
2 bulan sudah berlalu, ardian kini sudah bisa berbicara dan sudah tumbuh menjadi bayi yang sangat lucu, perusahaan kembali stabil karena sekarang papah tama memegang alih.
Setiap akhir pekan mamah dan papah arka pasti menghabiskan waktu bersama cucu satu-satunya. kedua orang tua arka sudah menganggap dinda seperti putrinya sendiri, bahkan mereka mengizinkan dinda untuk menikah lagi, karena umur dinda masih sangat muda 23 tahun, papah tama juga mengetahui bahwa CEO Diamond group menyukai Dinda, tapi dinda selalu menolak.
"Pah dinda mau pergi ke pantai dulu ya, boleh titip ardian sebentar"
"sayang kamu masih memberikan bunga di pantai itu" tanya mamah rita
dinda hanya terdiam, karena memang benar hanya tempat itu lah yang membuat dinda bisa melepas rindu pada arka.
"din apakah tidak sebaiknya kamu lupakan arka dan mencari kebahagian mu lagi"tanya papah tama
"Maaf pah mah dinda masih belum siap untuk menerima lelaki lain" ungkap dinda
"ya sudah kamu hati-hati ya" ucap mamah sambil memeluk dinda.
akhirnya dinda pergi bersama supir menuju pantai
dinda menabur bunganya sambil terus menangis,
visual dinda hari ini
visual arka yang akan menemui dinda
Dinda berteriak memanggil nama arka, tetapi tiba-tiba ada seorang tangan pria melingkar di perut dinda, dinda melihat kejari tangan laki-laki itu dan ada cincin pernikahan mereka di jari tangan laki-laki itu.
__ADS_1
Dinda memutarkan tubuhnya untuk melihat wajah laki-laki yang memeluk dirinya, mereka saling bertatapan, arka tersenyum, Dinda menganggap ini adalah khayalannya, dia merasa bahwa dirinya sekarang memang sudah gila.
"arka jangan pernah tinggalin aku, aku engga masalah walau hanya dalam mimpi seperti ini" ucap dinda sambil membelai lembut pipi suaminya dan menangis terisak-isak.
"saya tidak akan pernah meninggalkan mu sayang, maaf kan aku yang membiarkan mu melewati masa berat mu sendiri, aku-
Belum selesai Arka berbicara, dinda langsung mencium bibir arka, sebelumnya dinda tidak pernah mencium terlebih dahulu , selalu arka yang melakukan, tetapi karena dinda merasa ini adalah mimpi, jadi dinda tidak akan melewatkannya , karena yakin semua mimpi ini pasti akan segera hilang, Arka merasa kaget dan membalas ciuman istrinya dengan lembut, arka menggigit sedikit bibir istrinya agar dinda sadar bahwa ini bukanlah mimpi,
"awww, kenapa ini terasa sakit dan nyata, apa ini bukan mimpi apa ini nyata"
"ya sayang aku masih hidup, ini aku suami mu" jawab Arka
dinda menepuk pipinya dan langsung pingsan.. arka menahan tubuh dinda lalu menggendongnya masuk kedalam mobil,
arka menidurkan kepalanya di atas pahanya, didalam perjalan pulang arka puas memandangi wajah dinda yang menurutnya semakin dewasa dan cantik, sesampainya di rumah, papah dana mamah merasa syok dan kaget memeluk erat tubuh arka, seperti tidak akan melepaskannya lagi. setelah menidurkan dinda dalam kamarnya, arka menceritakan semua kejadiannya kepada kedua orang tuanya, mamah rita membelai pipi arka,, tetapi hasil oprasi itu mulus sekali, arka tidak terlihat seperti korban terbakar.
"pantas saja beny selalu mendekati dinda, ternyata dia sangat menginginkan dinda sampai mencelakai kamu"
"pasti aku tadi pingsan , menyusahkan banget sih kamu din" ucap dinda dalam hati sambil memukul kepalanya.
Pintu terbuka, dinda melihat sosok arka kembali,
"ya tuhan kenapa halusinasi aku semakin nyata" ucap dinda sambil menutup matanya.
bukannya menghilang tetapi arka malah makin mendekat,
"sayang ini nyata kamu tidak sedang mimpi, aku masih hidup dan aku tidak langsung datang karena kaki ku lumpuh saat itu lalu mukaku pun terbakar
mendengar hal itu hati dinda merasa bahagia tetapi juga sedih, karena merasa arka egois , seringkali dinda berfikir untuk bunuh diri bersama bayinya karena putus asa.
__ADS_1
"kamu jahat sayang, kamu egois, aku benci kamu" ucap dinda sambil berderai air mata dan memukul dada bidang arka
Arka memeluk erat dinda, wajar dinda mengatakan hal itu karena dia telah membuat hidup istrinya hampa.
" maafkan aku sayang, aku akan melakukan apapun untuk menebus segala kesalahan ku"
Dinda menangis meraung , merasa marah, bahagia, sakit hati , entalah , yang jelas saat ini dinda hanya ingin meluapkan semuanya.
dinda melepaskan pelukan dari arka, tidak pernah arka melihat ekpresi istrinya semarah ini.
"kamu tau berapa kali aku berfikir untuk bunuh diri bersama anak kita, hanya ingin menyusul kamu, setidaknya kamu bisa memberi kabar bahwa kamu masih hidup dan menyuruhku menunggu, kalau aku berhasil bunuh diri dan mati bersama anak kita, apa yang akan kamu lakukan" ucap dinda dengan terisak-isak dan tak tahu harus bicara apa lagi yang jelas dinda kecewa.
mendengar perkataan adinda arka baru sadar betapa bodohnya dirinya membiarkan keluarga menganggapnya sudah mati.
"sayang aku minta maaf,,, aku bodoh tidak memikirkan perasaan kamu"
"bukan hanya perasaan ku yang mati arka,,, tapi mentalku juga selama 5 bulan ini terganggu km egois arka" dinda berjalan menuju pintu kamar lalu membukanya
"aku mau kamu pergi dari kamar ini atau aku yang pergi dengan ardian dari rumah ini" tegas dinda tanpa melihat wajah arka dengan tangisnya yang masih terasa sesak di dadanya
Arka memandang wajah istrinya yang penuh dengan rasa kecewa. akhirnya arka berjalan keluar mengikuti kemauan istrinya.
"beri aku kesempatan kedua sayang,, kali ini aku akan membiarkan mu tenang"
Dinda tidak menjawab hanya menutup pintu dan membuang nafasnya, lalu berjalan lagi menuju kasur dan membuang tangis di atas bantal
arka kini berada di ruang tengah berasama orang tuanya dan ada sony juga di situ.. arka bermain bersama anaknya , arka juga menceritakan bagaiman dinda mengusir dirinya.
"wajarlah ka seperti itu,,, dinda pasti sangat syock, tidak mudah buat dinda melewati hal itu, dia sedang hamil besar keputus asaan menyelimutinya tapi dia harus melawan, nah sekarang tiba-tiba kamu datang, dinda berfikir kamu sedang mempermainkan perasaannya, bahkan dinda pernah cerita pada mamah, bahwa dia tidak akan menikah seumur hidupnya.
__ADS_1
"iya mah arka memang bodoh, arka hanya memikirkan perasaan arka sendiri.. karena niat arka pun ingin mengetes dinda juga seberapa tulus dinda cinta sama arka, arka selalu mengikuti dinda kemana pun dinda pergi pada saat dinda melahirkan pun arka ada di sana mah, arka pernah tidur bersama dirumah sakit dengan dinda" jawab arka sambil memeluk anaknya.
dinda mendengarkan perkataan arka dari atas" jadi sehari sebelum melahirkan yang saya merasa arka menidurinya itu semua nyata bukan mimpi, dinda menutup matanya kembali masih belum bisa menerima kenyataan yang ada.