
Senyum Aldi terbit, setelah membaca pesan yang masuk ke ponselnya, "masih di perut aja udah pengertian banget tuh bayi," gumam lelaki itu dalam hati.
Lelaki itu melirik gadis yang sedang duduk di belakang joknya, terlihat gadis itu sedang menekuk wajahnya, dengan helm yang sudah terpasang di kepalanya.
"Kok malah diem sih, jadi beli gak!" tanya gadis itu dengan tangan yang sudah di lipat di atas dadanya.
Aldi langsung menyimpan kembali ponselnya ke dalam saku celana yang di kenakannya, "jadi dong, tapi bukan beli nasi goreng," ujar lelaki itu sambil menstater motornya.
Nakisya membuka mulutnya secelah, hendak mengeluarkan kalimatnya, namun tindakan Aldi yang tiba-tiba menjalankan motornya, membuat gadis itu tersentak.
Kepala keduanya salaling bertubrukan, beruntung keduanya sudah memakai helm, jadi hanya ada suara benturan saja yang terdengar.
Nakisya yang tersentak, tanpa sadar langsung melingkarkan tangannya di pinggang lelaki itu.
Aldi menunduk, melihat tangan putih yang ada di atas perutnya, "kok pegangan? katanya sudah biasa?" sindirnya yang berhasil membuat semburat merah di pipi gadis itu.
Kisya mengerjap gugup, "maaf," ujarnya yang langsung menarik tangannya dan menaruhnya di atas paha.
"Duh kok makin cepat aja sih," Kisya menggigit bibir bawahnya, dirinya merasa takut, mau pegangan malu, tapi dirinya lebih takut dengan keselamatannya, akhirnya Kisya memegang pinggir jas yang di kenakan lelaki itu.
Keduanya sudah melewati beberapa tempat penjual nasi goreng, dan Nakisya sudah menghentikan lelaki itu, namun seolah menulikan telinganya, Aldi terus menjalankan motornya.
Nakisya yang sudah geram, gadis itu tidak segan-segan memukul helm yang di kenakan oleh Aldi.
Aldi mendadak mengerem motornya, lelaki itu menoleh, "kenapa?"
Nakisya mencebik, membungkukan tubuhnya supaya suaranya bisa terdengar oleh lelaki itu, "ini sebenarnya kita mau nyari apa sih?" ujar gadis itu yang mulai kesal.
Aldi menegakan tubuhnya, mau nyari KUA yang masih buka, dimana ya kira-kira?"
Mendengar jawaban seperti itu, membuat Nakisya mendelik kesal, "aku serius Bang Al!"
"Aku lebih serius, Kisya!"
****
Motor keduanya berhenti di depan kedai bakso, "loh kok kita berhenti disini?" tanya gadis itu dengan kening yang terlihat mengerut.
"Tadi Vino ngirim pesan, katanya nyuruh beli bakso aja," ujar lelaki itu yang sudah membuka helmnya.
__ADS_1
Nakisya mengerjap, saat lelaki itu membuka helm yang di kenakan nya, "eh, aku bisa sendiri kok."
Aldi tersenyum, menyimpan helm itu di atas tangki motornya, "yuk," ajaknya dengan tangan yang sudah memegang pergelangan tangan Nakisya.
"Mang, 2 ya di sini, satu lagi di bungkus," pinta lelaki itu pada pelayan yang berdiri di depan meja tempat pesanan.
"Kok malah beli juga sih? kalau Kak Naura nungguin gimana?" tanya gadis itu yang ikut mendudukan tubuhnya di depan Aldi.
Aldi melihat daftar minuman yang ada di meja itu, kepalanya mendongak, menatap gadis yang sedang menanti jawabannya, "gapapa kok, kan yang beli juga mau," jawabnya cengengesan.
Dua mangkuk bakso sudah berada di hadapan keduanya, "minumnya mau apa?" tanya Aldi pada gadis itu.
Nakisya mendongak, "apa aja, terserah Bang Al," jawab gadis itu seolah tanpa minat.
Aldi menghela napas, lelaki itu langsung mengangkat tangannya, dan memesan 2 buah minuman pada pelayan yang barusan menghampirinya.
"Dimakan dong," perintahnya pada gadis yang masih saja diam.
Nakisya melirik sekilas pada mangkuk baksonya, sebenarnya dirinya paling tidak bisa menahan dengan makanan yang menjadi favoritnya itu, namun rasa gengsinya membuat dia sedikit menjaga image nya.
Aldi berdehem, "kamu sudah berapa lama berhubungan dengan pacar kamu?" tanya lelaki itu, meskipun sebenarnya dirinya sangat malas membahas itu, tapi Aldi yakin, dengan pertanyaan seperti itu mood Nakisya akan bersemangat.
"Ukhuk, ukhuk," Aldi yang kaget, langsung tersedak, saat dengan polos, gadis itu menceritakan apa yang di lakukan saat pertemuannya dengan Doni tadi, sebelum sekarang dirinya bersama Aldi.
Tangan Aldi sudah mengepal, matanya yang merah akibat terbatuk, kini hampir meneteskan air mata, saat mendengar kalimat terakhir dari gadis itu.
Panas dari sambal, yang bercampur dengan panas dari hatinya, melebur menjadi satu.
Nakisya dengan sigap, langsung memberikan minum untuk Aldi, mengusap pelan punggung lelaki itu.
"Makanya hati-hati," ujar gadis itu menasihati.
Aldi menatap wajah gadis itu dengan datar, meskipun dirinya yang mendapatkan ciuman pertama gadis itu, tetap saja dirinya begitu tidak rela, kalau gadis itu memberikan ciumannya pada lelaki lain.
Saat ini, Aldi mencoba bersikap biasa saja, karena walau bagaimanapun, Nakisya melakukan itu karena keinginannya, dan dilakukan bersama kekasihnya.
Aldi mengusap bibir gadis itu dengan tisu yang ada di sana, "ada noda saus," ujar lelaki itu berkilah, padahal dirinya sedang menghapus jejak lelaki yang sudah menikmati bibir Nakisya.
"Aw!" gadis itu menepis tangan Aldi, saat merasakan usapan dari lelaki itu sedikit kasar.
__ADS_1
Seolah tersadar, Aldi langsung menjauhkan tangannya, "maaf," ujar lelaki itu dengan sungguh-sungguh, tersirat raut wajah penuh penyeselan.
Melihat Nakisya yang begitu jelas mencintai Doni, membuat Aldi sadar diri, dirinya tidak seharusnya bersikap seperti itu, dan mungkin mulai malam ini, dirinya akan berusaha untuk menjauhi gadis itu, dan tidak lagi mengharapkan sesuatu yang lebih dari gadis itu.
****
Mendengar suara motor yang berhenti di depan rumahnya, dengan cepat Widya keluar dari rumah besarnya, "kalian sudah pulang?" tanya wanita itu dengan senyum yang tak lepas dari wajahnya. Benar kata Aldi, wanita yang sudah berumur itu memang cantik, dan terlihat masih awet muda.
Aldi membalas senyuman wanita itu, dan memberikan keresek yang berisi kotak kue, "maaf ya tante, Kisya pulangnya terlalu malam."
Widya mengambil keresek itu, "gapapa Nak Aldi, lain kali boleh kok kalau mau ajakin Kisya lagi, tapi jangan terlalu malam kaya tadi, biar bisa lebih lama lagi jalan-jalannya, dan ini apa? kenapa repot-repot beliin ini buat tante?"
Aldi mengangguk, "gak repot kok, Tante, tadi itu sekalian lewat, semoga tante suka," ujar lelaki itu yang langsung pamit.
****
Dengan wajah yang terlihat lusuh, Aldi memasuki rumah besar Rainald, "nih buat bibi," lelaki itu memberikan kresek yang berisi bakso yang tadi dia pesan, kepada asisten rumah tangga yang batu saja membukakan pintu untuknya.
"Gimana, sukses gak?" tanya Vino yang sedang duduk di depan televisi. Lelaki itu terlihat sedang memainkan game dibponselnya.
Aldi melangkah menuju Vino, "gue kayaknya nyerah, dan untuk yang kedua kalinya, gue akuin gue gak bisa naklukin gadis yang gue suka," ujar lelaki itu yang kini menyenderkan tubuhnya pada sofa.
Vino terkekeh, "gue lihat sih, pesona lo emang udah luntur, makanya lo udah gak bisa narik perhatian gadis lagi," ujar Vino dengan wajah yang terlihat meledek, membuat lelaki yang ada di sampingnya mendelik dengan sebal ke arahnya.
Pandangan Aldi terlihat lurus kedepan, "gimana menurut lo, kalau gue pakai rencana gue yang kaya waktu itu ke Naura-,"
Belum sampai Aldi menyelesaikan kalimatnya, dengan cepat Vino memotong ucapan lelaki itu, "jangan gila lo, Nakisya masih SMA, lagian kalau iya berhasil. Terus kalau rencana lo gagal lagi kaya dulu, malah nguntungin buat cowok lain, dan nanti Nakisya tiba-tiba hamil, gimana!" ujar Vino menasihati, dan di akhir kalimatnya, lelaki itu tertawa, mengingat dirinya merupakan cowok yang beruntung karena mendapatkan Naura.
"Dengerin gue dulu, ogeb!"
-
-
-
**Episode selanjutnya, bakalan tak bikin sedikit greget. Tapi, Like + Rate + Vote + Koment dulu ya, biar makin semangat akunya.
Terima kasih
__ADS_1
Salam... Semangat🤗🤗**.