True Love (CEO Dingin Jatuh Cinta)

True Love (CEO Dingin Jatuh Cinta)
9. DINDA DEMAM


__ADS_3

"Nona dinda apakah anda sudah merasa baikan" tanya sony dengan sedikit mendekat karena mata dinda masih tertutup tapi seperti bergumam.


"Haus,,,haus sekali"


sony dengan sigap mengambil air untuk dinda dan membantu untuk meminumkannya.


"Nona badan anda sangat panas, saya akan memanggil dokter" sony pun memencet tombol agar dokter datang ke ruangan dinda. sambil menunggu dokter sony memutuskan untuk menelpon Arka.


"tuan nona dinda sepertinya tidak bisa pulang hari ini dia mendadak demam" tanpa ada jawaban dari bosnya telepon langsung di matikan." masih bilang belum jatuh cinta,,, mendapat kabar seperti itu saja langsung panik" ucap sony dalam hati sambil berjalan menuju ruang inap dinda.


"Pa sony saya sudah menyuntikan obat demam"


"Baik dok terimakasih" ucap sony.


"Nona dinda saya sudah telepon pa arka dan sepertinya dia akan sampai sebentar lagi"


"Harusnya tidak perlu menelpon tuan arka pa... saya di sini sudah ada dokter dan pasti akan membaik"


"Nona dinda apakah saya boleh meminta sesuatu pada anda?


"Katakan saja pa sony,,, kalau bisa pasti akan saya lakukan" jawab dinda sambil meletakan lengan nya di atas kepala karena merasa pusing.


"Tolong buat tuan Arka mencintai anda nona, dan buatlah pernikahan kalian menjadi pernikahan sungguhan, saya yakin anda bisa membuat tuan saya jatuh cinta" pinta sony dengan tatapan yang sangat serius.


"Apakah boleh pa saya bermimpi sampai sana? saya merasa bahwa tuan tidak akan pernah mencintai saya"


"Maka dari itu nona berusaha lah"


tiba-tiba pintu kamar rawat terbuka, arka pun berjalan menghampiri dinda.


"Apa yang sedang kalian bicarakan" tanya arka sambil memegang kepala dinda.


"Tidak ada tuan,, saya hanya bertanya pa nona apakah dia ingin memakan sesuatu karena nona belum makan"


"Mengapa kamu senang menyusahkan orang lain sih?? tolong belikan makanan son"


sony pun mengangguk dan langsung meninggalkan mereka berdua.


"Kak harusnya tidak perlu repot datang ke sini, besok dinda pasti sudah sembuh ko"


"ya besok kamu memang harus sembuh karena kita kan melakukan photo prewed dan fitting pakaian pernikahan" jawab Arka sambil mengambil kursi agar bisa duduk di samping dinda. dinda pun hanya bisa tersenyum lalu memejamkan matanya yang sangat berat karena efek dari obat demam yang sudah mulai bekerja.


Arka pun memandang wajah dinda yang pucat tapi tidak dengan bibirnya karena warna alami yang berwarna merah ranum itu membuat bibir dinda tetap terlihat berwana dan menggoda, arka pun hanya bisa menelan salivnya mengingat kejadian tadi siang, arka tidak akan mudah untuk melupakan hal itu, karena itu adalah ciuman pertama bagi Arka.


"Tidak aku tidak bisa mencintainya,, aku akan mencari risa dulu baru bisa menentukannya" ucap arka dalam hati. jujur Arka sangat ingin mengakui bahwa dia sudah mulai jatuh cinta terhadap dinda, tapi pikirannya selalu membawa dia kepada ingatan masa kecilnya yang akan menikah dengan clarisa.


"Tuan ini makanannya"


Arka yang sedang melamun sambil memandang wajah dinda pun kaget" sejak kapan km jadi memiliki keahlian datang tiba-tiba sih son"

__ADS_1


"Maaf tuan saya sudah mengetuk pintu tadi"


"Sudah km simpan dulu saja di atas nakas itu, dan pulanglah son tolong periksa beberapa pekerjaan hari ini"


"Baik tuan saya pamit"


Tak lama sony pulang, arka pun membangunkan dinda untuk makan dan menyuapi nya. dinda yang memang merasa sangat lemah menerima suap demi suap yang di berikan arka. dan akhirnya mereka pun tertidur, karena ruang yang di tempati dinda adalah VVIP jadi arka bisa tidur di sofa empuknya.


visual Arka yang sedang menemani dinda



visual dinda yang sedang di rawat



****


"Ka bangunlah, bukan kah kita akan melakukan kegiatan photo prewed hari ini?" sambil menggoyang badan arka.


"Hmmm ,,, kamu seperti mamah aja bangunin saya pagi banget, km pikir tempatnya sudah buka sepagi ini" arka merubah posisi nya dari tertidur menjadi duduk dengan mata yang masih terpejam.


"Saya tau ka... tapi kan aku mau mandi dulu ka , masa aku ke sana pakai baju rumah sakit kaya gini"


Mendengar kata rumah sakit Arka langsung membuka matanya dan memandang wajah dinda, dia baru sadar bahwa dirinya sedang menginap di rumah sakit.


"Kamu sudah beneran sehat"


"Sudah ka dinda udah merasa lebih baik ko"


"Bagus lah ayo kita pulang"


Arka pun beranjak dari tempat duduknya dan menarik tangan dinda langsung menggandeng nya. dinda yang merasa tangan nya di genggam oleh Arka hanya bisa tersenyum dan pipinya merona merah. dinda merasa bahwa sikap Arka kini tidak terlalu dingin. meraka pun sampai di parkiran. dinda merasa sangat bingung kenapa rumah sakit langsung membiarkan nya keluar dengan pakaian rumah sakit dan Arka pun tidak menuju kasir terlebih dahulu.


"Memang menjadi orang kaya itu sangat enak, bebas melakukan apapun" gumam dinda dalam hati.


"Apa yang sedang km pikirkan?"


"Ka apa ga sebaiknya dinda ganti baju dulu?"


"Tidak usah,,, pasti sangat lama" sudah km naiklah ke dalam mobil"


dinda pun mengangguk, lalu membuka pintu belakang mobil.


"Dinda kamu mau duduk dimana? kamu pikir saya supir kamu"


"Maaf ka,,, dinda tidak tau kalau kaka bawa mobil sendiri" sedikit berlari akhirnya dinda pun duduk di samping Arka.


Mobil Arka pun mulai melaju ke apartemennya, perjalanan dari rumah sakit ke apartemennya hanya memakan waktu 30 menit. akhirnya dinda dan arka pun sampai.

__ADS_1


"ini password apartemen ku.. kamu jangan sampai lupa, karena setelah menikah kita akan tinggal di sini"


"baik ka"


Arka merasa dinda adalah gadis sangat penurut, semua perintah Arka tidak pernah dinda menolaknya, tanpa disadari Arka pun tersenyum.


" Ka dimana kamar dinda?"


"Kamar kamu di sebelah sana,,, sudah ada pakaian baru juga,, barang yang dari kosan km pun sudah saya pindahkan ke sana"


"hemmm baiklah" tanpa menunggu Arka dinda langsung masuk kedalam kamarnya, karena dia merasa sudah sangat lengket.


selang 30 menit dinda pun sudah rapih dan terlihat sangat segar. dinda pun keluar kamarnya dan melihat pintu kamar arka masih tertutup, akhirnya dinda berinisiatif menuju dapur dan membuat sarapan, di sana hanya ada roti daging dan telur,, dinda pun membuat roti bakar isi daging lalu telur nya dia buat menjadi omelet, Arka yang mendengar sedikit keributan di dapur dan wangi makanan, arka pun berjalan mendekati dinda


"kamu setiap hari memang seperti ini ya?"


dinda yang merasa kaget dengan suara arka tiba-tiba kehilangan keseimbangannya, dan Arka yang berada di belakangnya reflek menahan tubuh dinda.


"ka arka ko ngagetin sih" dinda pun berdiri dan merapihkan bajunya.


Arka memandang wajah dinda yang terlihat polos, mata arka tertuju pada bibir dinda yang sangat membuatnya candu.


"awas ka arka nanti telor omelet nya gosong ko malah ngelamun di sini sih"


Arka pun menggeserkan tubuhnya , detak jantung arka sangat berdebar kencang karena sudah memikirkan hal yang tidak-tidak.


"Makannya lain kali kamu tuh hati-hati, di tolong bukannya bilang makasih malah ngomel" arka berbicara sambil berjalan menuju kursi bar.


"Makasih ya ka arka,, calon suami aku, dinda tuh tadi bener-bener kaget" jawab dinda sambil menaro roti dan omelet nya di meja tepat depan Arka.


Arka yang mendengar ucapan dinda memanggil calon suami, membuat wajahnya merona arka pun berdehem untuk menetralkan sikapnya


" Sudah pintar menjawab ya kamu sekarang"


"tuh kan dinda salah mulu, ya udah deh dinda diem aja mendingan" jawab dinda sambil duduk bersebrangan dengan Arka dan ekspresi bibirnya sedikit maju ke depan.


"terus aja pasang muka seperti itu, saya akan memberikan kamu hukuman dan memotong uang 5 miliar kamu,, karena di peraturan kontrak jelas kan peraturannya bahwa kamu harus menuruti semua ucapan saya"


dinda yang mendengar ucapan itu pun langsung mengubah ekspresi wajah dengan tersenyum lebar,," jangan dong ka,, nih dinda udah senyum, itukan bekel dinda setelah jadi janda nanti" ucap dinda sambil memakan makanannya


mendengar ucapan dinda tiba-tiba Arka merasa kesal,


" menikah saja belum kenapa dia sudah memikirkan bercerai" kesal Arka dalam hati, Arka pun melempar sendok yang sedang di tangannya sehingga dentingan piring pun terdengar kencang, lalu berdiri dan meninggalkan meja makan"


dinda yang bingung dengan sikap Arka yang tiba-tiba marah dan dingin hanya bisa menggelengkan kepalanya" susah memang kalau dasar nya udah dingin" keluh dinda dalam hati


visual dinda yang sudah mandi tadi pagi


__ADS_1


__ADS_2