True Love (CEO Dingin Jatuh Cinta)

True Love (CEO Dingin Jatuh Cinta)
63. S2. TERPAKSA PERGI


__ADS_3

Vania mencari kotak P3K untuk mengobati luka yang ada di perut devan, dengan telaten vania membersihkan luka lalu menutupinya dengan perban.


devan hanya memperhatikan wajah cemas vania. tiba-tiba suara devan memecahkan keheningan.


"ayo kita menikah" ucap devan sambil memandang wajah vania.


vania yang sedang menempelkan perban pun tiba-tiba tangannya terhenti, lalu menatap wajah devan" dengan harus meninggalkan kedua orang tuaku, itu tidak mungkin dev, aku pun menyayangi mereka"


"tapi aku tidak bisa menerima mereka" tegas devan.


" tapi apa alasan nya dev, mereka orang tuaku, mereka yang membesarkan saya, apalagi ibu aku pasti sakit, jika harus mengetahui aku tidak akan pulang-pulang"


"mereka telah membunuh kaka sepupu saya"


tiba-tiba barang p3K yang ada dipangkuan vania terjatuh karena kaget.


"itu tidak mungkin dev, kedua orang tua aku penuh dengan cinta jadi tidak mungkin membunuh" vania menutup mulutnya dan tangannya reflek bergetar.

__ADS_1


"vania dengarlah menikahlah denganku, maka aku akan melupakan semua dendam ku, tetapi jika tidak aku akan menghancurkan keluarga mu"


vania menatap devan dengan pandangan yang tajam, vania sangatlah mencintai devan, vania tidak ingin orang yang dia cintai akan saling menyerang, sungguh vania tidak akan sanggup melihatnya, vania akhirnya memutuskan ikut bersama devan, sambil mencari bukti agar devan tidak membenci keluarganya lagi.


"baiklah, aku ikut bersama mu tetapi janji lah untuk tidak menyentuh keluarga ku sama sekali" air mata vania mengalir begitu saja di pipinya.


Devan menghapus air mata vania di pipinya dengan ibu jarinya mengusap lembut pipi vania, dan menarik kepala vania lalu mencium lembut bibirnya, vania hanya bisa membalas ciuman yang devan berikan, melingkarkan kedua tangannya ke pinggang devan. secara perlahan devan mengurai bibirnya.


"aku mencintaimu, besok pagi kita berangkat ke inggris kita akan menikah di sana, untuk sekarang tidur lah"


Vania mengangguk, dan tiba-tiba tubuhnya melayang, devan menggendongnya lalu menidurkan vania diranjangnya, menarik vania untuk tidur dalam pelukannya.


****


Prisa mengamuk di rumah sakit karena ardian tidak kunjung datang, tapi selang 30 menit ardian datang, lalu menghampiri prisa yang sudah di suntikan obat penenang.


"tolong tuan jangan abaikan telepon prisa, tadi dia sudah memecahkan piring lalu mengancam akan memotong nadinya"

__ADS_1


ardian membuang nafas kasar"baiklah, terimakasih sudah menahan prisa"


Ardian mengusap lembut rambut prisa, memikirkan keputusan apa yang harus dia ambil, tetapi ardian sungguh tidak mau pernikahan dengan luna batal, prisa yang merasakan usapan lembut di rambutnya, perlahan bangun langsung tiba-tiba memeluk ardian.


"ardian aku mohon jangan tinggalkan aku" ucap prisa sambil memeluk erat tubuh ardian yang berada di tepi ranjang rumah sakit.


"prisa tenanglah aku sudah di sini"


"ardian berjanjilah kamu tidak akan menikah dengan wanita itu"


"prisa saya mohon jangan seperti ini, kita bisa menjadi teman, saya tidak bisa membatalkan pernikahan saya"


prisa menatap wajah ardian, jika sekarang dia terlalu memaksa ardian takutnya akan benar-benar tidak memperdulikannya lagi, baiklah prisa akan mempunyai rencana agar luna yang meninggalkannya.


"tetap menikahlah ardian, tetapi saya hanya minta tolong temani aku, sampai aku sembuh, aku ingin sembuh, dan entah kenapa jika kami tidak ada di samping aku , mental aku marah dan benci"


"baiklah prisa aku akan menemani kamu sampai kamu sembuh" ardian berjanji

__ADS_1


"terimakasih ardian" prisa membenamkan wajah nya di dada bidang ardian. prisa berjanji dalam hatinya akan merebut ardian kembali lagi padanya.


__ADS_2