
Setelah dari rumah Arka , Rafa langsung pulang ke apartemen dinda, Rafa mengangkat tubuh dinda karena sepertinya dinda sangat lelah. lalu di tidurkan lah dinda di atas tempat tidurnya, pada saat rafa akan pergi meninggalkan dinda tiba-tiba dinda menahan tangan Rafa lalu mengigau,
"Arka aku mohon jangan tinggalin aku" ucap dinda sambil meringis dan menggeleng kan kepalanya dengan mata yang terpejam.
Rafa duduk kembali di samping tempat tidurnya, lalu mengusap lembut pipi dinda, dinda tersadar sambil berteriak nama arka, tapi pada saat membuka matanya ternyata Rafa lah yang ada di hadapannya.
"maafkan aku mas, aku sangat sulit untuk melupakan arka, dan mungkin jika kita menikah pun mungkin hanya fisik aku yang akan mas dapet tapi hati aku sulit untuk membukanya mas, lebih baik mas Rafa cari wanita lain saja" ucap dinda dan wajahnya menunduk
"aku akan menerima apapun resikonya din, walaupun harus menunggu sampai tua pun, aku akan tetap berada di sisi km, karena hati aku pun sama sudah sangat sulit untuk melupakan mu" ucap Rafa sambil mengangkat dagu dinda secara perlahan.
Rafa melihat bibir dinda yang merah ranum, ingin sekali rafa menikmati bibir itu lagi, Rafa secara perlahan mendekatkan wajah nya untuk mengetahui apakah dinda akan menolak, tetapi dinda hanya terdiam bahkan memejamkan matanya seperti memberikan Izin , akhirnya Rafa mencium dengan sangat lembut, didalam benak dinda dia merasakan seperti Arka yang sedang menciumnya, tanpa di sadari mereka berdua sudah merasakan sangat panas, Rafa perlahan membuka kancing kemeja dinda satu persatu, lalu mencium leher jenjang dinda yang kini sudah terlihat jelas putih wangi dan mulus,
"mass....
tangan dinda yang melingkar ke leher meremas erat pundak Rafa ketika rafa sedang menikmati 2 gunung milik dinda. dinda takut akan melewati batas akhirnya dinda berusaha menyadarkan Rafa, lalu menutupi tubuh nya yang sudah polos dengan selimut,
"Maaf kan aku ya din, aku tidak bisa menahannya" ucap rafa sambil menarik tubuh dinda agar berada dalam pelukannya dan mengecup puncak kepala dinda.
"apakah aku sudah menyelingkuhi arka mas? tanya dinda sambil menatap wajah Rafa.
__ADS_1
"tidak din, aku yang salah, aku yang memaksa kamu untuk melakukan ini, hasil persidangan kamu hanya tinggal besok, ketika kamu resmi bercerai aku akan mempersiapkan pertunangan kita, dan menikah setelah kamu melahirkan, aku janji tidak akan terulang lagi hal seperti ini"
jelas Rafa agar hati dinda tenang
"aku akan membuat kan mu susu hamil, kamu berpakaian lah"
Rafa melangkahkan kakinya meninggalkan kamar dinda lalu mentup pintunya, dinda memakai pakaiannya kembali,dinda memukul kepala merasa begitu bodoh, pada Saat Rafa melakukan itu dinda benar-benar terbawa suasana. dinda berharap semoga keputusan ini adalah yang terbaik.
dinda sudah berpakaian rapih kembali, Rafa masuk kedalam kamar dengan membawa susu hangat untuk di minum dinda.
"minumlah dan segera beristirahat , besok pagi saya akan menjemput kamu" ucap rafa lalu mencium kepala dinda dan berpamitan.
Rafa membalas dinda dengan senyuman yang hangat, lalu meninggalkan dinda, Rafa takut jika dia berlama-lama lagi tidak akan bisa menahan nafsunya.
Rafa berjalan menuju parkiran, merasakan bahagia dalam dirinya, entah mimpi apa hari ini sehingga dia bisa merasakan tubuh dinda yang selalu di impikannya walau pun belum sepenuhnya.
***
Keesokan paginya dinda bangun lebih awal, seperti biasa Rafa sudah berada di daput meyiapkan sarapan yang sudah di buatkan oleh kepala pelayan di rumahnya,
__ADS_1
"mas kamu udah ada di sini lagi"
"yup,,, ayo kita sarapan"
dinda berjalan menuju meja makan lalu menikmati sarapannya bersama Rafa,
"mas kaya nya perut aku udah mulai keliatan, lebih baik dinda kerja di rumah aja ya, nanti orang kantor nyangkanya dinda hamil sama mas Rafa"
"hahaha bagus dong, justru itu yang aku mau,, hingga nanti pas lahir orang-orang ga akan mempertanyakan lagi itu anak siapa, kamu tidak perlu bekerja lagi pun ga apa-apa din, aku akan bertanggung jawab penuh semua kebutuhan kamu" ucap Rafa sambil memegang tangan dinda
"makasih ya mas, aku ga nyangka mas mau nerima anak aku dan aku gitu aja"
"sama-sama sayang, yu kita berangkat"
"iya mas"
dinda dan rafa berjalan menuju parkiran, tetapi pada saat diloby ada yang memanggilnya memberikan surat yang berisikan keputusan perceraian dinda dan Arka. dinda membukanya lalu membaca hasil putusan, bahwa dinda dan Arka resmi bercerai, tangan dinda yang bergetar langsung di tenangkan oleh Rafa, dinda sudah tau bahwa akan ini hasilnya, tapi entah kenapa setelah resmi bercerai hati dinda belum bisa menerimanya.
Ditempat lain Arka pun menerima surat putusannya, yang di berikan oleh sony, Arka menyuruh sony untuk keluar dari ruangan, dan perlahan membuka isi suratnya, Arka menangis kali ini tidak hanya air mata nya tetapi bersuara seperti ingin melepaskan semua kesakitan dan keputusan bodohnya. rasanya Arka ingin sekali memutar waktu, dan tidak mengusir dinda dari rumahnya.
__ADS_1
sony yang mendengar tangisan tuannya hanya bisa menundukkan kepala merasakan kesakitan yang tuannya rasakan.