil yang sama saat mereka berangkat dari kantor, dan waktu pulang, Cowok itu juga selalu mengantarkannya.
Bahkan keduanya sudah semakin dekat, Naura dan Vino sepakat untuk menghilangkan kata formal menjadi aku, kamu, saat mereka sedang berinteraksi.
Sudah tiga minggu Naura pulang pergi ke lokasi tempat proyek pembangunan. Dan sekarang, merupakan hari terakhir dirinya datang ketempat ini.
Vino yang mendadak ada meeting, menjadikannya tidak bisa datang.
Naura berjalan sendiri, beberapa orang lainnya sedang di tempat yang tidak jauh darinya.
Entah kenapa, hari ini, Naura sangat merasa kelelahan. kepalanya sering mendadak pusing, dan mood nya juga sering berubah ubah.
Naura hanya berpikir, mungkin karena akhir-akhir ini dirinya kurang nafsu makan, dan terlalu kecapekan. Kepala Naura tiba-tiba terasa pusing, tubuhnya terasa seperti melayang, pengelihatanya mulai kabur seperti ada titik titik hitam, tubuhnya mulai kehilangan kesadaran.
Brakk...
Semua orang berlari, saat melihat tubuh Naura yang terjatuh.
Dengan menggunakan mobil kantor, Naura di larikan ke rumah sakit yang berada dekat dengan lokasi proyek. Karyawan lain juga ikut di mobil itu.
Setelah Naura di baringkan di atas brangkar dan di dorong ke ruang IGD, Dokter dengan sigap langsung memeriksa keadaan Naura.
Aldi datang dengan napasnya yang memburu. Sinta yang menghubungi cowok itu, saat melihat panggilan terakhir di handphone Naura.
Dokter berjalan ke arah pintu yang terbuka, "keadaan pasien, baik-baik saja, beliau hanya kecapekan, hal itu wajar terjadi, pada ibu hamil di usia awal kehamilannya."
__ADS_1
Jederrrr....
Bagai petir disiang bolong, Aldi yang mendengarkan pernyataan dokter itu menjadi lemas. Bagaimana mungkin, cewek yang selama ini dia kejar-kejar dengan susah payah, bahkan dirinya tanpa menyentunya sedikitpun, ternyata, sedang mengandung anak seseorang.
Aldi menggelengkan kepalanya, tidak percaya dengan kenyataan ini. Kulit wajahnya yang putih, menjadi merah padam. Aldi mengguncang pundak dokter, "katakan Dok, katakan kalau Dokter bohong, Dokter hanya bercanda kan?"
Dokter laki-laki itu mengerutkan keningnya, merasa aneh dengan respon laki-laki di hadapannya, "saya tidak mungkin bercanda dalam urusan pemeriksaan, lebih baik anda segera menghubungi dokter spesialis Obgyn, untuk pemeriksaan selanjutnya.
***
Naura masuk kedalam rumah kontrakannya, dia mengunci pintu nya. Aldi yang berada di luar terus mengetuk pintu "Ra, buka pintunya, biarin aku masuk."
Aldi mengacak rambutnya, pikirannya masih bercabang, dia mengusap wajahnya dengan kasar. Sudah hampir dua jam dirinya menunggu Naura membuka pintu, tapi pintu itu masih saja tertutup.
Suara tangisan Naura yang keras sampai terdengar ke luar, para tetangga terdengar berbisik, saling menduga tentang hal yang terjadi sama Naura.
"Ra, aku mohon, buka pintunya, aku gak masalah kok sama keadaan kamu yang sekarang, tapi aku mohon, kamu jangan bertindak bodoh yah? aku beri kamu waktu buat sendiri," ujar lelaki itu yang sudah terlihat prustasi. "Aku pulang dulu ya, Ra," imbuh lelaki itu kemudian, yang langsung melangkah pergi dari tempat kontrakan Naura.
Dokter mengatakan, usia kehamilan Naura diperkirakan kurang lebih empat minggu. "Itu berarti-,"
****
Aldi memarkirkan mobilnya dengan sembarang, dia berlari menuju pintu hotel miliknya. Hotel yang satu bulan yang lalu dipakai pesta ulang tahun perusahaan Vino.
"Gue, mau lihat rekaman kejadian waktu itu," Aldi memerintahkan petugas bagian CCTV itu dengan tidak sabar.
"Lo, bisa lebih cepet gak?" Aldi terus menggebrag meja yang ada di depannya.
"Stop, tolong di zoom!"
Mata Aldi membulat, melihat bahwa bukan Naura yang meminum air yang diberikan oleh Aldi. Vino lah yang meminum air yang sudah di campur dengan obat perangsang itu.
Vidio rekaman yang menampilkan semua kegiatan Naura masih terus berputar, menampilkan Naura yang mulai limbung karena pengaruh alkohol. Cewek itu di bopong oleh orang suruhan Aldi menuju kamar.
__ADS_1
Setelah vidio itu menampilkan Aldi yang keluar dari kamar, Mata Aldi membulat, detak jantungnya saling memburu, saat melihat beberapa menit kemudian Vino masuk ke kamar itu.
Aldi memukul kepalanya sendiri, bodohnya dia, saat mengingat dirinya tidak mengunci kembali pintu kamar itu.
layar monitor yang kosong itu menampilkan Vino yang keluar dari kamar, setelah hampir 4 jam cowok itu berada di dalam.
Enggak salah lagi, rahang Aldi terlihat mengeras, "panggil pelayan yang membawa minuman itu," perintah Aldi dengan tegas.
"Plakkk, plakk."
Beberapa kali tamparan yang begitu keras, tanpa ampun di terima oleh pelayan itu. "Kenapa waktu itu elo salah memberikan minuman?" tanya lelaki itu dengan wajah bengis, seolah hendak menelan pelayannya hidup-hidup.
Dengan wajah yang ketakutan, pelayan cowok yang usianya tidak berbeda jauh darinya, mengangkat wajahnya, "ma,, maaf Pak, waktu itu, saya bingung, karena terlalu banyak orang, dan saya hanya mengira itu memang untuk Pak Vino," jawab lelaki itu yang berusaha membela dirinya.
Plak.
Aldi kembali melanjutkan tamparannya "4n7Ing!" erang lelaki itu, yang semakin membuat suasana di ruangan itu semakin mencekam.
Di vidio itu memang menampilkan posisi Vino yang berada di belakang Naura, tapi bodohnya, saat pelayan itu masih terlihat bingung, dia tidak menanyakannya kembali.
Nasi sudah menjadi bubur.
Tinggal pakai kecap, kacang goreng, ati goreng, suwiran ayam, taburan seledri, sama bawang goreng, mantapppp, jan lupa pake sambel, yang banyak ya bangg..
Eeh, enggadeng, becanda๐๐๐
Gimana menurut kalian tentang part ini??
Like, koment nya, tetep ya gaess
Vote nya, jan kasih kendor ya..
Salam... Semangat
__ADS_1