
Devan sengaja menyetir sendiri mobilnya agar bisa berduan saja, devan membawa vania ke london eye, menikmati pemandangan kota london, banyak mata yang memandang iri kepada vania, selain perawakan devan yang tegap dan tinggi, wajah devan yang sangat tampan membuat para wanita selalu ingin melihatnya.
"lain kali kamu pakai topeng kalau sedang di luar" ucap vania dengan wajah cemberut yang di buat-buat.
"hahaha,,, kamu pun sama, apakah kamu tidak melihat semua lelaki selalu ingin melihat wajah mu" devan duduk di samping vania yang sedang merajuk sambil memakan ice cream.
"aku tidak merasa" vania memandang wajah devan.
"di mataku cuman ada kamu, jadi kamu ga usah khawatir, asalkan kamu tahu aja, dulu aku memutuskan untuk tidak memiliki pasangan, entah kenapa setelah bertemu dengan kamu, rasanya sangat ingin memiliki" devan menjelaskan sambil menakup kedua pipi vania lalu melepaskannya kembali.
vania tidak menjawab , hanya menyenderkan kepalanya ke bahu devan.
" aku akan membawa mu ke suatu tempat tapi mata mu harus tertutup" ungkap devan lalu menarik tangan vania, untuk kembali ke mobil.
"kita mau ke mana sayang" vania tersenyum, entah kenapa vania merasa bahwa semenjak menikah devan sangat manis.
devan menutup mata vania lalu mendudukkannya di kursi penumpang, melajukan kembali mobilnya, menuju salah satu rumah sakit yang terkenal di london. sesampai nya di sana devan menuntun vania menuju ruangan direktur Dokter william.
devan membuka penutup mata nya secara perlahan.
"selamat siang nyonya vania"sapa dokter william
__ADS_1
"iya selamat siang dok" vania menjawab sambil menatap bingung wajah devan.
"tadi malam pa devan menelepon saya, bahwa nyonya ingin bekerja di rumah sakit ini, mulai besok anda bisa mulai bekerja" dokter william menjelaskan.
"apakah benar dok, dev aku serius boleh kerja di sini"vania berbicara dengan mata yang berkaca-kaca
"iya sayang mulai besok saya mengizinkan kamu untuk bekerja" devan mengusap lembut puncak kepala vania
" makasih ya dok, makasih sayang, ini kejutan terindah" vania langsung memeluk tubuh devan.
devan tersenyum melihat tingkah vania yang sangat polos.
"terimakasih ya dokter william, kita pamit"
Vania dan devan pun meninggalkan ruangan dokter william. devan melanjutkan liburannya dengan makan malam romantis, vania merasakan sangat bahagia dan lelah, sehingga pada saat perjalan pulang vania tertidur di mobil. devan yang melihat vania sangat lelah akhirnya memutuskan untuk menggendong vania, menidurkannya secara perlahan di atas ranjang.
devan membelai lembut pipi vania, memandang wajah vania yang sudah terlelap, sungguh devan sangat mencintai vania, jika ada level yang lebih dari cinta, maka devan ada di level itu, devan menggantikan pakaian vania dengan baju tidurnya. dan devan pun memilih untuk memeriksa laporan hari ini karena dia tidak masuk kerja. tidak akan ada yang pernah menyangka bahwa devan bersikap sangat manis terhadap vania.
Karena jika dalem pekerjaan devan sangat dingin , tegas, dan jarang sekali tersenyum. setelah memeriksa laporan di email devan yang kini sudah segar , langsung membaringkan tubuhnya di samping vania, dan menarik vania agar berada pelukannya.
****
__ADS_1
Di kota M luna yang merasa dirinya sudah segar berniat untuk jalan-jalan menghirup udara pagi di sekita hotel. udara di kota M sangat dingin dan memiliki pemandangan yang sangat indah, tiba-tiba luna merasa sangat sedih membayangkan bagaiman dia akan hidup bersama anaknya, membesarkan anaknya tanpa sosok suami, tidak terasa air mata pun mengalir, sungguh luna sangat merindukan ardian dan mencintainya. sudah tidak bisa menahan kesedihannya akhirnya luna memilih menangis mengeluarkan rasa sesak di dadanya, memandangi photo kenangan nya bersama ardian.
"Kamu pikir akan sanggup meninggalkanku" ucap ardian yang berdiri tepat di belakang luna.
suara bariton dan tegas, luna sangat hafal sekali dengan suara itu. buru-buru luna menoleh ke belakang sambil mengusap air mata di pipinya, tetapi isak tangis masih terdengar.
"ardian bagaimana kamu bisa di sini"ucap luna dengan wajah yang terlihat sangat kaget.
ardian menarik pinggang luna" kamu harus di berikan hukuman karena berani kabur dari acara pernikahan kita"
luna memandang wajah ardian dengan mata-mata yang berkaca-kaca" bukankah prisa sudah kembali, aku tidak pantas berada di tempat itu"
"yang berhak menentukan pantas dan tidak pantas itu hanya saya, dan kamu ada wanita yang paling pantas di sana" ardian mengusap lembut air mata di pipi luna lalu mencium lembut bibir luna yang sangat dia rindukan.
"Jangan pernah pergi lagi seperti ini, kamu tahu saya bisa hancur jika saja saya tidak berhasil menemukan kamu dan anak kita" ucap ardian sambil mengelus perut luna.
luna menangis lalu memeluk ardian"bagaiman kamu bisa tahu, aku sangat mencintai kamu ardian, aku pun sangat takut"
"berjanjilah jangan pernah melakukan hal seperti ini lagi" ucap ardian lalu mengeratkan pelukannya.
__ADS_1