True Love (CEO Dingin Jatuh Cinta)

True Love (CEO Dingin Jatuh Cinta)
57. S2. KABAR MENDADAK


__ADS_3

Di desa B Devan menemani Vania melakukan praktek memeriksa para lansia, Devan memperhatikan vania yang sedang serius menangani pasiennya, sungguh tuhan menciptakan vania dengan sangat sempurna.


Devan berjalan menghampiri vania yang sedang sibuk mencatat,


"apakah semua nya sudah selesai" ucap devan sambil memijit pundak vania


"ya sudah selesai,, ko pijitannya enak banget ya" vania tersenyum menatap wajah devan yang kini tepat berada di atas kepalanya.


devan mencubit hidung vania gemas" jangan pernah tersenyum seperti itu pada lelaki lain"


"masa aku ga boleh senyum, nanti aku di bilang dokter jutek lagi"


"ya ga apa-apa dong, udah siang kita makan"


"baiklah"


devan dan vania memutuskan untuk mencari tempat makan yang tidak jauh dari tempat praktek vania. dan tiba lah meraka di salah satu rumah makan. devan menarik kursi untuk mempersilahkan duduk.


"kenapa kamu bisa tiba-tiba mencintai saya, ini bukan karena saya sudah menyelamatkan kamu kan" tanya vania


"tidak sama sekali, aku mencintai kamu tidak ada alasan, saya pun tidak tau apa alasannya yang jelas di kepala saya hanya kamu, rindu kalau jauh, cemburu jika kamu bersama lelaki lain" jawab devan cepat


mendengar ucapan devan, vania hanya bisa tersenyum.


makanan yang mereka pesan akhirnya datang, kini devan dan vania menikmati makan siangnya. setelah mereka menghabiskannya makan siangnya, vania dan devan memutuskan untuk bermain di tepi sungai terlebih dahulu, karena di desa B sungai itu sangat terkenal bersih dan segar airnya. belum pemandangan yang indah karena berada di bawah kaki gunung. sambil berjalan menuju sungai mereka pun saling berbicara.

__ADS_1


"apakah besok kita sudah bisa pulang" tanya devan


"iya hari ini aku terakhir praktek"


devan menghentikan langkahnya agar bisa melihat sorot mata vania yang sedih, devan tau pasti vania masih takut untuk melakukan operasi, dan jika kembali ke kota J vania pasti mendapat jadwal tersebut.


devan menarik tubuh vania lalu memeluknya, vania yang sudah merasa sesak di dadanya, akhirnya sudah tidak bisa menahannya lagi. vania pun menangis.


"aku yang salah dev, harus nya sebagai dokter aku tidak boleh seperti itu"


devan mengelus lembut punggung vania, agar vania tenang.


"aku mengerti, tetapi menyalahkan diri sendiri seperti ini hanya akan membuat kamu semakin rapuh"


vania melepaskan pelukannya agar bisa melihat wajah devan.


"aku yang harusnya berterimakasih"


devan membelai lembut pipi vania, setelah itu mencium bibir vania singkat.


"jadi bisakah kita pulang sekarang"


vania mengangguk dengan pipi merona, membuat devan semakin gemas, dengan umur devan yang sudah di 30 tahun, devan berniat untuk secepatnya menikahi vania, setelah pulang dari desa devan merencanakan akan melamar vania.


kini vania dan devan sudah berada di dalam mobil, untuk menuju bandara. di dalam perjalanan devan membiarkan vania untuk tertidur dengan paha devan menjadi bantalannya.

__ADS_1


"tuan dev ada yang mau saya sampaikan, saya sudah mengirimnya ke email anda" ucap marvin yang duduk tepat di samping supir.


devan langsung mengecek email nya, dan langsung terpampang photo vania dengan lengkap profilnya, di situ tertera nama lengkap KAVANIA ADINDA GUTAMA, putri kedua dari Arka gutama. devan sangat terpaku, seperti terkena sambaran petir. devan memandang wajah vania yang begitu tenang tertidur di atas pahanya bahkan vania menggenggam erat tangan devan.


"saya memberi tahu kabar mendadak ini karena saya tidak mau tuan mengetahui nanti, tetapi saya harap tuan bisa berfikir bijak, nona vania dia tidak tahu apa-apa tuan jadi -


sebelum marvin menyelesaikan ucapannya devan memotongnya.


"sama saja marvin saya berjanji akan membalas dendam atas kematian kaka sepupu saya beny" tegas devan dengan ekspresi yang kembali dingin.


devan memandang wajah vania kembali, bertanya pada hati apakah bisa dia meninggalkan vania dan menyakitinya. tiba-tiba dada devan merasa sesak, devan meninggal kan vania di dalam mobil dan akan melanjutkan perjalanan pesawat tanpa vania, keputusan devan sudah bulat, devan tidak akan melanggar janji kepada dirinya sendiri untuk membalas dendam terhadap keluarga gutama.


"nona vania bangunlah" ucap marvin


vania membuka matanya secara perlahan melihat kesekitar dan tidak menemukan devan"marvin, kemana devan?"


"tuan devan akan melanjutkan untuk perjalanan bisnis, ini tiket pesawat nona vania"


vania kaget mengapa sangat mendadak, dan kenapa devan tidak pamit terlebih dahulu, tidak ingin berfikir negatif terhadap pacarnya yang sudah bersama selama 1bulan, vania langsung mengambil tiket dari tangan marvin.


"baiklah terimakasih marvin" vania mengambil tiketnya lalu keluar dari mobil dan berjalan kedalam bandara dengan membawa kopernya.


didalam ruangan VIP devan memperhatikan vania yang sedang berjalan, di dalam hatinya devan paling dalam terasa sangat sakit, bahkan devan rasanya ingin sekali memeluk vania, tetapi pikiran devan menepis dan sebelum vania melihatnya devan pun masuk kedalam jet pribadi nya, sedangkan vania menaiki pesawat komersil.


__ADS_1



__ADS_2