True Love (CEO Dingin Jatuh Cinta)

True Love (CEO Dingin Jatuh Cinta)
79. BERJUANG


__ADS_3

Setelah perdebatan ayah Max dan Devan, keluarga walikota Tom harus menelan rasa kecewa, karena Devan lebih memilih meninggalkan semua harta keluarga max dibandingkan harus menikah lagi.


Maria tetap memaksa ayahnya untuk bisa menikah dengan devan, tetapi pa walikota memberikan pengertian agar bisa mulai mencari lelaki lain.


Devan dan Vania mulai mengemasi barangnya, semua kemewahan yang Devan punya harus dia tinggalkan, tetapi Devan masih memiliki tabungan, aset yang dia miliki bisa tetap Devan gunakan, untung nya Devan pernah membeli Mension yang berada jauh dari kota inggris jadi saat ini tidak bingung untuk urusan tempat tinggal, begitu juga mobil, Devan memilikinya karena Perusahaan dia di indonesia cukup berkembang.


"Sayang kamu sudah siap?" tanya Devan


"Sudah, ini semua barang ku udah selesai di kemas" Vania berbicara sambil membuang mukanya dan Devan melihatnya.


"Sayang kamu kenapa? jangan menangis kaya gini" ucap Devan sambil membelai lembut pipi Vania dan menghapus air mata yang mengalir.


"Maaf ya sayang gara-gara aku , kamu harus meninggalkan semua kemewahan yang kamu punya"


"Kamu salah sayang, ini semua memang bukan milik aku, dan aku pun bahagia bisa hidup berdua hmm bertiga malahan nanti sama anak kita, jadi jangan sedih lagi ya" ujar Devan.


"Makasih ya sayang"


"Makasih doang nih?"


Vania mengalungkan kedua tangannya, Devan langsung mencium lembut bibir Vania, lalu turun ke leher, kini tangannya menyentuh lembut ke dua gundukan milik Vania yang semakin pada dan sintal karena sedang mengandung, Vania mulai merasakan getaran di tubuhnya suara kenikmatan pun sudah lolos dari mulutnya.


Devan menjatuhkan tubuh vania di atas kasur, dengan mengambil posisi di atas Devan mulai memasukan miliknya, seluruh tubuh Vania mulai merasakan kenikmatan yang tak bisa di jelaskan artinya, yang jelas jiwa nya serasa melayang ke nirwana. Begitu juga Devan , entah kenapa semakin kesini rasa cinta Devan semakin besar untuk Vania.


Selain tubuh Vania yang selalu memberikan kenikmatan yang luar biasa bagi Devan, Vania juga sebagai istri sangat penurut, dan selalu bisa memberikan hal positif pada Devan.


Akhirnya penyatuan mereka pun berakhir dengan 3 ronde. Vania yang sangat kelelahan pun kini sudah tertidur pulas di pelukan sang suami.


......................


Keesokan harinya Devan dan Vania sedang dalam perjalanan ke mension Devan yang sederhana tetapi cukup untuk memberikan kenyamanan, dan ketenangan karena letaknya yang jauh dari kota dan nuansa nya yang masih desa.


Bekal yang Devan miliki hanya cukup untuk 3 bulan saja, mau tidak sia harus mencari pekerjaan , tetapi posisi rumah nya yang jauh ke kota tidak memungkin untuk Devan melamar ke sebuah perusahaan. Akhirnya Devan dan Vania memutuskan untuk membuka usaha dengan mencoba untuk berkebun dan beternak.


Marvin asisten Devan yang sangat setia, tetap memaksa Devan untuk mengizinkan dia tetap berada di sampingnya, agar bisa tetap membantu dan melindungi bosnya.


Sudah 2 bulan devan mengelola perkebunan ternak sempat gagal tetapi kini Devan memperkerjakan beberapa orang desa untuk mengurus ternak dan kebunnya, dengan kepintaran Devan usaha barunya kini bisa berjalan dengan baik, hasil kebun dan ternak kini bisa mulai di jual.


Devan sangat bersyukur telah membeli mension yang tanahnya sangat luas, sehingga lahannya bisa di manfaatkan untuk usaha.

__ADS_1


"Dev ini minum dulu teh nya, dan aku ada membuat sedikit dessert untuk kamu" ucap Vania


"Terimakasih sayang, ingat kamu jangan sampai kecapean ya"


Vania tersenyum menanggapi ucapan yang hampir sering Devan katakan selama Vania hamil. Kini usia kandungan sudah menginjak umur 5 bulan, Devan ke kota hanya untuk memeriksakan kandungan dan semuanya sangat sehat dan sempurna Devan akan di karunia anak Laki-laki. Di usia yang menginjak 5 bulan membuat perut Vania semakin membesar, Tetapi Devan merasa istrinya makin hari semakin cantik dan sexy.


Kini Devan sedang berbincang dengan Marvin sambil menikmati minuman teh hangat dan dessert yang Vania buat.


" Tuan max terlihat sehat, bahkan sepertinya tuan max mulai bisa menerima keberadaan nyonya Vania, tuan max juga seperti mengirimkan ajudan untuk berjaga di sekitar mension tuan"


"Syukurlah , mungkin ayah sekarang sudah sadar" ucap Devan sambil membuang nafas kasarnya.


"Iya tuan, saya rasa dengan lahirnya penerus anda, saya rasa tuan max akan bisa nerima"


"Saya hanya berharap agar dia sehat saja"


Pukul 1 malem tiba-tiba, ponsel Devan terus berbunyi, membuat Vania terbangun dari tidurnya. Vania mencoba membangun kan suami nya yang sedang tertidur pulas.


"Sayang bangun, ponsel kamu dari tadi, bunyi aku takutnya ada yang penting"


"iya sayang baiklah akau angkat teleponnya dulu" ucap Devan


"Sayang aku berangkat dulu"


"Dev kamu mau kemana?"


"Tuan apa tidak sebaiknya nona vania di bawa dan beristirahat di apartemen saya, karena saya takut ini adalah jebakan" usul marvin


"Astaga marvin kenapa saya tidak berfikir sampai situ" ucap Devan sambil menepuk jidatnya.


Devan buru-buru memakaikan mantel dan shall ke Vania.


"Sayang sebenernya ini ada apa sih, aku bingung" ucap Vania masih menuntut penjelasan.


"Di rumah ayah lagi ada penyerangan, tadi paman Peter memberikan kabar, tapi aku mau nya kamu tenang" Devan mengusap lembut pipi Vania, dan Vania mengangguk mengerti.


Akhirnya Devan dan Vania dengan marvin yang menyetirnya, berangkat menuju kota untuk menyelamatkan sang ayah dari serangan yang di lakukan oleh maria.


Ternyata betul yang di pikirkan Marvin, tidak lama mobil berangkat, sekumpulan orang menggunakan jas hitam masuk ke dalam rumah berniat untuk menculik Vania.

__ADS_1


Maria mendengar kabar Vania tidak ada di rumah membuat dia Murka. karena Maria yakin hanya Vania lah yang akan membuat Devan luluh, apalagi vania sedang mengandung pasti Devan tidak akan rela jika harus kehilangan.


Tetapi dengan seperti ini rencana Maria menjadi gagal.


"Hei apa yang kau katakan pada Devan, aku bilang kan buat dia panik agar dia meninggal kan istrinya, tetapi kenapa dia tetap membawanya" Maria marah hilang kendali dan menembak kaki asisten ayah max yaitu Peter.


Ayah max mencoba menenangkan Maria, tidak mungkin dia membiarkan peter meninggal begitu saja, apalagi dia adalah asisten kepercayaannya sudah bekerja untuknya 30tahun lebih.


"Maria tenanglah, ayah akan memohon ke Devan untuk menikah dengan mu, kita tunggu Devan nya terlebih dahulu, dia akan datang" ucap ayah max karena hanya ini lah yang bisa di lakukan ayah max saat ini, karena anak buah maria ada dimana-mana.


Tak selang lama Marvin dan Devan sampai, di kediaman rumah Max, otomatis mereka bisa masuk setelah dipastikan tidak ada senjata apapun yang mereka bawa.


"Nyonya ini tuan Devan sudah ada"


Devan melihat ke semua arah , mencari ayahnya , dan ternyata ayahnya sedang berusaha untuk menutup luka tembakan yang di kaki peter, agar berhenti pendarahan.


"Dudukan dia di sana dan ikat" perintah Maria pada anak buah nya.


"Maria apa yang kamu buat? kenapa kamu senekat ini?" tanya Devan dengan nada membentak.


"Semua ini aku lakukan karena kamu sayang, kamu tahu dari kecil aku sudah mencintai kamu, kamu ingat pada saat kecil kamu menyelamatkan ku dari arus sungai, saat itulah aku berjanji kalau km akan jadi milikku" ucap Maria menerangkan.


"Aku hanya bisa menganggap mu teman saja tidak lebih" tegas Devan.


Maria seperti tidak mau mendengarkan Devan, dia langsung mendekati Devan dan mencium bibir Devan, tanpa menerima balasan sama sekali dari Devan.


Tapi tiba-tiba terdengarlah suara tembakan dari Luar.


Maria melepaskan ciumannya, lalu berteriak.



Visual Devan di sandra Vania



Visual Maria


__ADS_1


visula Vania


__ADS_2