
Kehamilan Naura yang sekarang sama sekali tidak ada kendala, meskipun di trismester awal wanita itu sering mengalami morning sickness. Tidak seperti kehamilan yang pertama, kali ini Naura juga tidak mengalami ngidam, bahkan Vino sangat sering menanyakan pada istrinya itu, namun Naura tetap menjawab, "aku tidak menginginkan apa-apa."
Naura juga terus menolak saat sang suami mengusulkan untuk membayar jasa baby sitter, namun jawabannya masih sama, "aku gak gampang percaya sama orang, lagian aku juga gak mau orang lain yang mengurus anak kita, aku takut Zia akan lebih dekat dengan orang itu daripada dekat sama aku."
Setiap hari Naura mengurus sendiri bayi perempuan nya, meskipun kadang-kadang sesekali dirinya meminta bantuan pada pembantunya.
Saat ini Naura sedang duduk santai sambil memerhatikan anak perempuannya yang saat ini berusia genap satu tahun. Bayi perempuan yang memiliki paras cantik yang mirip dengan dirinya itu kini sudah bisa berjalan.
"Zia sini, jangan jauh-jauh." Naura memanggil putri kecilnya, saat sang anak terus berjalan menjauh dari tempat Naura duduk, namun Zia, bayi yang selalu ceria itu, malah semakin jauh meninggalkannya.
Perlahan Naura berdiri, kehamilannya yang kini sudah memasuki bulan terakhir, membuat wanita itu susah payah untuk melakukan aktifitas dengan gerakan cepat.
"Aww," wanita itu kembali duduk, saat perutnya tiba-tiba merasakan mules.
"Bibi!" Naura berteriak memanggil asisten rumah tangganya yang kemungkinan sedang berada di dapur.
"Bibi," ulangnya kembali saat wanita paruh baya yang di panggilnya itu tidak juga menampakan batang hidungnya.
"Iya, Nyonya?" seorang wanita paruh baya datang dengan lap yang tersampir di sebelah pundaknya, rupanya pembantunya itu tengah bersih-bersih.
"Tolong jagain Zia," perintah wanita itu yang langsung mendapat anggukan dari pembantunya.
__ADS_1
Naura semakin merasakan panas di bagian punggungnya, sepertinya dirinya akan segera melahirkan. Buku jari wanita itu langsung bergerak lincah menekan benda persegi, mencari kontak sang suami.
Seolah tanpa membiarkannya menunggu lama, seseorang di sebrang sana langsung menerima panggilannya. "Hallo, Sayang."
"Mas, sepertinya aku akan melahirkan," ucap Naura dengan cepat sambil menahan rasa sakit di bagian perut dan punggungnya.
Tanpa berkata lagi, Vino yang kebetulan sedang berada di perjalanan, setelah pulang meeting dengan salah satu klient nya, langsung menginjak pedal gas mobilnya menuju ke arah rumah pria itu.
Vino sudah sampai di depan rumahnya, sambil berlari, pria itu langsung mencari keberadaan istrinya.
"Sayang," teriak lelaki itu sambil mengedarkan pandangannya ke segala arah.
"Aku disini."
Dengan wajah yang terlihat panik, Vino mengusap pelan wajah istrinya yang mulai mengeluarkan keringat. "Ayo kita ke klinik."
Vino langsung mengangkat tubuh istrinya, membawanya menuju mobil. Pria itu kembali berlari menuju kamarnya untuk mengambil tas yang sudah berisi perlengkapan untuk bayinya. Beruntung Naura yang siaga karena sudah pengalaman, wanita itu sudah menyiapkan semuanya, jadi sekarang Vino hanya tinggal menjingjingnya.
"Mas, ketubannya pecah," ucap wanita itu saat mobil yang ditumpanginya terpaksa berhenti karena di hadang lampu merah.
Vino terus melirik ke arah istrinya itu, "sabar ya Sayang," ucap pria itu sambil mengusap pelan perut besar Naura.
__ADS_1
Angka yang tertera di atas lampu itu masih menunjukan sisa tujuh belas detik lagi, sedangkan Vino yang sudah tidak sabar terus menggerutu, "siapa sih yang bikin pengaturan lampunya, lama banget, sekalian aja bikin yang satu jam!"
Waktu masih sisa dua detik, namun Vino sudah menjalankan mobilnya, beruntung didepannya tidak ada kendaraan lain yang menghalanginya.
****
Setelah perjuangannya yang hampir tiga puluh menit, akhirnya Naura berhasil melahirkan anak keduanya yang juga berjenis kelamin perempuan.
Naura menghembuskan napasnya pelan, wanita itu terlihat tersenyum saat mendengar suara bayinya yang menangis dengan kencang.
Bidan membawa bayi itu dan memberikannya pada Vino. "Selamat ya Tuan, bayinya sehat dan sangat cantik sekali," ucap wanita yang tadi membantu persalinan Naura.
Vino yang masih larut dalam kebahagiaan, pria itu langsung mengumandangkan adzan di samping telinga bayinya, dan setelah selesai dirinya langsung memperlihatkan bayi mungil itu pada sang istri.
Naura meneteskan air matanya saat melihat bayi mungil itu, bayi yang memiliki kulit putih, bulu mata yang lentik, dan hidunya yang mancung. "Mirip banget sama Zia ya Mas," ucap wanita itu sambil melirik ke arah suaminya.
Vino mengecup kening Naura. "Terima kasih ya Sayang, kamu sudah memberikan aku dua putri cantik. Aku begitu beruntung memiliki kalian."
Ada yang kangen sama ViRa? jujur aku masih belum move onππ
Untuk cerita Bang Al, di judul baru ya, klik aja profil aku, atau di ketik di pencarian, "Aku Hanya Mencintaimu"
__ADS_1