
Vania meninggalkan surat untuk sang ayah dan bunda, di dalam surat itu vania menjelaskan semuanya. Kini vania dan devan sedang berada di pesawat pribadi devan untuk menuju london, tempat tinggal devan, di sana lah devan tumbuh besar, tetapi di sana semua perusahaan milik ayahnya, kalau bukan karena ayahnya sakit devan sebenernya malas untuk kembali ke inggris.
"kamu sarapan dulu ini"ucap devan memecahkan lamunan vania.
"baiklah" vania pun memakan roti yang di tawarkan oleh devan
"sampai di inggris kita akan langsung menikah"
mendengar hal tersebut vania tersedak,devan pun menawarkan segelas air putih,
"apa tidak terlalu mendadak dev,?" tanya vania dengan wajah yang sangat serius.
"kamu bilang kan tidak mau melakukan jika belum menikah, di inggris sangat lah dingin saya tidak akan sanggup menahan untuk tidak menyentuh kamu" ardian duduk di samping vania, lalu menggenggam tangan vania.
dengan wajah yang merona merah, vania sungguh bingung, karena ini sangat mendadak, dan vania entah harus melakukan apa.
"aku sangat suka melihat pipi mu yang merona seperti ini"devan mencium pipi vania lalu beralih ke bibir merah ranum milik vania, yang kini akan menjadi candunya.
vania yang mendapatkan ciuman mendadak memukul dada devan yang bidang, devan melepaskan ciumannya lalu tersenyum, vani sungguh malu lalu membenamkan wajah di dada bidang devan sambil melingkarkan tangannya ke pinggang devan.
dengan perjalanan yang sangat melelahkan vania dan devan pun akhirnya sampai, ternyata devan benar-benar serius dengan ucapannya, pada saat vania sampai di rumah devan, rumah itu sedang di decor dengan gaya mewah dan elegan.
"tuan nyonya selamat datang"sapa kepala pelayan devan
__ADS_1
"tolong bawakan semua barang saya dan nyonya ke kamar saya"
vania menatap wajah devan untuk menuntut penjelasan"dev ko kita sekamar sih"
"tenang ya sayang, besok kan kita udah menikah jadi kita sekamar aja , toh besoknya kamu udah jadi istri aku"devan menangkup kedua pipi vania gemas.
"aku pikir kamu bercanda dev" dengan nada manja dan tangan yang melingkar di lengan devan vania berbicara.
"sejak kapan saya pernah bercanda, ayo kamu haru istirahat dulu" devan menarik lembut tangan vania agar mengikutinya.
vania tidak menyangka, rumah devan di inggris sangat mewah dan megah seperti istana, banyak para penjaga dan pelayan, sempat bertanya dalam hati apakah devan seorang pangeran, vania lucu membayangkannya.
vania benar-benar di bikin tidak bisa menolak semua perintah devan sama sekali, setelah membersihkan tubuhnya vania merebahkan tubuhnya di ranjang yang luas dan empuk, sangking nyamannya vania pun terlelap dengan damai, vania lupa bahwa dirinya satu kamar dengan devan, dengan menggunakan dres tidur bahan satin, sehingga memamerkan pahanya yang putih dan lekuk tubuhnya secara jelas.
****
Keesokan hari nya devan yang lebih dulu bangun sengaja tidak langsung beranjak dari tempat tidurnya, devan memandangi wajah vania yang hari ini akan sah menjadi istrinya, secara perlahan mata vania terbuka, betapa kagetnya vania pada saat membuka mata sudah ada devan memenuhi penglihatannya.
"dev kamu sedang apa di sini" vania menarik selimutnya hingga menutupi seluruh tubuhnya
"kan saya sudah bilang kemaren kita satu kamar, kenapa kamu menggunakan pakai seperti itu, kamu sengaja mau menggodaku ya" tanya devan
vania langsung membuka selimutnya agar bisa memandang wajah devan" aku lupa, dan tidak ada berniat menggodamu"
__ADS_1
"bangunlah pelayan sudah menunggu kamu"
vania bangun dari ranjang, tetapi ketika akan berdiri devan menarik tangan vania lalu mencium vania.
"nanti ketika sudah menikah, jangan lupa untuk selalu mencium ku setiap bangun tidur"
"baiklah" vania menjawab dengan rona merah di pipinya, tidak menyangka bahwa devan akan semanis ini dan status akan berubah menjadi istri devan.
devan pun melepaskan pelukannya lalu membiarkan para pelayan untuk membawa vania.
"nyonya sangat cantik sekali, kulit nona pun begitu lembut" ucap para pelayan yang sedang membersihkan tubuh vania.
"terimakasih" ucap vania yang sedang menerima pijitan spa dari para pelayan tersebut.
setelah berendam cukup lama vania di antar ke ruangan pakaian untuk memakai gaun pengantin nya, dengan dandan yang tidak terlalu mencolok kini vania sudah berubah menjadi seorang putri.
ada 2 anak kecil menghampiri vania lalu vania di tuntun berjalan untuk menemui devan yang sudah menunggu vania cukup lama.
vania berjalan secara perlahan, devan tersenyum sangat bahagia menyambut vania yang sebentar lagi akan sah menjadi istrinya.
jantung vania berdegup sangat kencang melihat banyaknya tamu yang semua matanya hanya tertuju kepadanya. di genggamnya tangan devan oleh vania, dan devan mulai mengucapkan janji pernikahannya, setelah itu vania tersenyum, menerima cincin di jari manisnya lalu devan pun mencium lembut bibir vania , dan kini vania membalasnya dengan penuh cinta, baru pertama kali devan merasakan balasan yang begitu lembut dari vania, seolah-olah vania kini sudah menyerahkannya dan rasanya begitu berbeda.
__ADS_1