True Love (CEO Dingin Jatuh Cinta)

True Love (CEO Dingin Jatuh Cinta)
43. UNDANGAN PERNIKAHAN


__ADS_3



Rafa telah menyebarkan semua undangan pernikahan, ke semua para relasi dan termasuk Arka, di undangan terpampang photo prewedding mereka , terlihat sangat jelas ekspresi kebahagiaan yang terpancar di keduanya, Rafa mengadakan pesta secara besar-besaran seperti pernikahan seorang raja, dulu pada saat arka dan dinda menikah tidak semeriah sekarang, bukannya arka tidak mampu, tetapi pada saat itu arka belum ada cinta dan menganggapnya hanya sebuah pernikahan kontrak.


"mas apa tidak berlebihan pernikahan seperti ini, dan pasti sebagian tamu yang datang tahu bahwa aku adalah mantan istrinya arka," ucap dinda yang kini sedang berada di sebuah restoran mewah


"ini biasa saja sayang, pernikahan kita adalah sekali seumur hidup, dan untuk omongan orang lain saya tidak peduli, yang penting aku yang merasakan kamu tidak seperti yang sudah menikah dan memiliki anak" goda rafa sambil tersenyum


tiba-tiba seorang pelayan yang sedang membawa kopi panas menumpahkan kopinya dan mengenai paha dinda, dinda pun menjerit dan meringis kesakitan, Rafa yang emosi langsung menampar pelayan itu, dinda pun berdiri menahan Rafa yang baru pertama kali melihat calon suaminya itu marah.


"maaf pa saya benar- benar tidak sengaja" ucap pelayan itu dengan kepala yang menunduk tidak berani melihat wajah Rafa


"mas udah ya, nanti juga diobatin pasti sembuh"


"tidak bisa sayang, siapa pun yang berani menyakiti kamu, aku tidak akan diam"

__ADS_1


"saya mohon maaf pa, dan saya pastikan pelayan ini akan saya pecat" ucap sang manager


"tidak usah pa, saya tidak apa-apa" ucap dinda karena tidak tega melihat wajah pelayan itu, satu tamparan dari Rafa sudah cukup menjadi sebuah hukuman.


"biarkan saja din, malahan-" belum selesai rafa berbicara dinda mencium Rafa dengan sangat lembut, belum pernah dinda mencium Rafa duluan, tapi dinda tau bahwa hanya inilah yang bisa meredakan emosi Rafa, setelah merasa tenang, dinda langsung melepaskan ciumannya.


"kalian semu pergi dari sini, beruntung kalian karena istri saya hatinya baik, kalau tidak akan saya buat restoran ini tutup selamanya.


dinda menarik tangan Rafa lalu menyuruhnya duduk kembali, akhirnya pelayan dan manager pun pergi meninggalkan nya dan tak lupa mengucapkan terimakasih, di sebrang sana ada clarisa yang memperhatikan Rafa dan dinda.


"itu tidak seberapa beny, saya akan membuat nyawa dinda hilang selamanya" ucap clarisa dengan tersenyum tipis


Rafa mengecek paha dinda yang tadi tersiram kopi panas, dan benar saja lukanya cukup serius, kulit dinda melepuh dan terlihat sangat jelas di paha dinda yang putih dan mulus


"sayang ayo kita ke dokter sekarang" rafa menarik tangan dinda


"mas aku ga apa-apa , pakai salep juga hilang ko"

__ADS_1


Rafa dan dinda berjalan ke parkiran lalu masuk kedalam mobil, setelah memasang seat belt, rafa menjalan kan mobilnya.


"mas kita pulang aja ya" ucap dinda sambil memegang lengan Rafa


"kita ke dokter kulit dulu, aku tidak mau ada bekas luka sedikit pun" ucap rafa sambil mencium punggung telapak tangan dinda.


dinda hanya bisa tersenyum pasrah.


"bisa kamu lakuin seperti di restoran tadi" ujar Rafa menggoda dinda


"engga mas, aku lakuin itu agar kamu tidak emosi lagi"


"aku paham, tapi jangan lakuin itu lagi ya, kadang kita memang harus bersikap tegas pada seseorang yang melakukan kesalahan, kalau kamu melakukan itu di saat aku sedang seperti itu, lama-lama aku bisa menjadi laki-laki yang lemah" ucap rafa lalu membelai rambut dinda.


"iya mas aku paham, tapi jangan lakuin nya di depan aku ya, aku takut liat kamu marah"


"aku tidak akan pernah marah sama kamu sayang"

__ADS_1


tak terasa akhirnya rafa dan dinda telah sampai di rumah sakit, dan dinda pun melakukan pemeriksaan , dokter memberikan beberapa salep untuk menghilangkan luka nya, setelah selesai rafa dan dinda pun pulang.


__ADS_2