True Love (CEO Dingin Jatuh Cinta)

True Love (CEO Dingin Jatuh Cinta)
74. KESEDIHAN DEVAN


__ADS_3

Sudah 3 hari sejak dari operasi, tetapi vania belum juga sadar, setelah operasi selesai devan tidak pernah pergi dari vania, selalu di sampingnya mengucapkan beribu kata maaf dan sayang. Arka dan dinda sangat senang melihat ketulusan devan, walaupun tadinya sangat kecewa karena mengajak vania menikah tanpa izin tetapi arka dan dinda adalah orang tua yang sangat bijak, apalagi setelah tahu alasan devan yang sebenarnya adalah salah paham. arka dan dinda cukup shock saat melihat Rafa yang mereka anggap sudah meninggal sejak 25 tahun yang lalu, Rafa meminta maaf dan menjelaskan bahwa devan adalah keponakan kesayangannya, jadi wajar jika devan ingin membalas dendam karena semua keluarga memang tidak ada yang tahu bahwa dirinya koma, akhirnya kisah masa lalu mereka pun berakhir damai, arka , dinda dan Rafa memutuskan untuk saling memaafkan.


"Dev istirahatlah dulu, biar vania bunda yang jaga, kamu juga harus sehat jika ingin terus menguatkan vania" ucap dinda sambil menepuk pundak devan.


"devan ingin bersama vania saja bun" ucap devan sambil mengelus pipi vania.


"bunda ngerti, tapi apa kamu mau nanti saat vania sadar, kamu jatuh sakit"


"aku tidak akan sakit bu, tapi saya akan berganti pakaian terlebih dahulu, jadi saya titip vania ya bu"

__ADS_1


devan mencium singkat kening vania, dan mencium perut vania, karena kandungan vania pun selamat kini sudah 4 bulan dan selalu di pantau 24 jam oleh dokter kandungannya.


"anak ayah terus sehat ya, ayah tinggal dulu sebentar" ucap devan lalu pergi meninggalkan vania.


dinda membersihkan tubuh dinda, begitu sedih hatinya, dinda berharap vania bisa cepat sadar, dinda benar-benar tidak ingin kehilangan anaknya dan cucunya.


Air mata dinda menetes begitu saja tidak bisa dia tahan lagi.


jari vania tiba-tiba bergerak, lalu mulut vania pun bersuara memanggil nama devan, dinda. buru-buru menekan tombol untuk memanggil dokter, tak lama 3 dokter buru-buru masuk kedalam ruangan vania, devan yang baru kembali karena tadi sempat pergi untuk berganti pakaian pun ikut berlari dan panik karena melihat dokter yang berlari masuk keruangan kamar istrinya, detak jantung devan tidak karuan, sungguh devan tidak mau jika vania pergi meninggalkannya selamanya.

__ADS_1


Devan berlari dan buru-buru membuka pintu kamar rawat vania, Saat melihat vania terduduk semua orang yang di dalam kamar pandangan langsung beralih memandang devan yang diam memaki di ambang pintu. pandangan mata vania dan devan bertemu, vania yang melihat suaminya kini ada di depannya sungguh merasa bahagia, vania pun memberikan senyuman hangat, devan yang melihat senyuman di wajah vania sungguh merasa seperti mimpi, devan perlahan berjalan mendekati vania, devan tidak bisa menahan untuk tidak menangis, air mata nya jatuh begitu saja, devan tidak peduli dengan orang-orang yang ada di sekitarnya yang jelas saat ini devan sangat bahagia, devan memeluk vania dan menghujani banyak ciuman di puncak kepalanya, vania hanya bisa membalas dengan senyuman hangat.


"terimakasih sayang, karena kamu sudah menjadi wanita yang kuat" ucap devan yang masih tidak henti menangis.


dinda dan arka hanya bisa tersenyum bahagia melihat putri yang sangat di sayangi oleh suaminya.


"selamat pak devan,kondisi ibu vania dan bayi yang didalam kandungan sudah normal, tetapi ibu vania masih harus mendapatkan perawatan sekitar 7 hari" dokter mejelaskan


"dev apa tadi dokter bilang, kehamilan aku juga sehat, jadi aku masih hamil" tanya vania dengan wajah penuh harap

__ADS_1


" betul sayang, anak kita ikut berjuang dengan kamu dan dia sangat kuat" jawab devan sambil membelai lembut rambut vania.


Vania mengusap lembut perutnya, menyapa mahluk kecil yang ternyata masih tumbuh di dalam perutnya.


__ADS_2