True Love (CEO Dingin Jatuh Cinta)

True Love (CEO Dingin Jatuh Cinta)
54. S2. MEMUTUSKAN


__ADS_3

Setelah kejadian pasien meninggal di meja operasinya, Vania memutuskan untuk di kirim kembali ke rumah sakit terpencil di desa B, padahal pihak keluarga sudah meminta maaf kepada vania, tetapi vania tetap menginginkan untuk belajar kembali, arka dan dinda pun sudah melarangnya, karena khawatir dengan vania, tetapi keinginan vania sudah bulat dia akan menghabiskan waktu satu bulan di rumah sakit desa B.


Sebelum berangkat ke desa B , vania menyempatkan untuk mengembalikan kemeja devan, vania menunggu di depan pintu apartemen milik devan, karena tidak memiliki no ponselnya jadi vania hanya bisa menunggu. setelah menunggu 30 menit akhirnya devan pulang juga.


Devan yang sudah melihat vania dari kejauhan, tanpa di sadari bibirnya tersenyum bahagia, akhirnya yang di rindukan datang juga, sebelum mendekati Vania, devan menetralkan dulu ekspresi wajah nya agar terlihat biasa saja.


"sedang apa kamu di sini"


"aku mau mengembalikan kemeja ini" vania menunjukannya dengan wajah yang sedikit cemberut.


melihat Ekspresi itu rasanya devan ingin sekali mencubit pipi vania lalu mencium bibirnya.


"kenapa wajah kamu ditekuk" tanya devan


"kaki ku sangat pegal aku sudah menunggu 30 menit di sini, sudah lah aku pulang dulu"


"tunggu berikan no ponsel kamu" devan menahan tangan vania yang akan melangkah


"Untuk apa" tanya vania


"Kamu harus bertanggung jawab dengan yang kamu lakukan, akhir ini dada saya suka terasa sesak, dan sulit untuk tidur.


vania maju satu langkah, sehingga jarak cukup dekat, langsung menempelkan tangannya di dada bidang devan untuk mengecek keadaan devan. devan yang mendapatkan gerakan mendadak dari vania hanya bisa diam mematung, pada saat tangan vania akan menyentuh tepat di jantungnya buru-buru devan menarik tangan vania dari dadanya, karena tidak ingin di ketahui oleh vania bahwa bunyi jantung nya sedang berdetak hebat akibat disentuh olehnya.


"apa kamu ahlinya untuk tiba-tiba menyentuh"tanya Devan lalu mendekatkan wajahnya dengan wajah Vania hingga hampir tidak ada jarak


"memang dokter harus mengecek tubuh yang sedang merasakan sak-" ucapan vania terhenti ketika bibir devan mencium bibirnya, karena terdorong oleh cleaning service yang sedang membawa pakaian kotor.


"maaf tuan saya tidak sengaja" ucap pegawai cleaning tersebut.

__ADS_1


Mendengar ucapan maaf dari pegawai tersebut, membuat vania dan devan sadar, bahwa bibir mereka sedang menyatu, vania buru-buru melepaskan nya dan mundur satu langkah, vania memberikan kartu nama lalu bergegas pergi tanpa mengucapkan sepatah kata apapun.


Devan tersenyum bahagia, dan mengucapkan terimakasih kepada pegawai tersebut, bahkan memberikan uang fee, lalu masuk kedalam apartemennya.


Setelah Vania mengantar kemeja devan, vania langsung berangkat ke desa B dianter oleh driver sang ayah, didalam mobil vania memegang bibir nya, ini adalah ciuman pertama bagi vania, tapi apakah itu bisa di katakan sebagai ciuman pertama, Vania hanya bisa memukul kepalanya pelan agar tidak berfikir yang aneh-aneh.


***


1 Minggu telah berlalu, dan selama satu minggu juga hanya ada vania di kepala devan, akhirnya devan memutuskan untuk menelpon vania, tetapi no nya di luar jangkauan, dan sungguh semakin membuat devan tidak berhenti memikirkan vania.


"marvin tolong antar saya ke rumah sakit" devan buru-buru keluar dari ruangannya melangkah dengan satu tangan yang di masukan ke dalam saku celananya.


Marvin buru-buru mengikutinya


"apakah bos ada yang sakit"


"ya.. jiwa ku yang sudah sakit, saya memutuskan akan memiliki Vania, saya akan mendapatkannya


Di rumah sakit , devan mendapatkan infomasi bahwa dokter vania sedang di tugaskan di desa B,


"pantas saja ponselnya sulit dihubungi, di desa terpencil seperti itu pasti sulit mendapatkan sinyal" ucap devan dalam hati


"marvin saya akan menyusul ke sana , jadi tolong ajukan cuti saya selama satu bulan" perintah devan


"baiklah tuan"


Selama seminggu di desa B, sungguh membuat tenaga vania habis, pasiennya terkendala oleh jarak, perlu waktu yang lama untuk berpindah mengobati dari pasien satu ke pasien satunya lagi.


Sesampainya devan di rumah sakit desa B , harus menahan juga rasa rindunya, karena vania sedang mengunjungi para pasien. tidak ada cara lain selain menyusul vania, karena tidak bisa di lalui oleh mobil akhirnya devan menggunakan jasa ojek, di perjalanan cuaca tiba-tiba menjadi gelap.

__ADS_1


"pa maaf saya tidak bisa meneruskan perjalanan, karena akan hujan"


"lanjutkan perjalanannya saya akan membayar kamu berapa pun" ucap devan


"maaf pa jalannya sangat berbahaya apabila hujan"


"ya sudah turun kan saya di sini" devan Turun lalu meneruskan mencari vania dengan berjalan kaki.


Dari kejauhan devan melihat vania yang sedang berdiri di samping gudang jerami, dari belakang saja devan sudah bisa mengenali tubuh vania, devan berjalan mendekati vania dan memberikan jas nya ke pundak vania agar tidak kedinginan.


Reflex vania berbalik, melihat wajah devan yang menghampirinya, entah kenapa vania sangat bahagia, tangis yang sedari tadi vania tahan pun akhirnya mengalir.


"kenapa kamu menangis" ucap devan sambil mengusap pipi vania.


vania langsung memeluk devan, melingkarkan tangannya ke pinggang dan menyenderkan kepalanya di dada bidang lalu menangis segukan. devan reflek menyambut pelukan itu, mengusap punggung vania lembut.


"aku takut, terimakasih kamu sudah datang"


Hujan pun turun deras, Vania dan devan duduk di kursi panjang yang tersedia di situ. vania tidak peduli apa tujuan devan berada di desa B, yang jelas vania sangat bersyukur. Vania mengeluh mengantuk , devan pun memberikan pahanya untuk di jadikan bantal.


Devan memperhatikan wajah vania yang pucat, di sentuh lah kening vania oleh devan, dan betul saja, tubuh vania sangat panas.


"Vania bangunlah tubuh kamu sangat panas, jangan membuat ku khawatir" devan menepuk pipi vania dengan lembut.


Vania menunjuk tas nya, lalu meminta obat paracetamol kepada devan. dengan sigap devan mengambilnya nya lalu memasukan obat tersebut ke mulut vania, dan memberikannya minum.


"terimakasih, kamu tidak perlu takut aku hanya kelelahan, jadi izinkan untuk tertidur" ucap vania lalu menggenggam tangan devan.


"baik, tidurlah" jawab devan

__ADS_1




__ADS_2