
Marvin asisten kepercayaan Devan berusaha untuk membuat anak buah yang menangkap Vania mengaku , tetapi rasanya nihil seperti rela mati anak buah itu tidak mau berbicara sama sekali.
Devan yang mengetahui tentang itu sangat marah, akhirnya devan pun menyuruh marvin untuk menghabisi anak buah itu. setidaknya Devan tahu , bahwa di balik ini bukanlah orang biasa.
"Sayang ayo kita makan dulu" ajak Vania yang berjalan menghampiri devan yang sedang berada si balkon.
Devan yang buru-buru mematikan ponselnya tidak ingin vania tahu tentang rencananya. entah mengapa melihat Vania hati Devan terasa lebih tenang, tetapi ketika mengingat bahwa istri cantik nya besok akan pulang bersama orang tuanya tiba-tiba rasa devan merasa tidak siap dan hati nya sangat sakit.
Devan membuka tangannya lebar-lebar agar istri nya bisa masuk kedalam pelukannya.
"Rasanya dengan memelukmu saja , sudah membuat ku kenyang" ucap Devan sambil memeluk Vania dengan erat.
"Jangan terlalu kencang Dev nanti anak kita merasa tidak nyaman" ucap vania sambil mengangkat kepalanya agar bisa memandang wajah suaminya.
"Saya lupa bahwa saat ini saya sedang memeluk 2 orang" balas devan sambil tertawa kecil.
Vania memandang wajah suaminya, vania tahu di balik tawanya itu ada kesedihan yang mendalam.
"Apakah kamu akan baik-baik saja, jika aku pulang ke indonesia?" tanya vania dengan mata yang berkaca-kaca.
"Tidak akan pernah sayang"Devan menghujani banyak ciuman di wajah Vania dengan air mata yang mulai mengalir.
Vania pun terisak di dada bidang devan, disisi lain vania merasa trauma untuk tinggal di negara ini, tapi di sisi lain Vania tidak akan sanggup bila harus meninggalkan suaminya karena wanita hamil perasaannya pasti lebih sensitif.
"Jangan menangis sayang, aku tidak ingin melihat kamu menangis seperti ini" Devan mengangkat wajah Vania agar bisa memandang nya.
"Aku akan berbicara sama orang tua aku,,, bahwa aku tidak akan ikut mereka" balas Vania masih dengan nada bergetar.
__ADS_1
"Kamu serius sayang? tanya Devan untuk memastikan.
Vania hanya mengangguk lalu memeluk devan dengan lebih erat lagi
"Aku akan memastikan kejadian kemaren tidak akan pernah terulang lagi, tetapi aku mohon kamu jangan bekerja lagi ya"
"aku tidak ingin bekerja lagi, aku akan menunggu kamu saja, jika mau keluar" ucap Vania yang suaranya mulai terdengar lebih stabil
"Istri ku memang yang terbaik" ucap Devan sambil langsung menggendong Vania ala bridal style.
Vania hanya bisa menjerit lalu reflek melingkarkan tangannya ke leher Devan.
"Dev turun kan aku, malu kan diliat banyak pelayan"
"Kenapa harus malu, kamu adalah istri ku, dan seperti ini lah aku bersikap"
"ya ampun jadi ingat waktu kita muda ya sayang" ucap dinda sambil melingkarkan tangannya ke Arka.
Vania memukul bahu Devan agar dia segera menurunkannya,lalu devan pun menurunkan Vania secara perlahan.
"aku juga masih sanggup mengangkat kamu seperti itu"balas arka sambil mencium kening nya dinda.
Devan tersenyum melihat mereka yang sangat terlihat romantis padahal sudah tua.
"maaf ya mah yah, vania engga tahu ada ayah dan mamah " jawab vania
"tidak apa-apa sayang , justru mamah sangat bahagia karena kamu mendapatkan suami yang sangat mencintai mu" ucap mamah dinda.
__ADS_1
"ayah ,mah, kita makan bersama" ajak devan dengan sopan dan ramah, berbeda banget dengan awal mereka bertemu, kini devan sudah menganggap orang tua Vania seperti orang tua nya dia sendiri. karena Devan sudah mengetahui apa yang terjadi sebenarnya antara Om Benny alias Rafa.
Mereka pun akhirnya menikmati makan siang mereka, setelah selesai, Vania memulai untuk membuka pembicaraan.
"Yah , Mah, kayanya vania tidak bisa ikut kalian ke indonesia, karena vania sedang hamil, vania merasa tidak akan sanggup melewati kehamilan Vania tanda Devan" ucap vania dengan agak berhati-hati.
"Mamah km semalam pun berbicara hal yang sama, bahwa tidak akan bagi kamu jika sedang hamil hidup terpisah dengan suami km,jadi Ayah tidak masalah, yang penting ayah tidak mau kejadian seperti kemaren itu terjadi lagi. ucap arka dengan nada yang tegas.
"Saya pastikan tidak akan terjadi hal seperti ini lagi yah, maafkan atas kelalaian saya. ucap Devan dengan nada meyakinkan.
"Ya sudah kalau begitu, mungkin Ayah dan mamah sekalian pamit saja,karna besok ayah akan berangkat sangat pagi.
akhirnya Devan pun berpelukan dengan ayah mertuanya itu begitu juga dengan mamah dinda, yang masih terlihat sangat segar di umurnya yang sudah menginjak 50 tahun.
Devan dan Vania pun mengantar kepulangan orang tua vania, sampai depan pintu rumah, karena ayah arka melarang mereka untuk mengantarnya ke hotel, melihat kondisi vania baru sembuh.
setelah ayah arka dan mamah dinda pulang tiba-tiba ponsel Devan berbunyi.
"sayang km duluan ke kamar ya,,, aku mau angkat telepon dulu"
Vania mengangguk, lalu berjalan menuju kamar terlebih dahulu.
"Halo Peter ada apa?" tanya devan
"tuan,,, ayah tuan sudah sadar, dan beliau sangat ingin bertemu dengan tuan"
"Baiklah saya akan segera ke sana"jawab devan lalu segera mematikan telepon, dan langsung berjalan menuju kamarnya
__ADS_1