Tiba-tiba Hamil

Tiba-tiba Hamil
43


__ADS_3

-


-


-


Vino dan Naura sudah sampai di depan klinik. Keduanya sedikit ragu, melihat tulisan close yang terpasang di depan jendela.


"Kalian, anaknya dokter Anita ya?" suara wanita membuat keduanya menoleh.


"Iya, saya Vino" Dengan ragu, Vino menjawab, melangkahkan kakinya menghampiri wanita itu dan menjabat tangannya.


"Saya, dokter Widya." Wanita yang diketahui seorang dokter itu, beralih menjabat tangan Naura.


"Mari, silakan masuk." Wanita itu berjalan, di ikuti Vino dan Naura yang ada di belakangnya.


Setelah memasuki ruangan, Widya tersenyum ke arah Naura. "Baik, kita langsung aja ya ke pemeriksaan."


Naura mengangguk. Perempuan itu berbaring di atas brankar.


"Maaf ya" dokter Widya menyibak sedikit baju yang menutupi perut Naura. Kemudian wanita itu menuang sedikit ultrasonic gel di atas perutnya. dokter Widya menempelkan transduser di atas perut Naura. Sehingga layar monitor yang ada di depan mereka menampilkan rekaman rahim Naura.


Vino terus memperhatikan tampilan monitor "maaf dokter, terus anak saya yang mana?"

__ADS_1


Dokter Widya tersenyum, mengarahkan kursor ke suatu titik "usia kandungannya baru 5 minggu, ini janinnya, baru seukuran biji apel ya. Ukurannya hanya 0,13 inci dari kepala hingga bagian bawah tubuh dan bayi bersiap-siap untuk pertumbuhan yang jauh lebih besar. Bahkan, di minggu depan, ukurannya akan hampir dua kali lipat."


Vino mengangguk paham, mendengarkan penjelasan dokter Widya. Sedangkan Naura. Perempuan itu masih saja terpaku, melihat ada janin yang sedang tumbuh di perutnya. Meskipun pada awalnya Naura tidak mau menerima kehamilannya. Tetapi, setelah kebersamaannya dengan Vino. Naura justru sangat bahagia.


Naura sudah duduk di kursi sebelah Vino. Dokter Widya terlihat sedang menuliskan resep untuk kandungan Naura. "Maaf dokter, apa di usia kandungan yang sekarang," Naura sedikit ragu, melanjutkan pertanyaannya.


Seolah mengerti dengan pertanyaan yang akan di ajukan Naura, dokter Widya tersenyum "maksudnya, jika kalian berhubungan badan?"


Naura tersipu, mendengar perkataan dokter Widya yang vulgar. Dengan malu-malu Naura mengangguk pertanda mengiyakan.


Sedangkan Vino, lelaki itu cukup terlihat santai, dengan wajahnya yang datar. Padahal dalam hatinya, dia mulai mengutuk dokter itu, kalau sampai berkata yang merugikan dirinya.


"Sebenarnya, di trismester pertama ini sebaiknya jangan terlalu sering berhubungan dulu" dokter Widya mulai menjelaskan.


Dokter Widya mengulum senyum, melihat keduanya "tapi, jika dilihat dari keadaan kandungannya yang sehat dan kuat, boleh kok, asal harus dilakukan dengan pelan, dan jangan terlalu sering."


Perkataan terakhir dokter Widya, sukses membuat senyum Vino terbit "siap dokter." Vino melirik Naura, mengedipkan sebelah matanya.


Naura yang merasa kesal, dengan spontan mencubit perut Vino, yang berhasil membuat suaminya itu mengaduh.


****


Vino mencondongkan badannya, memasangkan seat belt untuk Naura. Mobil yang dikemudikan Vino melaju, membelah jalanan ibu kota yang sangat ramai.

__ADS_1


Vino melirik Naura, di ambilnya tangan Naura, kemudian mencium tangan istrinya "mau kemana lagi kita?"


Vino melanjukan kembali mobilnya, saat lampu kembali berwarna hijau.


Tanpa menoleh ke arah Vino, Naura menjawab "aku mau pulang aja."


Vino tersenyum, mengusap pelan kepala istrinya, yang terlihat tidak bersemangat.


Naura yang menyadari mobil Vino yang melaju berlawanan arah, dengan jalan menuju rumah orangtua Vino. langsung menegakan duduknya "loh, kan aku bilang aku mau pulang. Ini mau kemana?" melirik Vino yang masih saja terus melajukan mobilnya.


-


-


-


-


-


**Like, koment, vote dulu, sebelum gulir.


Makasih

__ADS_1


Salam... Semangat****!!!


__ADS_2