
Dengan cepat, Riko langsung menutup pintu mobilnya, dan melajukan kendaraannya, meninggalkan Mela yang masih mematung di tempatnya.
Riko yang sedang melajukan kendaraan dengan kecepatan diatas normal, dengan cepat menginjak pedal rem mobilnya, 30, 29,28, Riko menggerutu, melihat detik pada angka yang ada di bawah lampu itu, "lama banget sih, bisa-bisa gue kena marah sama si bos lakna*," dengan tak sabar, Riko terus mengalihkan perhatiannya pada lampu yang ada di depannya.
3,2,1, Riko langsung menginjak pedal gas mobilnya, hari ini dirinya akan menghadiri pertemuan dengan klien penting. Vino yang beberapa menit lalu menghubunginya, mengatakan tidak akan masuk kerja, dan menyerahkan semuanya pada dirinya, membuat dirinya mengumpati atasannya itu, "kan gue lagi, apa-apa gue yang handle, lama-lama tuh perusahaan gue embat juga, biar nyaho tuh si Vino."
****
Kondisi Aldi saat ini sudah pulih, dirinya sudah pulang ke rumah Arya, karena dokter sudah mengijinkannya. Meskipun, dokter masih menyuruhnya untuk kontrol.
Arya sampai rela tidak berangkat ke kantor, demi menjaga anaknya. "Kamu kenal? sama Rainald?" sorot mata Arya penuh tanya, saat menatap putranya.
Aldi yang sedang duduk di atas sofa besar, mengangkat kedua kakinya ke atas sofa, "maksud Papa, ayahnya Naura?"
Arya yang masih menatap Aldi, menganggukan kepalanya, pertanda iya, "sejauh mana kamu kenal sama mereka?"
Aldi yang merasa heran, dengan pertanyaan papanya, hanya mengerutkan kening, "kalau sama Naura, aku sempat hampir dekat, karena dia perempuan yang sempat Aldi ceritakan sama Papa."
Arya membesarkan bola matanya, saat mendengar kalimat terakhir dari Aldi, "jadi perempuan itu dia?" Arya menghela napas, "bagus deh, kalau kamu gak jadi sama dia."
Aldi menurunkan kedua kakinya, dengan penuh hati-hati Aldi menegakan badannya, menghadap Arya, "emang kenapa? apa Papa kenal sama Naura?"
Arya menggeleng, "Papa gak kenal sama perempuan itu, tapi Papa tau siapa Ayahnya Naura, dan kamu gak usah berurusan lagi sama mereka!"
Aldi membuka mulutnya secelah, hendak menanyakan kenapa. Tapi, Arya sudah lebih dulu melangkahkan kakinya dari ruangan itu, membuat Aldi menghela napas, dan menyimpan pertanyaan besar di kepalanya.
Arya yang sudah masuk ke dalam kamarnya, berjalan ke arah laci kecil yang ada di sebelah ranjangnya. Arya membungkukan tubuhnya saat menarik laci itu.
Arya mengambil satu buat poto pernikahannya, yang sudah terlihat berdebu, karena tidak pernah dia bersihkan "Dina, kamu sudah berhasil menjebak aku, meskipun Aldi bukan darah dagingku, tapi sampai kapanpun, aku tidak akan membiarkan kamu mengambilnya dari aku, bahkan Rainald sekalipun!"
Flashback on
Dina yang sudah mengetahui tentang kabar kebangkrutan Rainald, membuatnya pergi meninggalkan lelaki itu. Tak lama kemudian Dina tertarik dengan sosok Arya, yang tentunya memiliki segalanya.
Dengan segala rayuannya, Dina berhasil membuat Arya takluk dan menikahinya.
Pesta pernikahan digelar dengan begitu mewah, terlihat wajah Dina yang tidak lepas dari senyum bahagianya. Namun, saat malam hari, setelah keduanya berada di dalam kamar pengantin, wajah Dina menjadi gelisah, senyumnya pudar, digantikan dengan sorot mata yang terlihat cemas.
__ADS_1
Arya menatap Dina, "kamu kenapa? tegang banget kayaknya," senyumnya terbit, saat melihat Dina menggelengkan kepalanya.
"Aku akan pelan kok," bisik Arya, yang malah semakin membuat Dina kelabakan.
Arya mencondongkan tubuhnya, perlahan bibirnya menyentuh bibir Dina, menatap kembali wajah cantik perempuan yang sudah berstatus sah sebagai istrinya, "selama ini, aku berusaha bersabar menahannya, karena aku tau kamu perempuan baik-baik, tapi malam ini tak akan aku biarkan sedetikpun, kamu lolos dari aku," Arya berbisik di samping telinga istrinya, membuat pemiliknya merona.
Dina sungguh bahagia mendengar penuturan suaminya, dirinya berharap semuanya akan baik-baik saja, dengan kebahagiaan yang dia harapkan.
Setelah arya memanjakan tubuh istrinya, dengan sentuhan lembut di setiap titik tubuh istrinya. Kini Arya mulai melakukan tujuan utamanya.
Dina memejamkan matanya, saat Arya mulai mendekat dan mengarahkan adik kecilnya.
Tidak ada jeritan yang terdengar dari kamar itu, Arya yang baru saja mengetahui tentang keadaan Dina yang ternyata sudah tidak Virg**, membuat lelaki itu bangun, dan menyambar pakaian yang tadi dia lemparkan.
Arya sudah memakai kembali pakaiannya, "siapa saja yang sudah melakukannya dengan mu!"
Dina menangis dengan selimut tebal yang menutup tubuh polsnya, "maafkan aku, aku mohon, kamu jangan tinggalin aku," Dina yang masih menutup tubuhnya dengan selimut, berusaha berdiri, memohon pada lelaki yang belum sampai satu hari menjadi suaminya.
Dengan keras, Arya mendorong tubuh Dina, sampai tubuh perempuan itu terjatuh di atas ranjang, "kenapa kamu gak mengatakan yang sejujurnya!" Arya menyorot tajam ke arah Dina, "kamu bilang, kamu masih perawan, tapi ternyata, kamu gak lebih dari seorang perempuan rendahan!"
Pernikahannya sudah berjalan beberapa bulan, namun Arya belum juga memaafkan istrinya, bahkan setelah malam itu, Arya tidak pernah sekalipun menyentuh Dina.
Sebenarnya, Arya sudah beberapa kali mengatakan akan menceraikan Dina, namun istrinya itu selalu saja menangis, membuat Arya tidak tega.
Dengan kepala yang menunduk, Dina berjalan ke arah Arya "Arya, aku hamil" air matanya keluar dengan begitu deras. Dia sangat takut dengan segala kemungkinan yang akan dia terima dari suaminya.
Rahang Arya mengeras, tangannya mengepal, "siapa ayahnya!"
Dengan tatapan lurus kedepan, Arya menunggu jawaban dari mulut istrinya.
Dina yang masih menunduk, tidak berani menatap wajah Arya, "Rainald," dengan suara yang begitu lirih, Dina menyebut nama lelaki yang sudah menanam benih di perutnya.
Arya memasukan lengannya kedalam saku celananya, menoleh sekilas pada wajah Dina, "harusnya kamu mengatakan kehamilanmu pada lelaki itu."
Dina berlari, langsung bersujud didepan kaki Arya, memohon agar tidak mengatakan kehamilannya pada Rainald, "jangan, aku mohon, biarkan aku membesarkan anak ini sendirian, meskipun kamu tidak menerimanya, dan aku mohon, kamu jangan ceraikan aku."
Arya bimbang, dirinya memang telah jatuh cinta pada perempuan itu, tapi kenyataan yang dia dapat tentang istrinya, sungguh dia tidak bisa menerimanya.
__ADS_1
Kehamilan Dina semakin besar. Dengan kebaikan seorang Arya, dirinya masih bisa berada di rumah mewah milik suaminya.
Semenjak mengetahui kehamilan Dina, Arya jadi sering pulang larut malam, bahkan sampai berhari-hari tidak pulang kerumahnya.
Sampai pada saat Dina mengatakan dirinya akan melahirkan, Arya masih saja tidak peduli pada istrinya itu. Sekuat tenaga, Dina bersabar dengan kelakuan Arya. Tapi untuk meninggalkan Arya dan kembali pada Rainald, Dina tidak mungkin melakukannya, karena matanya sudah di butakan dengan harta yang dimiliki Arya.
Dina sudah melahirkan seorang anak laki-laki yang begitu tampan dan sehat. Sesekali Arya memperhatikan bayi kecil itu, sampai tumbuh rasa sayang, dan takut kehilangan pada bayi laki-laki yang bukan darah dagingnya.
Arya melangkahkan kakinya menuju box bayi, "oke, aku tak akan pernah mengungkit soal masa lalu kamu, tapi kamu harus berjanji, jangan sampai kamu mengatakan pada lelaki itu, kalau Aldi adalah anaknya."
Dina yang sempat kaget, langsung tersenyum, "memang aku tidak akan mengatakannya, aku gak mau lelaki miskin itu mengambil Aldi, dan merusak semua rencanaku," Dina terus berkata dalam hatinya.
Arya memang bisa menerima Aldi, bahkan tidak ada satu orang pun yang menyangka kalau Aldi bukan darah dagingnya. Bahkan Arya juga tidak menceritakan pada siapapun tentang status Aldi. Namun, untuk menerima kesalahan Dina, sampai kapanpun dirinya tidak bisa.
Arya yang memang lelaki normal, membutuhkan sosok perempuan untuk kebutuhan biologisnya, tapi tidak dari Dina. Arya diam-diam menikah siri dengan perempuan lain.
Flashback off
Arya melempar photo itu ke arah tempat sampah yang ada di ruangannya.
-
-
-
-
-
**Jadi sperti itu gaess. Kalian yang mengira Aldi anaknya Rainald, dapat 100 jempol dari aku, yeeeeee kalian pinter👏👏
Etapi, jan dibilangin sama Aldi ya, kalian mah suut aja, silent, biar jadi urusan Arya itu mh🤫🤫
Hahaha, Vote nya ditunggu ya, aku gak akan maksa minta banyak kok, seiklasnya aja ya😁 Asal harus diatas 3 digit yak😬😉 nggak deng, becanda aku tuh🙈
Salam... Semangat**!!!
__ADS_1