
Vania berlari membelah kerumuman, dan ada satu laki-laki yang sudah tergeletak dengan wajah yang pucat.
"maaf tolong beri saya jalan, saya dokter" ucap vania kepada para kerumuman.
Vani langsung membuka kemeja laki-laki itu, betul saja ada penggumpalan darah di bagian dadanya, pada saat vania akan mengeluarkan darahnya dengan pisau bedahnya, tiba-tiba ada yang menariknya dari belakang lalu vania sedikit terpental.
"apa yang akan anda lakukan pada bos saya"ucap asisten Devan yang baru saja sampai.
"saya dokter, saya hanya akan memberikan pertolongan pertama, tetapi jika kamu mau bos kamu mati saya akan pergi" vania hendak berdiri, tetapi tangannya ditahan oleh asisten itu.
"maaf atas sikap saya tadi, tolong selamatkan bos saya" ucap marvin sambil menundukkan kepalanya.
sudah tidak ada waktu lagi, vania buru-buru mendekat ke tubuh devan lalu mengeluarkan darah yang menggumpal, lalu memompa kerja jantung devan, dan pertolongan terakhirnya yaitu memberikan nafas buatan, setelah menarik nafas vania langsung menyalurkan oksigen nya ke mulut devan, vania mulai panik karena tidak ada pergerakan sama sekali dari devan, pada saat pemberian nafas ke empat kali, akhirnya devan terbangun dan pas pada waktunya ambulance pun datang.
devan tidak bisa berbuat banyak, yang devan lakukan hanya memandang wajah vania, agar bisa mengingat nya , untuk mengucapkan terimakasih dan memberikan hukuman karena telah berani menyentuh bibirnya.
Devan adalah laki-laki yang sangat dingin, tidak ada wanita yang berani menyentuhnya sama sekali, dan dia pun tidak ingin berurusan dengan yang namanya mahluk wanita,
Dimasukan lah devan kedalam mobil ambulance.
"nyonya apakah anda mau ikut" tanya salah satu petugas ambulance.
"jalan lah dan infokan ke dokter IGD yang akan menanganinya , dia sudah mendapatkan pertolongan pertama, di bagian dadanya.
__ADS_1
"baik nyonya saya permisi"
"apakah anda mau bareng dengan saya, saya lihat rumah sakit itu tempat anda bekerja" marvin menawarkan.
"tidak terimakasih" vania berjalan meninggalkan marvin begitu saja.
***
sesampainya di rumah sakit devan di tangani oleh dokter IGD dan dia meminta dokter laki-laki.
"anda mengalami trauma kecelakaan untung anda mendapatkan pertolongan pertama tepat waktu, jika tidak mungkin anda tidak akan tertolong.
devan menutup matanya, dia sudah berjanji pada dirinya sendiri hanya akan ada satu wanita yang berjasa ya itu almarhum ibunya, yang meninggal pada saat melahirkannya , yang membuat ayahnya menjadi membencinya.
"bos apakah ada luka serius" tanya marvin
devan meninju perut marvin"kenapa kamu membiarkan dokter wanita menyelamatkan aku.
"maaf tuan, tapi jika tidak saya akan kehilangan anda"
devan memijit keningnya" kamu cari informasi tentang dokter itu ke saya"
"baik tuan akan saya laksanakan" ucap marvin lalu pergi meninggal kan davin.
__ADS_1
Vania sampai ke rumah sakit dengan menggunakan bus, vania memang sejak SMP tidak pernah terlalu memperlihatkan kekayaan yang di milikinya.
vania berjalan menuju ruangannya, setiap orang yang bertemu dengannya pasti memberikan hormat, bukan karena jabatannya tetapi karena dia adalah cucu dari pemilik rumah sakit terbaik ini.
kakek gutama sempat memerintahkan vania untuk mengelola rumah sakit, tapi vania menolaknya dan lebih memberikan jabatan direktur kepada profesornya dan menjadi dokter spesialis biasa, tetapi orang tetap saja tidak bisa melepaskan keluarga gutama di dirinya.
vania menyempatkan untuk mampir ke IGD dimana devan di tanganin, untuk mengecek keadaannya, pada saat vania membuka tirai yang menutupi ranjang devan, vania melihat devan sedang tertidur.
"syukurlah dia memang baik-baik" ucap vania yang masih bisa terdengar oleh devan.
pada saat vania akan berbalik badan, tangan vania ditahan oleh devan.
"terimakasih sudah menyelamatkan saya, katakan apa yang kamu inginkan, saya tidak ingin berhutang pada seorang wanita"
vania melepaskan pegangan tangan devan secara perlahan" maaf tuan sudah tugas saya sebagai dokter untuk berusaha menyelamatkan pasien, jadi anda tidak perlu memikirkan bahwa anda telah berhutang pada saya."vania tersenyum lalu meninggalkan devan yang masih mematung.
Sungguh Devan sangat terpaku saat ini, wajah nya yang cantik alami tanpa make up berlebihan, senyumnya membuat jantung devan berdetak kencang, membayangkan bibir indah itulah yang tadi telah menyentuh bibirnya . buru-buru devan menggelengkan bayangannya. merasa dirinya telah gila.
visual vania dan devan
__ADS_1