Tiba-tiba Hamil

Tiba-tiba Hamil
60


__ADS_3

Setelah beberapa jam yang lalu suaminya berangkat ke kantor, kini Naura merasa kesepian. Tiba-tiba pikirannya teringat pada kedua orang tuanya.


Dengan cepat, Naura mengambil ponselnya, dan mencari kontak ibunya. Seolah tanpa menunggu lama, seseorang disana dengan cepat mengangkat panggilannya, "hallo, Bu. Apa Ibu sudah sampai?"


Naura bernapas lega, saat mendengar kabar dari ibunya yang mengatakan bahwa beberapa menit lagi mereka akan sampai.


****


The whispers in the morning


bisikan-bisikan di pagi hari


Keduanya saling terdiam saat lagu yang pernah menjadi lagu favorit mereka di putar oleh supir Rainald.


Of lovers sleeping tight


dari tidur nyenyak para pecinta


Are rolling by like thunder now


Mereka bergerak seperti petir


As I look in your eyes


ketika aku melihat matamu


I hold on to your whole body


aku berpegang pada seluruh tubuhmu


And feel each move you make


dan merasakan setiap gerak yang kau lakukan


Your voice is warm and tender


Suaramu hangat dan lembut


A love that I could not forsake


sebuah cinta yang tak bisa aku tinggalkan


'Cause I'm your lady


karena aku adalah kekasihmu


And you are my man


Dan kau adalah kekasihku


Whenever you reach for me


Kau bisa menghubungiku kapan saja


I'll do all that I can


Akan lakukan semampuku


Lost is how I'm feeling lying in your arms


kehilangan itu bagaimana perasaanku saat aku bersandar pada lenganmu


When the world outside's too much to take


Ketika sudah tak mampu menghadapi dunia luar(kehidupan)


That all ends when I'm with you

__ADS_1


Itu semua berakhir saat diriku bersamamu


Even though there may be times


Meskipun ada saat dimana


It seems I'm far away


Ini membuat diriku seperti berada sangat jauh


Never wonder where I am


Tidak pernah membayangkan dimana diriku berada


'Cause I am always by your side


Karena diriku selalu berada disisimu


'Cause I'm your lady


Karena aku adalah kekasihmu


And you are my man


Dan kau adalah kekasihku


Whenever you reach for me


Kau bisa menghubungiku kapan saja


I'll do all that I can


Akan lakukan semampuku


We're heading for something


Somewhere I've never been


Di suatu tempat yang belum pernah kupijak


Sometimes I am frightened


Kadang- kadang aku ketakutan


But I'm ready to learn


Tapi aku siap untuk belajar


Of the power of love


Dari kekuatan cinta


The sound of your heart beating


Suara detak jantungmu


Made it clear suddenly


Membuat hal ini tiba-tiba menjadi jelas


The feeling that I can't go on


Tentang perasaan yang tidak bisa aku lanjutkan


Is light years away


adalah ratusan tahun jauhnya

__ADS_1


Lagu berhenti, bertepatan dengan Naumi yang menyuruh sopir Rainald untuk menghentikan mobilnya, karena mereka sudah sampai di depan rumahnya.


Tepat pukul 10.01 mereka sampai di depan rumah Naumi, Rainald turun dari mobil, mengedarkan pandangannya, melihat keadaan sekeliling rumah mantan istrinya, "dari dulu kamu tinggal disini?"


Naumi mengangguk sebagai jawaban, "mari silakan masuk," ajaknya setelah membuka pintu rumah.


Rainald memutar tubuhnya, mencari keberadaan sang supir, "Mang sini dulu," ajaknya yang mendapat penolakan dari supirnya, yang katanya akan mencari bensin dulu.


Rainald melangkahkan kakinya, mengikuti tubuh Naumi. Pria itu menghentikan langkahnya, saat melihat beberapa photo yang terpajang di dinding, "terlihat tiga orang anak perempuan yang sedang bermain di taman, Rainald dapat menebak, anak yang paling besar ialah photo Naura.


Kemudian pandangannya tertuju pada photo seorang pria yang sedang menggendong bayi, "ini siapa?" tanyanya pada Naumi yang baru datang dari arah dapur.


"Itu Naura, sama Mas Hasan," katanya sambil menaruh nampan ke atas meja.


Rainald mengangguk, matanya terus menatap photo itu, "kayaknya Hasan baik ya sama Naura."


Naumi memalingkan wajahnya, pada photo besar yang memperlihatkan dirinya dengan Hasan dan juga ketiga anaknya, "dia memang sosok ayah yang baik, meskipun Naura bukan anak kandungnya, tapi kasih sayangnya sama seperti pada anak kandungnya sendiri."


Rainald tersenyum, "sayang ya, dia sudah pergi, bahkan aku belum sempat mengucapkan terima kasih kepadanya, karena sudah merawat Naura dengan baik."


Pandangan Naumi nampak kosong, dia teringat dengan sosok mantan suaminya, meskipun dia tidak sepenuhnya dapat memberikan hatinya pada Hasan, tapi Hasan selalu sabar dan selalu menjadi suami yang bertanggung jawab, "Mas Hasan gak perlu ucapan terima kasih, dia pasti ikhlas melakukan itu."


Rainald mengangguk, dirinya sempat tertegun saat mendengar perkataan Naumi, ada rasa sakit dalam hatinya, saat Naumi memuji pria lain.


Rainald mendudukan dirinya di sofa kecil yang juga di duduki Naumi, "kok sepi, pada kemana kedua anak kamu?"


"Kalau jam segini, mereka sudah berangkat ke sekolah," Naumi menyodorkan gelas yang berisi air putih, juga satu piring yang berisi kue, "silahkan di coba, Mas."


Rainald mendongak, menatap mantan istrinya, senyumnya terbit saat mendengar panggilan itu kembali terucap dari mulut mantan istrinya.


Rainald mengambil satu potong kue, dan memasukannya kedalam mulut, "rasanya masih sama ya, enak. Dari dulu kamu memang selalu pintar membuat kue."


Naumi sedikit salah tingkah, saat mendapat pujian dari Rainald, "itu anak-anak kok yang buat," Naumi mencoba berkilah.


Rainald mengangguk, mengulum bibirnya, entah kenapa dirinya selalu menyukai gerak gerik Naumi yang sedang salah tingkah, Rainald dapat melihat semburat merah dari wajah wanita yang sudah mulai berkeriput itu.


Naumi mengalihkan pembicaraannya, untuk menghilangkan rasa gugup pada dirinya, "kamu kenapa belum menikah lagi, Mas?"


Rainald tersenyum menatap Naumi, "saya pernah membuat kesalahan karena sudah meninggalkan seorang wanita, dan ada suatu alasan kenapa saya gak bisa menikah lagi dengan wanita lain."


"Kenapa?" tanya Naumi dengan antusias.


Rainald menatap sendu mata Naumi, "karena hati saya masih tertinggal di hati wanita itu."


Beberapa detik keduanya saling bertatapan, Naumi lebih dulu tersadar dan memutuskan tatapan diantara keduanya.


Rainald berdehem, mencoba mencairkan suasana, "kenapa kalian tidak tinggal di kota saja, biar bisa lebih dekat dengan Naura."


"Anak-anak sekolah disini, akan sulit kalau harus mengurus kepindahan keduanya. Lagian-," Naumi menggantung kalimatnya.


Rainald yang masih antusias mendengarkan kalimat Naumi, menatapnya dengan tatapan sendu, "kenapa?"


Naumi menunduk, ada keraguan yang tersirat dari matanya, "terlalu banyak kenangan indah disana, dan sekarang, sudah tidak ada lagi alasan yang kuat untuk aku tinggal di kota."


Rainald menatapa Naumi, "kalau begitu, jadikan aku sebagai alasan untuk kamu ikut saya kembali tinggal di kota." Pria itu menggenggam tangan Naumi. "Aku masih sayang sama kamu, Naumi. So, please, can we start over again?"


-


-


**Nyang bingung mau ngoment, tulis aja, next..😁


Jempolnya jangan lupa ya, di klik.


Vote, vote, vote..


Terima kasih🤗

__ADS_1


Salam... Semangat**!!


__ADS_2